Katacyber.com | Meulaboh – Bagi masyarakat Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Krueng Tujoh bukan sekadar aliran air yang membelah daratan. Sungai ini adalah warisan historis sekaligus urat nadi kehidupan yang mengalirkan kesejahteraan dari generasi ke generasi. Namun hari ini, kejayaan sungai purba itu mendadak suram, tergantikan oleh kecemasan mendalam akibat dugaan pencemaran lingkungan yang kian nyata.
Secara historis, Krueng Tujoh merupakan sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) unik yang menyatukan tujuh aliran sungai menjadi satu kesatuan induk. Aliran tersebut membentang kaya mulai dari Krueng Pucok Laot/Krueng Ie Mirah, Krueng Buloh, Krueng Balee, Krueng Pung Ga, Krueng Reudep, Krueng Ranub Dong, hingga Krueng Sumber Batu.
Sejak dahulu kala, tumpuan air ini adalah sumber kehidupan mutlak. Warga menggunakannya untuk minum, mandi, dan mencuci, sementara limpahan airnya mengairi hamparan sawah para petani. Tak hanya itu, ekosistemnya yang kaya akan ikan sungai, udang, hingga kerang (lokan) telah lama menjadi sandaran ekonomi utama yang menjamin dapur ratusan kepala keluarga tetap mengepul.
Keharmonisan itu mulai retak pada tahun 2020. Warga mulai menemukan berbagai kejanggalan yang belum pernah terjadi dalam sejarah desa mereka. Salah satu jeritan paling memilukan datang dari para pencari lokan (kerang sungai) di bagian hilir.
Jika dahulu mereka bisa menyelam dengan tenang menjemput rezeki, kini aktivitas tersebut berubah menjadi penderitaan. Setiap kali menyelam untuk mencari kerang, tubuh mereka diserang rasa gatal-gatal yang hebat akibat kondisi air yang diduga telah terkontaminasi.
Lebih aneh lagi, warga menyaksikan fenomena alam yang janggal, air sungai yang biasanya mengalir deras ke hilir, kini justru terlihat berbalik mengalir ke hulu. Pendangkalan ekstrem juga terjadi dalam beberapa bulan terakhir, membuat dasar sungai begitu dekat ke permukaan hingga perahu nelayan tidak lagi bisa melintas. Air yang dulunya menjadi sumber pelepas dahaga, kini dibiarkan mengalir tanpa ada yang berani menyentuhnya untuk diminum karena takut akan kandungan zat berbahaya.
Nazar, selaku Ketua Aliansi Masyarakat Krueng Tujoh, dengan nada getir mengungkapkan bagaimana hancurnya tatanan ekonomi warga saat ini.
“Krueng Tujoh ini adalah tempat mencari nafkah, baik bagi nelayan mencari kerang maupun petani. Sungai ini adalah nadi bagi kami sejak dahulu,” ujar Nazar saat di wawancarai Katacyber.com di lokasi pertambangan, Minggu (2/8/2026).
Ia menambahkan bahwa aktivitas ekonomi di dekat kawasan tambang Batubara kini lumpuh total karena ikan-ikan telah hilang pasca-kejadian ikan mati massal beberapa waktu lalu. Dampak sosialnya pun sangat masif.
“Menurut perkiraan kita, yang dahulunya hampir seluruh warga menggantungkan hidup di sungai ini, sekarang bisa dikatakan 75% warga tidak lagi mencari nafkah di sini. Sangat sulit mencari ikan karena ikannya sudah tidak ada lagi,” tegas Nazar menyuarakan jeritan hati warganya.
Ramli, salah seorang warga Ranup Dong yang menggantungkan hidupnya dari mencari lokan, mengungkapkan bahwa masyarakat sebenarnya tidak menolak kehadiran perusahaan. Namun, mereka sangat mengeluhkan dampak pencemaran lingkungan yang kini mulai terasa nyata.
“Kami tidak masalah dengan hadirnya perusahaan. Akan tetapi, kami hanya mengeluh terhadap dampak yang mencemari lingkungan. Saat mencari lokan, kami sering kali merasakan gatal-gatal setelah menyelam,” ujar Ramli sambil menyelam mencari kerang.
Bagi Ramli dan warga lainnya, menyelam di Krueng Tujoh bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya menyambung hidup.
“Namun mau bagaimana lagi, mencari lokan merupakan sumber kehidupan kami sehari-hari,” tambahnya.
Setiap hari, para pencari lokan ini memulai aktivitas mereka sejak pagi hari pukul 09.00 WIB hingga sore hari pukul 16.00 WIB. Perjuangan berjam-jam di dalam air tersebut biasanya menghasilkan hingga 20 “tumpok” (satuan takaran lokal) kerang. Hasil tangkapan itu kemudian dijual per tumpuk dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000. Nilai yang tidak seberapa itu kini harus dibayar mahal dengan kesehatan kulit mereka.
Sambil menunjukkan kondisi paha dan betisnya yang mengalami iritasi dan gatal-gatal, Ramli menceritakan realita pahit yang harus ia hadapi demi menafkahi keluarga.
“Ini pun saya bisa tunjukkan di paha dan betis saya sudah gatal-gatal akibat sering terkena air sungai. Karena ini merupakan aktivitas kami, risiko apa pun tetap kami tanggung,” tuturnya pasrah.
Mewakili para pencari lokan lainnya, Ramli menaruh harapan besar kepada pihak pemerintah agar segera turun tangan. Mereka mendesak adanya upaya normalisasi sungai agar kondisi Krueng Tujoh bisa kembali bersih seperti sedia kala, saat belum ada pencemaran yang memicu penyakit kulit.
“Kami hanya berharap kepada pemerintah untuk menormalisasi sungai, sebagaimana Sungai Krueng Tujoh yang dahulu tidak ada pencemaran ataupun yang menyebabkan kami gatal. Kita hanya ingin saat mencari nafkah merasa aman dan tidak ada kekhawatiran,” pungkasnya penuh harap.
Kini, masyarakat Meureubo hanya bisa menatap nanar ke arah sungai yang membesarkan mereka. Warga mendesak adanya investigasi mendalam dan pertanggungjawaban nyata, agar nadi kehidupan mereka tidak mati total dan sejarah kejayaan Krueng Tujoh tidak terkubur oleh limbah. (GM)


























































Leave a Review