Oleh: Aulia Halsa
Penulis Buku Luka dan Tawa dari Ujung Barat
Pembangunan sering kali diidentikkan dengan besarnya anggaran, megahnya infrastruktur, atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Padahal, pembangunan yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari apa yang dibangun, tetapi juga dari bagaimana masyarakat terlibat di dalamnya. Kampung Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo memberikan pelajaran berharga tentang makna pembangunan yang lahir dari semangat kebersamaan.
Ketika jembatan dan jalan mengalami kerusakan, masyarakat tidak memilih menunggu. Mereka bergotong royong memperbaiki akses yang menjadi urat nadi aktivitas warga. Ada yang menyumbangkan tenaga, ada yang membawa material, dan ada pula yang menyisihkan sebagian rezekinya. Semangat kolektif tersebut menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan juga tanggung jawab bersama sebagai sesama warga.
Pandangan ini sejalan dengan teori People-Centered Development yang dikemukakan oleh . Menurut Korten, pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang menempatkan manusia sebagai subjek utama, bukan sekadar objek kebijakan. Keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari banyaknya proyek yang diselesaikan, tetapi dari tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk memecahkan persoalan yang mereka hadapi secara mandiri dan bersama-sama.
Semangat gotong royong masyarakat Enang-Enang juga mencerminkan konsep modal sosial yang diperkenalkan oleh . Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan, solidaritas, dan jaringan sosial merupakan aset penting dalam pembangunan. Masyarakat yang saling percaya dan mampu bekerja sama akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan dibandingkan masyarakat yang hanya bergantung pada intervensi pemerintah.
Namun demikian, gotong royong masyarakat tidak boleh dimaknai sebagai pengganti tanggung jawab negara. Jalan dan jembatan merupakan infrastruktur publik yang menjadi kewajiban pemerintah untuk membangun dan memeliharanya. Partisipasi masyarakat seharusnya menjadi mitra yang memperkuat pembangunan, bukan alasan untuk mengurangi kehadiran negara dalam memenuhi hak-hak dasar warga.
Pelajaran dari Enang-Enang adalah bahwa pembangunan terbaik lahir ketika dua kekuatan berjalan beriringan. Di satu sisi, masyarakat memiliki kepedulian, rasa memiliki, dan semangat gotong royong. Di sisi lain, pemerintah hadir dengan kebijakan, anggaran, dan pelayanan publik yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
Enang-Enang hari ini bukan hanya sebuah kampung di dataran tinggi Gayo. Ia telah menjadi cermin bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek bernilai miliaran rupiah, melainkan dari hati yang peduli, tangan yang mau bekerja, dan semangat kebersamaan yang tidak pernah padam. Ketika rakyat dan pemerintah berjalan seiring, pembangunan bukan hanya menghasilkan jalan dan jembatan yang kokoh, tetapi juga membangun kepercayaan, harapan, dan masa depan yang lebih baik.






















































Leave a Review