Penulis Arifal Akbar Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Pada Rabu, (07/05/2025), masyarakat bersama sejumlah elemen mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRA. Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap berbagai permasalahan daerah, termasuk kerusakan Jalan Lintas Nasional Tangse akibat dampak dari proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Rukoh.
Massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menggugat (GRAM) memulai aksi dari pukul 14.00 hingga 18.00 WIB, dan berhasil bertemu dengan Wakil Ketua DPRA, Salihin, S.H., di halaman gedung parlemen. Dalam pertemuan itu, Salihin menyetujui dan menandatangani beberapa tuntutan massa aksi. Namun, ia memilih meninggalkan lokasi saat mahasiswa meminta pernyataan video deklarasi penolakan terhadap rencana pembangunan empat batalyon baru di Aceh.
Salah satu tuntutan utama GRAM adalah agar DPRA segera mengawasi dan mendorong realisasi janji Pemerintah Aceh terkait perbaikan jalan di Tangse, Kabupaten Pidie, yang rusak parah akibat PSN. Massa aksi dan pihak DPRA sepakat bahwa dalam waktu empat hari harus ada kejelasan terkait realisasi tersebut. Namun hingga hari ini, Senin, (02/06/2025), tidak ada transparansi ataupun tindak lanjut dari pihak yang bertanggung jawab.
Kekecewaan pun semakin memuncak di tengah masyarakat. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, masyarakat terus menerima janji tanpa kejelasan. Muncul dugaan kuat bahwa telah terjadi praktik korupsi terhadap anggaran perbaikan jalan Tangse, yang seharusnya ditangani langsung oleh pihak PJN. Hingga kini, belum ada tanda-tanda perbaikan di ruas Jalan Tangse-Gempang, meskipun anggaran sebesar Rp59 miliar telah dialokasikan.
“Sudah terlalu lama jalan rusak di Tangse dibiarkan tanpa kepastian. Padahal janji perbaikannya pernah disampaikan langsung oleh pihak pemerintah, bahkan yang terbaru di depan Gedung DPRA pada Rabu, 7 Mei 2025. Mereka berjanji akan merealisasikan dalam waktu empat hari, sesuai dengan tuntutan massa aksi. Sayangnya, janji itu hingga kini belum terlihat wujudnya, sementara kami terus menanggung dampaknya setiap hari. Jangan biarkan janji tinggal janji. Rakyat butuh bukti, bukan sekadar ucapan manis,” ujar Arifal, salah satu peserta aksi.

Ia menegaskan bahwa masyarakat mendesak pemerintah untuk segera menepati janjinya dan memperbaiki jalan demi keselamatan serta kesejahteraan warga.






















































Leave a Review