Dakwah; Haruskah Main Aman?

Penulis Hadi Irfandi Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Penguasa yang kian represif dijadikan barometer toleransi dalam berdakwah, sementara ajang melepas penat menjadi motivasi masyarakat untuk mendengar dakwah. Keduanya adalah tantangan yang mustahil ditutup mata oleh para da’i. Pertanyaannya sekarang: bagaimana menyampaikan kebenaran Islam dengan cara yang tetap diterima publik? Dan mengapa melucu di atas mimbar hingga menyederhanakan ayat agar tidak “menyinggung” siapapun justru bukan solusi?

Bukan rahasia lagi bahwa banyak masyarakat datang ke majelis ilmu setelah seharian bekerja keras di sawah, ladang, pasar, hingga laut untuk dihibur. Para da’i kemudian mengakalinya dengan gaya ceramah yang ringan, lucu, dan menghibur. Sekilas, tidak ada yang salah dengan menghibur umat. Dakwah memang bisa menjadi sarana menyegarkan jiwa.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika masyarakat justru lebih ingat lelucon sang pendakwah ketimbang substansi ceramahnya. Islam yang seharusnya memberi solusi atas persoalan umat malah terpinggirkan oleh tawa. Ketika dakwah tidak lagi mengoreksi masyarakat, ia hanya menjadi bagian lain dari industri hiburan. Padahal, dakwah bukan panggung lawak, dan solusi dari problem umat adalah wahyu, bukan gelak tawa.

Dakwah yang Disensor

Tantangan lain adalah pendekatan memilah-milah ayat. Dengan dalih menjaga harmoni, penceramah kadang enggan menyampaikan ayat-ayat yang bisa menyinggung penguasa, elite, atau golongan tertentu. Akibatnya, ayat tentang perintah menegakkan hukum Islam, larangan riba, atau perintah agar meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah jadi tak tersampaikan.

Proses seleksi ayat bergeser: bukan lagi karena konteks dakwah, melainkan karena tekanan sosial dan politik. Inilah yang disebut banyak ulama sebagai bentuk inferioritas dakwah. Ketika pendakwah mulai menyensor wahyu agar tidak mengundang risiko, sejatinya mereka telah kehilangan posisi sebagai penyampai kebenaran.

Jawaban Islam

Rasulullah SAW sendiri mencicipi berbagai risiko dakwah mulai dari ditawari kedudukan oleh pamannya hingga dilempari batu saat di Thaif  namun beliau tidak pernah menyerah.

Allah berfirman:

“Janganlah kamu mengikuti para pendusta itu. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” (QS. al-Qalam [68]: 8-9).

Melawak berlebihan dan memilah-milah ayat termasuk “sikap lunak” yang dilarang dalam ayat tersebut, karena dapat membuat Islam kehilangan taringnya. Dakwah yang kehilangan ketegasan adalah dakwah yang tunduk pada keinginan kaum pendusta.

Allah juga menegaskan dalam QS. al-Ahzab [33]: 48:

“Janganlah kamu menghiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung.”

Bahkan, Allah menetapkan tidak akan Dia mengazab satu kaum sebelum diutus kepada mereka seorang Rasul yang menyampaikan syariat (QS. al-Isra [17]: 15). Ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab para da’i sebagai penerus misi kenabian. Jangan sampai karena takut tidak viral, takut dibenci, atau takut panggung ceramahnya dicabut, lalu kebenaran dibungkam.

Allah juga mengingatkan dalam QS. Fatir [35]: 37:

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.”

Kembalikan Marwah Dakwah

Karena itu, jika dakwah hanya berhenti pada ajakan bersikap baik, sabar, dan shalat, tanpa menyentuh problem struktural seperti kezaliman politik, siksa kubur, atau dekadensi moral akibat sekularisme, maka tujuan dakwah belumlah tercapai.

Sudah waktunya dakwah dikembalikan pada marwahnya. Dakwah tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang nyaman. Ia juga harus menyasar penguasa, pembuat hukum, dan opini publik yang keliru. Umat Islam hari ini butuh penceramah yang berani mengobarkan kebenaran.

Tetap tersesatnya umat meski berkali-kali tertawa di pengajian bukanlah yang kita inginkan.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi