Oleh: Syarifuddin Abé
“Rasa humor dalam sebuah komunitas masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi dihadapan semua kepahitan dan kesengsaraan yang dialaminya” (Gus Dur)
Tulisan Gus Dur (nama panggilan KH. Abdurrahman Wahid, Mantan Ketua PBNU dan Presiden RI ke-4) di atas, terdapat dalam sebuah “Kata Pengantar” buku berjudul Mati Ketawa Cara Rusia, yang dieditori oleh Z. Dolgopolova. Buku tersebut mengisahkan tentang lelucon-lelucon orang Rusia dan lelucon-lelucon itu merupakan lelucon yang berasal dari tiga sahabat si penyunting; Z. Dolgopolova. Betapa si penyunting terkesan dengan lelucon-lelucon sahabat-sahabatnya itu dan itu menunjukkan jati diri dari sebuah bangsa, dalam hal ini Uni Soviet, sebelum negara itu berubah menjadi Rusia.
Harus diakui juga bahwa, setiap bangsa tentu memiliki rasa humornya sendiri. Betapa seriusnya suatu bangsa tentu saja memiliki rasa humornya juga. Humor-humor itu cukup diwakili oleh orang-orang tertentu yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Tentunya juga, humor-humor yang dihasilkan oleh suatu anak bangsa, pasti mewakili rasa akan humor pada suatu bangsa di mana mereka mendiaminya, mewakili politik, budaya, sosial dan sebagainya. Banyak yang menyangka bahwa bangsa Rusia dengan sejarah panjang pembentukan negaranya, merupakan bangsa yang kurang memiliki rasa humor, terlalu serius, tawar, kaku dan sebagainya. Dibalik itu semua dalam kehidupan mereka tersimpan hal-hal yang membuat kita tersenyum dan tertawa.
Bangsa Rusia adalah bangsa yang memiliki keragaman etnis, budaya dan sejarah, di antaranya Tatar, Bashkir dan Chechnya. Merupakan bangsa yang berasal dari pecahan Uni Soviet dan merupakan keturunan bangsa Slavia Timur yang berasal dari Eropa Timur dari daerah Rawa Pinsk, kemudian membentuk populasi dan budaya, terutama sekali berpusat di Rus’ Kiev. Bangsa Rusia juga dipengaruhi oleh Bangsa Viking yang secara khusus membentuk negara Rusia, yang dikenal dengan Rus Kie.
Sebagaimana dilansir oleh Sindonews.com, sejak invansi yang dilakukan oleh bangsa Mongol tahun 862 Masehi, kemudian rezim Tsar yang dikenal juga sebagai dinasti Romanov tahun 1613, dinasti ini terbentuk setelah beberapa tahun terjadi kerusuhan, kelaparan, perang dan invasi. Dinasti ini memerintah Rusia hingga tiga abad lamanya. Selanjutnya lahir era Lenin, Bolshevik serta kebangkitan Uni Soviet pada 6-7 November 1917. Revolusi Rusia dilandasi dengan kekerasan yang kemudian berakhirnya dinasti Romanov dan Pemerintahan Kekaisaran Rusia.
Ketika Bolshevik dipimpin oleh Vladimir Lenin dan Lenin mengambil alih kekuasaan yang pada akhirnya menjadi Partai Komunis Uni Soviet. Pada akhir tahun itu juga terjadi perang saudara dan tentara merah yang dipimpin oleh Lenin kemudian mengklaim menang menyebabkan lahir dan berdirinya Uni Soviet. Lenin kemudian berkuasa hingga kematiannya tahun 1924. Kekuasannya diganti oleh Joseph Stalin yang kemudian dikenal dengan kediktatorannya, berhasil mejadikan Uni Soviet dari masyarakat petani menjadi kekuatan militer dan industri. Stalin dikenal dengan pemerintahan totaliter dan melakukan pembersihan para oposisi, sedikitnya 750 ribu orang tewas demi ambisi kekuasaannya. Stalin meninggal tahun 1953 karena menderita penyakit stroke.
Pada 11 Maret 1985, Mikhail Gorbachev memperkenalkan reformasi dan sejak Gorbachev terpilih sebagai Sekjend Partai Komunis, secara efektif juga Gorbachev menjadi pemimpin Uni Soviet. Baru pada tahun 1990, Gorbachev secara sah terpilih dan menjadi presiden Uni Soviet sekaligus juga pada tahun yang sama memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian karena dianggap sebagai orang yang mampu mengakhiri Perang Dingin dengan damai. Tahun 1991, tepatnya tanggal 12 Juni, Boris Yeltsin menang dalam pemilihan presiden menggantikan Gorbachev dan menjadi presiden pertama Rusia, sekaligus juga menggantikan pemerintahan Rusia menjadi pemerintahan demokrasi. Pada 25 Desember 1991, setelah kudeta Partai Komunis gagal, Uni Soviet dibubarkan oleh Gorbachev.
Pada pemilihan ulang presiden Rusia tahun 1996, Yeltsin terpilih kembali namun pada tahun 1999 ia mengundurkan diri dan mantan agen KGB Vladimir Putin pada waktu itu menjabat sebagai Perdana Mentri, ditunjuk sebagai pejabat presiden. Pada tanggal 26 Maret 2000 terpilih secara legal, demikian juga tahun 2004 secara telak terpilih kembali sebagai presiden Rusia. Tahun 2008 anak didik yang setia Putin, Dmitry Medvedev menggantikannya sebagai presiden. Tahun 2012, Putin kembali memimpin Rusia dan sebelum masa jabatannya berakhir, tanggal 1 Juli 2020 Rusia mengadakan referendum dan manyoritas masyarakat Rusia mendukung perubahan konstitusi, hal ini memungkinkan Putin dapat menjabat sebagai presiden Rusia hingga tahun 2036. Putin boleh dikata sebagai pemimpin yang kuat Rusia, berbagai tantangan dan tuduhan dapat ia lewati dengan strategi dan taktik yang lihai, termasuk berbagai permasalahan dalam dan luar negeri dapat dihadapinya.
Kembali kepada persoalan humor; humor adalah sesuatu yang penting. Suatu masyarakat sebagai komunitas yang terkecil hingga negara yang merupakan komunitas yang besar, humor menjadi sebuah strategi dalam menjawab berbagai hal dan permasalahan. Uni Soviet adalah negara dengan system sosialis, menekan kesetaraan, membatasi kebebasan individu dalam pergaulan hidup mereka dipengaruhi ideologi komunis, penuh propaganda dan memiliki control Negara yang amat ketat, secara khusus pada masa pemerintahan Stallin. Mungkin inilah Uni Soviet dianggap negara yang kaku dan penuh tekanan. Masyarakatnya harus patuh dan menurut terhadap semua peraturan yang dibuat negara, semua kegiatan dari olah raga hingga budaya semua di bawah kontrol dan disponsori negara. Masyarakat selalu dalam tekanan dan tidak boleh ada perbedaan pendapat. Maka menjadi wajar bila dikatakan bahwa humor pada sebuah bangsa menunjukkan ketahanan dari berbagai kepahitan dan kesengsaraan yang dialami oleh bangsa itu.
Humor dengan sendirinya dapat lahir dan tercipta dari sebuah keadaan sulit dan genting, sehingga humor menjadi seperti sebuah identitas dari bangsa itu. Masyarakat Uni Soviet yang kehidupannya dituntut sepenuhnya patuh terhadap aturan dan kemauan negara dengan sendirinya memiliki sisi humor yang kemungkinan besar banyak tertutupi oleh situsi dan kondisi kehidupan mereka. Dibalik semua kenyataan tersebut, masyarakat Uni Soviet ternyata menyimpan rasa humor yang dalam dan seperti mengetahui sebuah aib yang sedang ditutup-tutupi.
Mungkin kita pernah menonton sebuah film, life is beautiful garapan tahun 1997 yang disutradarai sekaligus menjadi pemeran utama oleh Roberto Benigni dengan genre humor yang apik, walaupun film itu penuh ketegangan namun humor-humor yang menjadi latar film ini menjadi suatu tontonan yang menarik. Film ini berlatar sejarah perang Dunia II tentang kehidupan masyarakat di Italia tahun 1939. Guido seorang pemilik toko buku keturunan Yahudi, dengan imajinasi yang dibumbuhi humor dalam rangka melindungi anaknya Giosue dari ngerinya kamp konsentrasi NAZI. Lewat sebuah permainan yang diciptakannya, hal ini tak lain untuk mengelabui Giosue, agar anaknya tidak tahu kalau mereka sedang dalam kamp konsentrasi yang menakutkan, antara hidup dan mati. Dengan sikap optimis Guido berhasil menjaga anaknya dan itu sampai film berakhir.
Film tersebut menjelaskan bahwa kepahitan dan ketakutan dengan sendirinya dapat menghasilkan humor. Humor terjadi lewat sebuah situasi, walaupun situasi itu demikian seriusnya. Semakin sebuah bangsa menjadi tegang dan menakutkan sekaligus mengerikan, lewat ruang-ruang yang sempit humor lahir dan tercipta. Humor lahir tidak hanya sebagai sebuah penghibur namun juga lahir karena situasi yang memungkin humor menjadi hadir. Ada yang mengatakan begini, semakin seseorang menjadi serius, dengan sendirinya humor menjadi sebuah jeda lewat keseriusan itu.
Sebuah situasi di Aceh misalnya. Ketika Aceh oleh pemerintahan Republik Indonesia memberlakukan sebagai daerah operasi militer, Aceh menjadi daerah yang paling mencekam di Indonesia. Di mana masyarakat Aceh penuh dalam teror, ancaman hidup, ketakutan, masyarakat selalu dicurigai, dituduh, disiksa, tiap hari selalu ada berita kematian, banyak keluarga yang kehilangan saudaranya karena dituduh berbahaya dan melawan negara (musuh negara). Masyarakat Aceh kurang lebih 30 tahun lamanya, hidup dalam ancaman dan penuh intimidasi. Namun dari itu semua, humor menjadi sebuah bahasa dan bukti sebagai daya tahan lewat kepahitan dan kesengsaraan hidup masyarakat Aceh dan humor tersebut merupakan sebuah pesan dari apa yang dirasakan masyarakat ketika intimidasi dan ketakutan masyarakat alami.
Humor-humor tersebut merupakan sebuah keseimbangan tersendiri dari sebuah tuntutan kebutuhan; sebagai sebuah rasa dalam hati di satu pihak dan sebagai sebuah kesadaran dari keterbatasan yang masyarakat miliki di pihak yang lain. Dalam sebuah masyarakat yang ketakutan dan kesengsaraan seperti tidak ada kejelasan berakhir, entah kapan berakhirnya? Sebuah kepahitan yang diakibatkan oleh kesengsaraan, ditambah lagi adanya sebuah kenyataan yang dengan sendirinya masyarakat harus pasrah dalam menerima kenyataan tersebut, yang harus dijaga oleh masyarakat hanya satu, yaitu jangan sampai masyarakat tersebut patah semangan untuk hidup. Hidup harus terus dijalani, masa depan harus tetap ada. Menurut Gus Dur, humor merupakan sublimasi dari sebuah kearifan yang dimiliki oleh masyarakat tertentu.
Hal demikian ini hanya dapat dirasakan oleh masyarakat yang kehidupannya dianggap terlalu serius. Beberapa contoh yang saya kemukakan di atas misalnya. Sebenarnya juga tidak hanya pada masyarakat yang saya contohkan di atas saja, melainkan juga pada masyarakat yang lain, seperti Ukraina, Israel, Palestina, Turki, Iran, Irak, Mexico, Jerman dan sebagainya. Ketahanan sebuah masyarakat dalam sebuah negara dapat dilihat dari kacamata humor itu sendiri. Humor sebagai sebuah kearifan dapat dilihat dari bagaimana masyarakat tersebut dapat melalui sebuah kepahitan dan ketakutan yang dialaminya, walaupun humor itu hadir dari ketidaksengajaan dan itu sesuatu yang wajar. Untuk itu, walau tulisan ini saya buka dengan humor Rusia, pada prinsipnya dapat mewakili semua bangsa dan negara.
Humor bukanlah jelangkung; yang datang tak diundang dan pergi tak diusir. Humor merupakan sebuah energi bahkan merupakan sebuah wujud keseriusan. Bahkan hadir dari sebuah wujud yang serius. Humor dapat saja hadir dalam bentuk kelakar, permainan, politik, budaya, kritik, pesan dalam sebuah bentuk tawa. Semua masyarakat lintas negara menyukai humor, saya pikir tidak ada negara yang masyarakatnya tidak menyukai humor. Kalau pun tidak ada, dalam suatu negara hanya sebagian kecilnya saja yang tidak menyukai humor dan itu pun hanya dikarenakan oleh sesuatu hal. Ketika suatu masyarakat mengalami sebuah ketegangan, apakah itu ketakutan dalam bentuk teror dan intimidasi, maka hadirnya humor, disengaja atau tidak, menjadi sebuah kewarasan. Dalam sebuah perhelatan kecil atau besar, humor sering dijadikan sebagai sebuah jeda untuk mengendurkan situasi yang dianggap kaku dan tegang atau orang sering menyebutnya mencairkan suasana.
Humor adalah sebuah ketahanan. Orang yang mampu melewati sebuah humor yang dialamatkan terhadap diri seseorang, maka sungguh orang tersebut merupakan orang yang memiliki ketahanan yang mumpuni. Demikian juga halnya sebuah negara, humor-humor yang hadir dalam masyarakat tertentu, merupakan wujud dari sebuah ketahanan bagi negara tersebut. Ketika kita merendahkan seseorang, maka sesungguhnya kita sebenarnya sedang merendahkan diri sendiri, demikian juga sebaliknya; bila sebuah Negara suka merendahkan negara lain, itu sama halnya juga negara tersebut sedang merendahkan negaranya sendiri. Pada sisi lain, sebenarnya negara tersebut sedang mengajari negara yang direndahkan itu belajar bertahan. Boleh juga dikatakan, sebuah negara yang suka merasa hebat, merasa superior, bahkan merasa lebih dan unggul dari negara lain, negara itu merupakan negara yang tidak memiliki sense of humor, negara yang canggung, lemah, negara yang kaku, malah akan menjadi ejekan dalam bentuk apapun dari negara lain bahkan oleh negaranya sendiri.
Semakin seriusnya suatu bangsa, semakin banyak hal-hal yang dapat ditertawakan. Semakin represifnya suatu bangsa terhadap masyarakatnya, semakin terbuka lebar misteri-misteri yang dapat ditertawakan. Ketika misteri-misteri itu menjadi bahan tertawaan bukan malah menjadi terpuruk bangsa tersebut, melainkan semakin dewasa dalam berbangsa dan bernegara. Di sini, humor dapat mewakili sebuah bangsa dalam mengajarkan sifat bertahan melalui tertawa. Semakin beragam cara anak bangsa tertawa, maka semakin kuat daya tahan anak bangsa dalam memahami ketahanan bangsanya. Humor dapat menjadi sebuah sikap suatu bangsa dalam memperkuat negaranya. Dengan humor tidak hanya mendewasakan masyarakat suatu bangsa, bahkan negara pun semakin menjadi dewasa.
Apa takut, mati tanam!



























































Leave a Review