Oleh: Aulia Halsa (Founder Pajak Literasi)
Dalam ruang politik kita hari ini, terlalu sering telinga rakyat dipenuhi dentuman “demagong” tokoh yang gemar menabuh gong janji, tetapi tak pernah hadir dengan karya nyata. Mereka lihai merangkai kata, pandai memainkan emosi massa, dan jago melahirkan ilusi seolah-olah negeri ini bisa sejahtera hanya dengan pidato panjang. Padahal, kenyataan di lapangan jauh berbeda: rakyat tetap berjuang sendirian, menghadapi harga-harga yang naik, jalanan yang rusak, pendidikan yang mahal, dan pelayanan publik yang jauh dari kata layak.
Fenomena ini bukan barang baru. Dari panggung politik ke panggung kampanye, dari ruang rapat parlemen ke acara seremonial, wajah demagong selalu muncul dengan baju baru. Mereka menjual retorika seolah-olah semua masalah bisa diselesaikan dengan satu kali ucapan. Namun, yang terjadi hanyalah pengulangan janji lama dengan wajah berbeda. Rakyat diperlakukan seperti penonton setia yang tak pernah bosan mendengar lagu lama, meski nadanya sudah sumbang.
Di sisi lain, ada yang kita sebut sebagai “padagong”. Kata ini mungkin terdengar sederhana, tetapi maknanya dalam: suara yang lahir dari pasar, dari kehidupan sehari-hari rakyat kecil. Padagong bukanlah dentuman janji kosong, melainkan gema kerja nyata. Ia tidak selalu berbicara indah, bahkan kadang terbata-bata, namun hadir dengan tindakan yang bisa dirasakan langsung. Padagong bukan tentang pidato panjang, melainkan tentang jalan yang benar-benar diaspal, sekolah yang benar-benar dibangun, dan pelayanan publik yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Demagong vs Padagong sejatinya adalah pertempuran abadi dalam politik. Yang satu hidup dari kata-kata, yang lain hidup dari perbuatan. Yang satu mengandalkan tepuk tangan sesaat, yang lain membangun kepercayaan jangka panjang. Sayangnya, negeri ini masih terlalu sering memberi panggung lebih luas kepada demagong. Mereka dielu-elukan saat kampanye, dipuja ketika mengumbar janji, dan dilupakan hanya setelah semua itu tak pernah menjadi nyata.
Padahal, sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa padagong lah yang sesungguhnya menggerakkan peradaban. Para pendiri bangsa tidak dikenal karena retorika kosong, melainkan karena karya nyata yang mereka torehkan di tengah keterbatasan. Mereka menulis, bergerak, berkorban, dan bekerja keras untuk menyiapkan jalan menuju kemerdekaan. Tidak ada ruang bagi demagong kala itu, sebab rakyat membutuhkan kepastian, bukan ilusi.
Kini, dalam demokrasi modern, demagong kembali menjamur. Sosial media menjadi panggung baru bagi mereka untuk beraksi. Janji-janji yang dulu hanya bisa diumbar di panggung kampanye kini bisa diulang setiap hari lewat layar ponsel. Kata-kata manis disebar dalam bentuk kutipan, video singkat, atau poster digital. Rakyat kembali dibuat mabuk janji, sementara realitas hidup tetap saja pahit.
Di tengah kondisi ini, kehadiran padagong menjadi semakin mendesak. Padagong adalah pemimpin yang tidak sibuk beretorika, tetapi sibuk bekerja. Ia mungkin tidak viral di media sosial, tetapi viral di hati rakyat karena karyanya nyata. Padagong bukan hanya bicara soal visi besar, melainkan juga hadir di sawah, di jalanan, di sekolah, dan di warung kopi tempat rakyat menumpahkan keluh kesah. Suara padagong adalah suara kerja, bukan sekadar gema janji.
Rakyat harus belajar membedakan mana suara demagong dan mana gema padagong. Demagong bisa dikenali dari mulutnya: janji besar, retorika indah, tapi selalu mengawang-awang. Padagong bisa dikenali dari kakinya: langkah yang nyata, meski kecil, tapi meninggalkan jejak. Demagong pandai menabuh gong di panggung, padagong membiarkan gong hidup di pasar kehidupan.
Sayangnya, demokrasi kita masih lebih ramah kepada demagong. Sistem pemilu yang mahal, politik uang, serta budaya politik yang masih transaksional membuat demagong lebih mudah muncul ke permukaan. Padagong yang jujur dan bekerja keras sering kali kalah pamor karena tak punya modal untuk membayar panggung. Akhirnya, rakyat kembali harus memilih berdasarkan retorika, bukan karya.
Namun, situasi ini tidak boleh dibiarkan. Rakyat berhak menuntut kehadiran padagong dalam setiap ruang politik. Rakyat berhak memilih pemimpin yang benar-benar hadir dengan kerja nyata, bukan dengan retorika kosong. Perubahan hanya akan terjadi ketika kita berhenti mengagungkan demagong dan mulai memberi ruang kepada padagong.
Kita harus mengingat bahwa negeri ini tidak bisa dibangun dengan kata-kata. Jalan raya tidak bisa diaspal dengan pidato. Sekolah tidak bisa berdiri dengan retorika. Rumah sakit tidak bisa berfungsi dengan janji. Semua itu membutuhkan kerja nyata, keringat, dan komitmen. Itulah padagong yang sesungguhnya: pemimpin yang lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Negeri ini terlalu lama terjebak dalam dentuman demagong. Gong janji yang nyaring hanya membuat rakyat semakin tuli terhadap kenyataan. Kini saatnya kita mencari gong lain: padagong yang sederhana tapi nyata. Gong yang bukan sekadar suara, melainkan gema dari kerja keras yang bisa dirasakan bersama.
Sejarah akan mencatat, bahwa setiap bangsa yang memilih padagong akan tumbuh kuat, sedangkan bangsa yang terus memuja demagong hanya akan berjalan di tempat. Negeri ini harus memilih: tetap mabuk dalam dentuman demagong, atau bangkit dengan gema padagong. Pilihan ada di tangan kita semua.






















































Leave a Review