Oleh: Muhammad Fajar Dalimunthe, S.H.,M.H. (Seketaris Komisi III DPRD Kota Padangsidimpuan dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Padangsidimpuan)
Ada kalanya saya duduk merenung dan mengingat kembali perjalanan panjang yang saya lalui di dunia pendidikan. Ketika memori itu dibuka, wajah-wajah guru dari masa kecil saya di Kota Padangsidimpuan seakan muncul kembali, satu per satu, lengkap dengan suara, sikap, dan gaya mengajar mereka. Kota tercinta itu, yang sejak dulu dikenal luas sebagai Kota Pendidikan di Pantai Barat Sumatera, adalah tempat di mana saya dan banyak anak lain ditempa bukan hanya menjadi pandai, tetapi juga menjadi baik. Di sanalah saya belajar bahwa guru bukan sekadar orang yang mengajar, melainkan sosok yang digugu dan ditiru, sosok yang perkataannya dipercaya dan perilakunya layak dicontoh.
Dua puluh lima tahun lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah dasar, saya mengenal pendidikan sebagai suatu perjalanan yang penuh kedekatan antara murid dan guru. Guru-guru kami tidak hanya mengajari membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mengajarkan bagaimana kami menjadi manusia yang bermoral, bersikap sopan, bagaimana menghargai orang yang lebih tua, bagaimana meminta maaf ketika salah, dan bagaimana bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.
Pendidikan moral tidak diajarkan sebagai teori, melainkan melalui tindakan yang mereka tunjukkan setiap hari. Guru tidak pernah bosan mengingatkan kami, bahkan ketika kami berulang kali membuat kesalahan. Saya sendiri tidak jarang membuat “ulah”, layaknya sebagai anak kecil pada umumnya. Tetapi tidak pernah sekalipun saya merasa dijauhi atau ditinggalkan. Guru-guru itu selalu ada, selalu mencoba memahami, selalu menuntun kami agartumbuh ke arah yang baik.
Ketika melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota yang sama, karakter guru yang saya temui masih serupa: sabar, tegas, dan penuh perhatian. Ada guru yang kadang marah karena “kenakalan” kami, tetapi setelah amarah itu meletup, mereka kembali menjadi pribadi yang hangat. Mereka tidak pernah mengajar hanya untuk menyampaikan materi. Mereka mendidik dengan sepenuh hati, memahami bahwa masa SMP adalah masa paling rawan bagi anak-anak, masa ketika kami mulai mencari jati diri, masa ketika emosi belum matang dan pikiran masih mudah goyah. Bahkan ketika kami kembali berbuat masalah, mereka tidak melihat kami sebagai anak yang gagal, melainkan sebagai anak yang masih perlu untuk terus dibina dan diarahkan.
Perjalanan berlanjut ke Sekolah Menengah Atas (SMA), dan di sini pula guru-guru saya berperan sebagai jembatan menuju kedewasaan. Menghadapi murid SMA jelas tidak mudah. Kami bukan lagi anak-anak kecil yang bisa ditenangkan dengan satu dua nasihat. Kami remaja penuh gejolak, ingin diakui, dan mudah tersinggung. Tetapi guru-guru kami mengerti itu semua. Mereka tidak sekadar menuntutmemahami pelajaran, tetapi juga menuntutmemahami hidup. Kami diajarkan disiplin, tanggung jawab, ketekunan, dan kesantunan. Bahkan hal-hal yang tampak kecil, seperti cara berbicara di depan umum atau cara menghormati sesama, diajarkan dengan kesabaran.
Semua itu saya rasakan di Padangsidimpuan, sebuah kota yang kebudayaannya tak bisa dipisahkan dari pendidikan. Kota ini lama dikenal sebagai Kota Pendidikan di Pantai Barat Sumatera, sebuah gelar yang terbangun dari sejarah panjang lahirnya ulama-ulama terpelajar, para intelektual, dan para pendidik hebat. Pendidikan adalah identitas kota ini; ia hidup dalam tradisi, percakapan, dan kebanggaan masyarakatnya.
Namun ketika menoleh pada kondisi pendidikan hari ini, terutama di Padangsidimpuan, kita tidak bisa menutup mata bahwa sesuatu telah berubah. Barangkali zaman telah melaju terlalu cepat, atau barangkali nilai-nilai lama sudah mulai pudar di tengah derasnya modernisasi. Dulu guru dikenal sebagai sosok paling sederhana sekaligus paling berwibawa, kini tidak lagi mudah ditemukan dalam wujud yang sama.
Di banyak sekolah, guru tampak lebih sibuk mengejar jam mengajar demi memenuhi tuntutan sertifikasi. Waktu mereka tersita untuk menyusun laporan, mengisi administrasi, dan melengkapi berkas yang terus menumpuk. Sementara itu, ruang untuk pembinaan karakter terlihat menyempit, seolah bukan lagi bagian utama dari tugas guru. Padahal dulu, justru pembinaan karakter itulah yang membuat guru begitu diagungkan.
Kita juga melihat perubahan lain yang tak kalah signifikan. Guru-guru dulu datang ke sekolah dengan sepeda motor yang sederhana, pakaian yang biasa-biasa saja, dan sikap rendah hati yang memancarkan ketulusan. Hari ini, fenomena itu berubah. Guru datang dengan gaya berpakaian modern, membawa tas bermerek, gadget terbaru, bahkan kendaraan yang membuat murid memandang dengan jarak yang tak kasat mata. Bukan masalah jika penampilan itu sekadar representasi profesionalitas, tetapi sering kali justru menimbulkan kesan bahwa guru semakin jauh dari siswa, semakin sulit dijangkau, dan semakin tidak menjadi teladan dalam kesederhanaan.
Padangsidimpuan, dalam konteks itu, seolah kehilangan sebagian jati dirinya sebagai Kota Pendidikan. Sebab sebuah kota tidak bisa menyandang gelar tersebut hanya karena memiliki banyak sekolah atau lulusan-lulusan cerdas. Yang membuat Padangsidimpuan pernah begitu dihormati adalah karena pendidikan di kota ini dulu dibangun di atas keteladanan; sebuah nilai yang kini mulai luntur.
Kita tidak ingin menyalahkan guru sepenuhnya. Mereka juga korban dari sistem pendidikan yang semakin birokratis, semakin menuntut banyak hal administratif, dan semakin menjauhkan mereka dari inti profesi: membimbing manusia. Tetapi dalam pergeseran itu, kita perlu merenung: apakah kita akan membiarkan pendidikan hanya menjadi mesin penghasil nilai akademik tanpa jiwa? Apakah kita rela jika Kota Pendidikan ini perlahan kehilangan ruhnya? Jika generasi muda tumbuh tanpa merasakan kehadiran guru yang benar-benar dekat, apakah kota ini masih layak disebut sebagai pusat pendidikan seperti dulu?
Saya masih percaya bahwa guru memiliki peran mulia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Murid mungkin lupa pelajaran matematika atau IPA, tetapi mereka tidak pernah lupa bagaimana seorang guru memperlakukan mereka. Mereka tidak akan lupa senyum yang menguatkan, nasihat yang menenangkan, atau teguran yang mengingatkan. Kekuatan pendidikan sebenarnya ada pada momen-momen kecil seperti itu, momen yang lahir dari ketulusan, bukan dari kewajiban formal.
Padangsidimpuan akan tetap menjadi Kota Pendidikan hanya jika guru-gurunya kembali menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Sosok yang hadir bukan hanya sebagai pengajar profesional, tetapi sebagai teladan. Teladan yang sederhana, membumi, dan dekat dengan murid-muridnya. Teladan yang menghidupkan kembali nilai-nilai moral dan pendidikan yang pernah membuat kota ini dihormati dan dibanggakan.
Pada akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan bahwa pendidikan tidak akan pernah kehilangan maknanya jika guru tetap menjadi cahaya bagi murid-muridnya. Guru yang tulus adalah guru yang dikenang, bukan karena barang yang dipakainya atau kendaraan yang dikendarainya, tetapi karena hati yang ia berikan kepada murid-muridnya. Dan selama semangat itu tetap hidup, Kota Padangsidimpuan akan selalu memiliki alasan untuk menyebut dirinya sebagai Kota Pendidikan.
Selamat Hari Guru! Dedikasi dan pengorbananmu adalah inspirasi yang akan selalu kami kenang.























































Leave a Review