Oleh Laili Auliani Munthe (Mahasiswi PSDKU Prodi Kehutanan)
Gayo Lues dikenal sebagai salah satu wilayah di Aceh yang memiliki kawasan hutan luas dan berfungsi penting sebagai penyangga kehidupan. Hutan tidak hanya menjaga keseimbangan ekologi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan dan pelindung masyarakat dari berbagai ancaman bencana alam. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, bencana seperti banjir dan longsor terus terjadi dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Kondisi ini menuntut sikap yang tegas dan reflektif, khususnya dari mahasiswa kehutanan sebagai bagian dari generasi intelektual yang mempelajari langsung hubungan antara hutan dan keselamatan lingkungan.
Sebagai mahasiswa kehutanan, bencana tidak dapat dipandang semata-mata sebagai fenomena alam yang datang tanpa sebab. Bencana adalah sinyal ekologis yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam pengelolaan lingkungan. Kerusakan hutan, pembukaan lahan yang tidak terkendali, serta melemahnya fungsi daerah aliran sungai menjadi faktor yang memperbesar risiko bencana. Sudut pandang mahasiswa kehutanan harus dibangun di atas landasan ilmiah dan tanggung jawab moral, bukan pada asumsi atau pembenaran sepihak.
Konflik dalam pengelolaan hutan di Gayo Lues merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Perbedaan kepentingan antara masyarakat, pemerintah, dan pihak tertentu sering kali memicu tekanan terhadap kawasan hutan. Dalam menyikapi hal ini, mahasiswa kehutanan dituntut untuk bersikap objektif dan adil. Masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan tanpa memahami kondisi ekonomi dan keterbatasan akses yang mereka hadapi. Namun di sisi lain, praktik perambahan dan eksploitasi hutan yang melanggar prinsip kelestarian juga tidak dapat dibenarkan. Diperlukan dialog terbuka, penguatan kehutanan sosial, serta penegakan hukum yang konsisten agar konflik tidak terus berujung pada kerusakan lingkungan.
Isu lingkungan di Gayo Lues seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak. Penurunan tutupan hutan, rusaknya daerah aliran sungai, dan meningkatnya intensitas bencana merupakan bukti bahwa daya dukung lingkungan sedang melemah. Mahasiswa kehutanan memandang bahwa normalisasi terhadap bencana adalah kesalahan besar. Setiap peristiwa bencana harus dibaca sebagai bahan evaluasi terhadap kebijakan dan praktik pengelolaan sumber daya alam yang berjalan selama ini.
Dalam konteks politik kebijakan, keputusan yang diambil oleh pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap kondisi hutan dan lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan sering kali dipengaruhi oleh kepentingan jangka pendek yang mengabaikan aspek keberlanjutan. Di sinilah peran mahasiswa kehutanan sebagai agen kontrol sosial dan akademik menjadi penting. Sikap kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan bukanlah bentuk perlawanan, melainkan kontribusi intelektual untuk mendorong kebijakan yang lebih adil dan berorientasi pada masa depan.
Ketegasan sikap mahasiswa kehutanan dalam menanggapi bencana di Gayo Lues tercermin dari keberanian untuk menyuarakan kebenaran berbasis ilmu pengetahuan. Bencana tidak boleh terus-menerus dianggap sebagai takdir semata tanpa upaya perbaikan sistem pengelolaan lingkungan. Ketegasan ini juga diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam edukasi masyarakat, kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, serta dorongan terhadap upaya mitigasi bencana yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, bencana yang melanda Gayo Lues adalah luka bersama yang seharusnya menyadarkan semua pihak akan pentingnya menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan. Mahasiswa kehutanan berdiri di antara hutan dan luka alam, dengan tanggung jawab untuk berpikir kritis, bersikap tegas, dan bertindak konstruktif. Dengan ilmu, kepedulian, dan keberanian moral, mahasiswa kehutanan berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi demi terwujudnya Gayo Lues yang lebih lestari dan aman bagi generasi mendatang.





















































Leave a Review