SABANG selalu punya cara membuat orang kembali. Di antara garis pantai yang memeluk angin dan birunya laut yang tak pernah kehabisan cerita, Pulau Rubiah berdiri sebagai halaman paling jernih dari kisah pariwisata Sabang. Airnya yang tembus pandang, ikan-ikan kecil yang berenang serempak seperti barisan penari, dan hamparan terumbu karang yang tetap bertahan melawan waktu, menjadikan pulau kecil ini lebih dari sekadar destinasi ia adalah napas laut Sabang itu sendiri.
Namun di balik keindahannya, Rubiah terus membawa pesan kehati-hatian. Bahwa wisata yang tumbuh harus dibarengi kesadaran bersama untuk menjaga apa yang membuat Sabang dikenang dunia. Di sanalah cerita ini bermula pada upaya mempertahankan pesona Rubiah tanpa mengorbankan masa depannya.
Berjarak hanya beberapa menit dari Pantai Iboih, Pulau Rubiah menjadi titik paling banyak disasar wisatawan. Setiap musim liburan, dermaga Iboih selalu dipadati suara mesin boat, kamera yang mengarah ke laut, dan tawa wisatawan yang datang dengan satu tujuan yaitu menyelam atau snorkeling.

Kepala Dinas Pariwisata Sabang, Harry Susethia, menyebut bahwa Pulau Rubiah bukan sekadar ikon, tetapi juga wajah yang merepresentasikan standar wisata Sabang.
“Rubiah adalah barometer kualitas wisata bahari kita. Jika Rubiah terjaga, maka citra Sabang ikut terjaga,” ujarnya.
Harry menegaskan bahwa tingginya kunjungan baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara harus diimbangi dengan pengaturan yang tepat, mengingat kapasitas alam tidaklah tanpa batas.
“Kita ingin Rubiah tetap menjadi ruang alami yang sehat. Itu sebabnya berbagai pembenahan terus dilakukan, termasuk pengaturan zonasi snorkeling dan edukasi wisatawan,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, peminat wisata bahari Sabang meningkat tajam. Situasi ini semakin terasa setiap menjelang libur panjang atau akhir tahun. Hal yang sama benarkan oleh Ketua Pokdarwis Iboih, Tarmizi, yang sehari-hari berhadapan langsung dengan tamu dan pelaku jasa wisata.

Menurutnya, kenaikan kunjungan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi pelaku boat, pemandu snorkeling, penyedia alat, hingga pedagang lokal.
“Sekarang, setiap menjelang musim liburan, permintaan selalu naik. Banyak tamu dari luar Aceh, Sumatera, Jakarta, sampai Malaysia,” kata Tarmizi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas wisata harus dibarengi disiplin menjaga lingkungan.
“Air Rubiah tetap jernih karena kita sama-sama menjaganya. Kita di Pokdarwis selalu ingatkan turis, jangan menginjak karang, jangan buang sampah dari boat, dan jangan memancing ikan sembarangan,” jelasnya.
Tarmizi menambahkan bahwa edukasi seperti itu tidak lagi cukup dilakukan sekali, melainkan harus terus-menerus.
Terumbu karang di sekitar Rubiah adalah salah satu yang paling beragam di Indonesia bagian barat. Beberapa spot seperti Sea Garden, Shark Point, dan sekitar dermaga Rubiah dikenal sebagai “halaman rumah” bagi ratusan spesies ikan dan karang.
Namun seiring naiknya jumlah pengunjung, tekanan ekologis juga meningkat. Salah satu tantangan utama ialah sampah plastik, aktivitas snorkeling tanpa etika, serta penggunaan boat yang terlalu dekat dengan area karang.
Karena itu, Dinas Pariwisata dan Pokdarwis Iboih kini bekerja lebih intensif.

Harry Susethia menuturkan bahwa pihaknya sudah menyiapkan beberapa langkah lanjutan untuk tahun depan, seperti penambahan papan edukasi, dan pengembangan kapasitas pemandu.
“Kita ingin semua pelaku wisata bersuara sama, Rubiah harus dijaga. Edukasi yang tepat akan membuat wisata berkembang tanpa merusak sumbernya,” katanya.
Selain itu, tahun 2026 akan menjadi momentum pemerintah memperkuat pengawasan dan menata kembali beberapa layanan pendukung wisata bahari.
Meski banyak yang menyebut Rubiah sebagai “akuarium raksasa”, keindahan itu tidak datang tanpa risiko. Musim ramai bisa membuat ruang laut terlalu penuh. Gelombang wisatawan, meskipun membawa berkah, juga menguji ketahanan ekosistem.
Tarmizi mengingat masa lalu ketika beberapa karang sempat rusak karena aktivitas tak terkontrol.
“Dulu ada wisatawan yang tidak tahu aturan, ada yang memegang karang hanya untuk foto. Kita sudah jauh lebih baik sekarang, tapi tetap harus waspada,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pokdarwis Iboih bukan hanya mengurus wisata, tetapi juga menjadi benteng yang menjaga keseimbangan alam.
“Kalau Rubiah rusak, siapa yang rugi? Kita sendiri. Anak-anak kami. Jadi, semua pengelola boat dan pemandu punya komitmen yang sama,” tegasnya.
Pulau Rubiah telah lama dikenal sebagai salah satu spot snorkeling terbaik di Asia. Wisatawan mancanegara khususnya Eropa, Australia, Singapura, dan Malaysia menjadikannya tujuan tetap setiap tahun.
Beberapa turis bahkan datang lebih dari tiga kali, hanya untuk menikmati suasana yang menurut mereka “terlalu damai untuk dilupakan”. Bagi Sabang, hal ini menjadi peluang besar.
Menurut Harry Susethia, pemerintah kota ingin memastikan bahwa wisata bahari tetap menjadi tulang punggung industri pariwisata lokal.
“Sabang memiliki banyak potensi, tetapi wisata bahari seperti Rubiah adalah unggulan yang tidak boleh hilang. Pengembangannya harus hati-hati, dokumentatif, dan berbasis pelestarian,” ujar Harry.
Tarmizi menambahkan bahwa para pelaku boat kini juga dilibatkan dalam program pengawasan harian melalui komunikasi langsung.
“Semua saling mengingatkan. Kalau ada boat terlalu dekat karang, kita tegur. Kalau ada sampah plastik, kita ambil. Itu sudah jadi budaya kerja,” katanya.

Apa yang terjadi di Pulau Rubiah bukan hanya cerita tentang wisata. Ini adalah cermin bagaimana sebuah kota menjaga kekayaan yang membuatnya hidup. Sabang berkembang bukan karena betapa banyak orang datang, tetapi seberapa banyak yang tetap bisa dinikmati generasi setelahnya.
Harry menyebut bahwa masa depan Rubiah bergantung pada kolaborasi.
“Pemerintah, pelaku wisata, masyarakat lokal, dan tamu semua harus terlibat. Rubiah tidak akan bertahan jika hanya satu pihak yang bekerja,” tegasnya.

Ketika matahari turun di ufuk barat dan Iboih mulai tenang, Rubiah tampak seperti pulau kecil yang tertidur dalam keteduhan. Namun di bawah airnya, kehidupan terus berdenyut. Karang tumbuh secentimeter demi secentimeter, ikan tetap menari, dan alam bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan.
Sabang ingin menjaga itu semua. Agar wisatawan tetap datang, agar masyarakat tetap mendapatkan manfaat ekonomi, dan agar Pulau Rubiah tetap menjadi halaman paling jujur dari kisah laut Indonesia.
Karena pada akhirnya, Sabang tidak hanya meminta wisatawan untuk datang tetapi juga untuk ikut merawatnya. [ADVERTORIAL]



























































Leave a Review