Penulis Dr. Ahmad Nasir Assingkily Dosen Fakultas Syariah, STAI Syekh Abdurrauf Aceh Singkil
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi, kita sering kali lupa bahwa warisan budaya lokal menyimpan khazanah pendidikan dan penyembuhan yang sangat berharga terutama bagi anak-anak. Dua di antaranya adalah mendemban dan sesukuten, tradisi masyarakat adat Singkil yang nyaris punah, namun sesungguhnya mengandung kekuatan besar dalam membentuk karakter dan kesehatan psikologis anak.
Dalam budaya masyarakat Singkil, mendemban adalah kegiatan mendengarkan syair atau lagu nasihat yang dibacakan atau dinyanyikan dalam bahasa Singkil yang lembut dan penuh harapan. Biasanya dilakukan orang tua kepada anak menjelang tidur. Syair-syair ini sarat doa, motivasi, dan penguatan nilai—seakan menjadi pelukan verbal orang tua kepada jiwa anak.
Sementara itu, sesukuten adalah tradisi bertutur cerita rakyat atau kisah lokal yang mengandung pesan moral. Cerita-cerita ini disampaikan dengan gaya khas: penuh ekspresi, kadang menghibur, kadang menggugah emosi namun selalu mengandung pesan mendalam agar anak tidak nakal, tidak durhaka, dan tumbuh menjadi pribadi beradab.
Keduanya bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan bentuk pendidikan karakter sekaligus terapi psikologis berbasis kearifan lokal.
Psikologi modern menekankan pentingnya komunikasi emosional antara orang tua dan anak. Tokoh seperti Erik Erikson menyebutkan bahwa pada usia dini, anak sangat membutuhkan rasa percaya, kasih sayang, dan afirmasi positif agar tumbuh sebagai individu yang kuat dan seimbang. Mendemban secara alami memenuhi kebutuhan itu. Ketika anak mendengar bait seperti:
“Ooo tokh ko godang le pakk, asa tokh megancikan umak le pak…”
(Cepatlah besar, wahai anakku, agar segera berbakti kepada orang tuamu…)
Anak merasa dirinya dicintai, dihargai, dan diperhatikan. Itu bukan sekadar lagu; itu adalah dukungan emosional dan spiritual yang membentuk struktur batin seorang anak.
Demikian pula dengan sesukuten. Kisah-kisah seperti si Bohong Merinang yang durhaka atau Si Taktuan Maradolan yang jujur menjadi sarana edukatif yang lembut namun mengena. Anak-anak belajar dari tokoh-tokoh dalam cerita tanpa merasa digurui. Nilai-nilai diserap secara alami, seperti pohon yang menyerap air dari akar: perlahan namun kuat.
Di sisi lain, mendemban dan sesukuten juga berperan penting dalam menjaga bahasa ibu: bahasa Singkil. Ini bukan soal nostalgia linguistik semata, tetapi tentang mempertahankan identitas. Bahasa adalah pintu budaya; ketika anak-anak tak lagi mengenal bahasa Singkil, perlahan mereka juga kehilangan rasa memiliki terhadap warisan leluhur.
Banyak anak hari ini tumbuh dalam kesunyian batin. Orang tua sibuk dengan ponsel, sekolah sibuk dengan kurikulum, dan masyarakat tenggelam dalam gadget. Akibatnya, anak-anak merasa kesepian, tidak didengar, bahkan tidak dikenal oleh orang tuanya sendiri.
Mendemban dan sesukuten bisa menjadi jembatan yang menghangatkan kembali relasi itu. Saat orang tua menyanyikan syair mendemban, ada tatapan mata, pelukan, dan suara lembut yang menyentuh hati. Saat sesukuten diceritakan, ada dialog, ada imajinasi, ada tawa dan kadang air mata. Semua itu adalah nutrisi batin yang tak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Sayangnya, praktik ini kini terancam punah. Generasi muda banyak yang tak lagi mengenal mendemban. Para orang tua pun mulai merasa malu atau tidak percaya diri menyampaikan sesukuten karena dianggap kuno.
Jika ini terus dibiarkan, kita akan kehilangan lebih dari sekadar budaya. Kita akan kehilangan metode pendidikan karakter yang telah terbukti efektif selama berabad-abad.
Namun harapan belum padam. Di sejumlah desa di Aceh Singkil, tradisi ini masih bertahan, meski hanya di kalangan orang tua. Tugas kita sekarang adalah menghidupkan kembali semangat itu dengan pendekatan yang sesuai zaman.
Pertama, sekolah-sekolah di Aceh Singkil perlu mengintegrasikan cerita sesukuten ke dalam pembelajaran muatan lokal. Guru-guru bahasa daerah dapat melibatkan siswa dalam lomba mendemban atau bercerita dalam bahasa Singkil.
Kedua, pemerintah daerah dan lembaga adat perlu melakukan digitalisasi syair dan cerita tradisional, dalam bentuk video, podcast, atau buku cerita dwibahasa (bahasa Singkil dan Indonesia). Ini penting agar dapat menjangkau generasi milenial dan generasi Z.
Ketiga, orang tua jangan malu menyanyikan syair mendemban di rumah. Tidak perlu suara merdu atau hafal semua lirik. Yang penting adalah niat menyampaikan cinta dan nilai-nilai luhur.
Keempat, lembaga pendidikan tinggi seperti STAI Syekh Abdurrauf Aceh Singkil, bersama lembaga adat seperti Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Singkil, dapat mengambil peran dalam penelitian dan pengembangan tradisi ini sebagai bagian dari kurikulum dan pengabdian kepada masyarakat.
Mendemban dan sesukuten bukan sekadar tradisi ia adalah jalan pulang menuju jati diri. Ia menghidupkan kembali hubungan antara anak dan orang tua, antara generasi tua dan muda, antara manusia dan nilai-nilai yang menyembuhkan.
Mari kita hidupkan kembali tradisi ini bukan untuk meromantisasi masa lalu, tetapi untuk menyiapkan generasi masa depan yang lebih kuat, lebih beradab, dan lebih mencintai akar budayanya sendiri.























































Leave a Review