Habis Barkode Terbitlah Pabrik

Oleh Zulfata, CEO Media Katacyber.com

“Kapan barkode itu dihapus?” tanya wartawan ketika itu, kemudian Gubernur Aceh yang baru dilantik dengan nada tegasnya menjawab “sekarang juga”. Penggalan wawancara yang sengaja menjadi pembuka awal logika komunikasi politik seorang Gubernur Aceh sekaligus mantan panglima melalui tulisan ini. Tampaknya, alih-alih mengambil hikmah dari peristiwa penolakan atas permintaan penghapusan pemberlakuan barkode di seluruh SPBU se-Aceh, justru kemudian melempar wacana baru di ruang publik, yaitu akan membangun barik di dua wilayah di Aceh.

Sebagai masyarakat yang ingin menjaga marwah gubernurnya, kita patut mengapresiasi sikap atau niat GubernurAceh akan membangun pabrik Ban Mobil  dan pabrik rokok, meskipun secara rasional mungkin masyarakat Aceh belum begitu bergembira, bahkan belum percaya seutuhnya ketika wacana tersebut dilontarkan oleh seorang Gubernur Aceh yang bernama Muzakir Manaf (Mualem).

Mengapa sedemikian? Tentu hal ini bukan berangkat dari landasan emosional terhadap Gubernur Aceh pilihan rakyat Aceh di Pilkada 2025. Melainkan hal ini adalah bagian dari rasa betapa tingginya perhatian penulis terhadap pola komunikasi politik Gubernur Aceh dari masa ke masa, baik sebelum menjabat Gubernur Aceh maupun sebelumnya.

Tidak diketahui secara pasti, apakah komunikasi politik sedemikian merupakan bagian dari strategi politik, atau memang hasil dari proses lingkungan politik tempat ia ditempa. Namun yang pasti, semestinya sebagai masyarakat, setidaknya kita memiliki beban moral untuk mengingatkan gubernur kita agar tidak melupakan apa yang disebut dengan keledai jatuh di lubang yang sama. Terlebih kondisi politik Aceh hari ini masih mengalami krisis kepercayaan terhadap pemimpin politik. Paling tidak, melalui tulisan ini dapat menjadi obat atau lampu kuning bagi komunikasi politik Gubernur Aceh Mualem hari ini maupun di kemudian hari.

Ada kata filosofi berbunyi; kalimat pujian belum tentu baik, ucapan patuh belum tentu tulus, dekat belum tentu amanah, jauh bukan berarti tak peduli, demikian pula nada kritik belum tentu memiliki arti melawan. Maksud-maksud kalimat filosofis ini senantiasa mesti menjadi pertimbangan oleh Gubernur Aceh dalam memperkuat kepemimpinanya agar tidak terlalu jauh menciptkan blunder politik menuju seratus hari masa jabatannya sebagai Gubernur Aceh.

Hingga hari ini, belum ada tanda-tanda serius, mulai dari kapan, hingga indikator pabrik-barik tersebut akan dibangun, dan skema keberpihakan pada daya serap tenaga kerjanya warga lokal pun belum juga terlihat. Jangankan untuk membangun pabrik yang baru, evaluasi pabrik-parik yang sudah berdiri di Aceh belum juga dievaluasi secara efektif, baik dari sisi tanggung jawab anggaran  CSR, maupun tanggung jawab kepedulian terhadap menjaga lingkungan-hutan.

Memang, satu sisi kita patut bersyukur Gubernur Aceh Mualem hari ini tampak rutin menampakkan kepedulian terhadap pelaksanaan syariat Islam di Aceh, meskipun hal tersebut masih belum menyentuh hal-hal yang sifatnya substansial terkait urgensi implentasi syariat Islam di Aceh. Paling tidak, dari sisi menjaga syiar atau gelagat syariat Islam di Aceh, Gubernur Aceh Mualem layak diangkat jempol. Lantas bagaimana selain itu, tentu masih menjadi pertanyaan besar. Sebab memang tidak boleh terlalu dini untuk menilai sebelum seratus hari masa jabatan.

Paling tidak, dari sisi komunikasi politik, meskipun belum mencapai seratus hari kerja, Gubernur Aceh patut terus diingatkan sebelum terlalu asyik dengan pola komunikasinya yang sedemikian. Terlebih yang berada di lingkaran Gubenrnur Aceh hari ini bukan orang yang tidak mengerti dampak ketika kualitas komunikasi Gubenur Aceh jika dibiarkan liar begitu saja. Mungkin saja para bawahan atau tim terdekatnya enggan mengajari Gubernur Aceh dengan adanya nilai “kharisma” yang dilengketkan pada dirinya.

Terlepas dari itu semua, perlu disadari oleh Gubernur Aceh Mualem, dominasi masyarakat Aceh hari ini telah kenyang dengan omong kosong para pejabat, ditambah lagi ada kecenderungan masyarakat Aceh hari ini lebih rasional dari pada masa-masa sebelumnya. Atas dasar itu, dengan memperbaiki kualitas komunikasi politik seorang Gubernur Aceh, paling tidak dapat sedikit menjaga marwah Aceh di panggung lokal maupun nasional.

Akhirnya, masyarakat Aceh tidak lagi tersenyum-senyum (aneh) melihat dan mendengar komunikasi politik yang dilontarkan oleh Gubernur Aceh hari ini. Sehingga, kalimat habis barkode terbitlah pabrik tidak menjadi blunder di barkode, omong kosong di pabrik. Semoga hal ini tidak terjadi di Aceh!

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi