Oleh: Aulia Halsa
Fouder Pajak Literasi
Sejarah adalah cermin. Dari sana kita belajar, menimbang, dan seharusnya menata masa depan agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Aceh memiliki banyak catatan heroik yang melahirkan kebanggaan, tetapi juga menyimpan kisah kelam yang menjadi peringatan. Salah satunya adalah kisah Panglima Tibang nama yang hingga kini masih hidup dalam ingatan kolektif orang Aceh sebagai simbol pengkhianatan.
Panglima Tibang bukanlah orang asli Aceh. Ia lahir di India Selatan, dengan nama Ramasamy, dan datang ke Aceh sebagai seorang pengembara. Dengan kelihaian dan pesona yang dimilikinya, ia berhasil memikat istana. Ia kemudian memeluk Islam, mengganti nama menjadi Muhammad Tibang, bahkan diangkat sebagai anak angkat Sultan. Kariernya melesat cepat dari seorang pendatang, ia menjelma menjadi panglima laut dan syahbandar yang menguasai pelabuhan Aceh, urat nadi ekonomi dan diplomasi kerajaan.
Namun, ketika Belanda mulai menancapkan kuku kolonialnya di Aceh pada abad ke-19, Tibang membuat pilihan yang salah. Ia yang tadinya dipercaya sebagai benteng, justru dituduh berbalik arah, merapat pada musuh, dan menggadaikan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dari titik itulah, sejarah mencatat Tibang bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai pengkhianat. Namanya menjadi stigma yang terus diulang, bahkan hingga abad ke-21, untuk menyebut mereka yang menukar amanah dengan kepentingan sempit.
Bayang-Bayang Tibang di Zaman Modern
Hari ini, meski kita tidak lagi berada di medan perang kolonial, bayangan Tibang masih terasa. Bedanya, pengkhianatan kini tidak selalu berbentuk persekutuan dengan senjata musuh, melainkan kompromi politik yang mengorbankan rakyat, kebijakan yang lebih berpihak kepada investor asing daripada kepada petani kecil, atau korupsi yang menggerogoti uang negara yang seharusnya dinikmati masyarakat.
Panglima Tibang modern menjelma dalam rupa pejabat yang mengkhianati rakyat dengan cara yang lebih halus namun sama menyakitkan. Mereka mengucapkan sumpah jabatan dengan gagah, tetapi di belakang meja menukar janji itu dengan kontrak-kontrak yang menguntungkan diri sendiri. Mereka tampil di hadapan publik dengan slogan-slogan moral, tetapi diam-diam merawat jejaring korupsi. Mereka diberi mandat untuk melayani, tetapi justru sibuk melayani kepentingan segelintir elite.
Jika demikian, apa bedanya mereka dengan Tibang? Sama-sama diberi kepercayaan, sama-sama memiliki peluang besar untuk membela rakyat, tetapi sama-sama memilih jalan oportunisme. Bedanya hanya konteks zaman: Tibang hidup di abad ke-19, sedangkan mereka hidup di abad ke-21, di tengah sistem yang katanya demokratis, transparan, dan modern.
Pelajaran Sejarah: Nama Baik atau Nama Busuk
Sejarah telah memberi bukti. Panglima Tibang mungkin sempat merasakan kenyamanan dari pilihan pragmatisnya, tetapi ia meninggalkan nama yang busuk sepanjang masa. Sebaliknya, banyak tokoh Aceh yang memilih kesetiaan kepada rakyata meski harus menderita, berkorban, bahkan kehilangan nyawa dan nama mereka dikenang dengan hormat hingga kini.
Pelajarannya jelas: pengkhianatan mungkin memberi jalan pintas, tetapi akan meninggalkan warisan stigma yang abadi. Sementara kesetiaan pada rakyat, meski penuh rintangan, justru akan menempatkan seorang pemimpin di halaman paling mulia dalam sejarah.
Jangan Warisi Jejak Tibang
Maka, jangan warisi jejak Tibang. Jangan sampai abad ke-21 dicatat sejarah sebagai abad yang melahirkan banyak pengkhianat baru. Jangan sampai generasi mendatang menyebut nama-nama pejabat kita hari ini dengan nada yang sama getirnya seperti menyebut Panglima Tibang.
Aceh, dan Indonesia, tidak butuh panglima-panglima Tibang baru. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang berani tegak, yang tidak mudah goyah oleh tawaran sesaat, yang memahami bahwa amanah adalah tanggung jawab, bukan sekadar privilege.
Sejarah memang tidak bisa diubah, tetapi masa depan masih bisa ditulis. Dan setiap pemimpin, setiap pejabat, setiap elite yang diberi kepercayaan, sedang menulis namanya sendiri: apakah ingin dikenang sebagai penjaga marwah rakyat, atau justru abadi dalam catatan kelam pengkhianatan.
“Pilihan itu selalu ada, dan sejarah selalu jujur mencatat.”























































Leave a Review