Penulis Muhammad Gamal
Spanduk dan selebaran bertuliskan #AcehMelawan mulai menjamur di berbagai titik strategis di jantung ibu kota. Fenomena ini bukan sekadar ekspresi simbolik ini adalah tanda peringatan. Sinyal kuat bahwa api perlawanan dari rakyat Aceh belum padam.
Kekecewaan masyarakat Aceh telah mencapai puncaknya. Luka sejarah yang belum kering kini kembali disayat oleh sikap semena-mena pemerintah pusat. Aceh merasa kembali dikhianati untuk kesekian kalinya.
Ini bukan sekadar soal “empat pulau.” Ini adalah soal harga diri. Soal pengkhianatan terhadap perjanjian, terhadap sejarah, terhadap janji-janji manis yang tak pernah ditepati. Luka lama kini dibuka kembali. Dan rakyat Aceh bertanya:
Masih pantaskah kami membela Ibu Pertiwi yang terus-menerus melukai kami?
Apakah sudah saatnya kata referendum tak lagi jadi bisik-bisik, tapi dikumandangkan secara terbuka ke seluruh negeri?
Pemerintah pusat, sejauh ini, bersikap acuh. Bahkan lebih jauh, mereka justru melemparkan solusi absurd: ajakan untuk “mengelola pulau bersama” antara Pemerintah Aceh dan Sumatera Utara. Sebuah usulan yang bukan hanya tidak masuk akal, tapi juga melecehkan nurani rakyat Aceh.
Nama-nama seperti Bobby Nasution dan Tito Karnavian muncul sebagai simbol pengkhianatan, sebagai wajah dari ketidakpekaan terhadap luka Aceh. Ini bukan sekadar soal siapa yang mengelola atau tidak—ini keteledoran fatal. Pemerintah pusat tampak lebih sibuk memelihara “londo ireng” dalam tubuh kekuasaannya daripada menyembuhkan luka yang berdarah di ujung barat republik.
Aceh Melawan (AM) akan terus menyuarakan suara-suara marjinal yang selama ini dibungkam. Ini bukan hanya soal spanduk dan selebaran. Ini adalah lonceng Cakra Donya yang dibunyikan kembali tanda bahwa Aceh tidak tidur. Aceh tidak tunduk.
Kami menuntut:
• Pemecatan Tito Karnavian dan Penjabat Gubernur Aceh Safrizal
• Pengembalian pulau-pulau Aceh yang dirampas secara administratif
Jika tuntutan ini diabaikan, maka perlawanan akan membesar. Ini baru awal. Kami akan hadir dengan suara yang lebih lantang, dengan massa yang lebih luas, dengan gerakan yang tak bisa lagi dibungkam.
Spanduk-spanduk di Jakarta bukan sekadar kain bertinta. Ia adalah pengingat bahwa Aceh belum menyerah. Kami masih ada dan telah berlipat ganda.























































Leave a Review