Bendera identik dengan simbol perjuangan, meskipun perjuangan itu dianggap telah usai, atau berakhir dengan tragis, namun paling tidak bendera tidak boleh kehilangan makna sejarahnya. Soekarno; sang ideolog sekaligus pemimpin revolusi pernah mengingatkan anak bangsa agar jangan sekali-kali melupakan sejarah (jasmerah), namun pada kenyataannya kita kini sedang berada di garis waktu memanipulasi sejarah tak karuan, dengan tidak menyebutnya membabi-buta.
Kekuasaan-tuan raja-raja kecil-raja karbitan-raja jadian hingga raja-rajaan hari ini seperti kepanasan dengan pola kekuatan bendera yang diinginkan rakyat. Bendera memang sekedar selebaran kain yang dijahit, namun ia memiliki daya lenting dan suara yang mampu menusuk pusaran kenyamanan kekuasaan yang cenderung korup.
Bendera mampu memberi sinyal ketika kapan seorang panglima mencapai puncak karirnya di saat bersamaan berada diposisi pecundang kelas kakap. Seolah-olah perjuangan kolektif yang dianggap mengandung dendam, darah, luka dan tangis air mata bisa hilang begitu saja. Alih alih dibingkai sebagai merawat dendam, namun yang terjadi adalah sedang menyajikan santapan pembodohan di hadapan meja makan para bekas prajurit yang semakin kelaparan setelah bendera purna-pengibaran, setelah purna-gerilyawan kehilangan makna juangnya dan pengorbanannya di hadapan mulut comberan para preman yang mengaku kestria perjuangan.
Padahal tidak ada yang namanya kesatria yang haus pujian dan validasi sebagai pejuang. Karena kesatria adalah jalan sunyi, jiwanya tergerak atas panggilan sejarah dalam misi penyelamatan nasib hidup orang banyak.
Dapat dibayangkan, betapa tragisnya nasib bendera berubah menjadi kain lap meja makan bekas makanan panglima yang pernah memimpin pasukan yang mengatasnamakan perjuangan suatu kedaulatan.
Bendera yang pernah menjadi penyulut api perjuangan rakyat seketika harus dikubur sedalam mungkin tanpa bekas. Padahal, porsi sejarah dengan realitas masa kini dan ke depan sangat jauh garis pembatasnya.
Sejarah yang diluruskan akan melahirkan pewarisan, sebaliknya, sejarah yang dimanipulasi akan melahirkan perbudakan terstruktur dan massif.
Dalam kehidupan empiris, terkadang kita belum selesai berurusan dengan sejarah sendiri, di waktu bersamaan, kita juga terus-terusan menuntut hak hidup para korban “perdamaian” yang layak dengan berpedoman pada pencapaian perjuangan sejarah. Tentu hal ini sesuatu yang paradoks, aneh bin ajaib, tidak masuk akal bagi orang gila sekalipun, namun sangat rasional bagi orang yang rakus, tamak dan haus kekuasaan-matanya hanya melotot pada proyek setoran dan berbagai skema transaksional jabatan publik.
Kini, bendera itu tidak lagi menjadi simbol konsolidasi, tidak lagi menjadi instrumen pencapaian visi, tidak lagi menjadi wahana lajunya komando. Bedil dan sejenisnya telah dipotong jadi besi tua tak berguna, ruh perjuangan telah mengkristal semu tak berarti mengikuti jiwa pejuang yang terlanjur rela berkorban tanpa pambrih.
Sejak itu pula, panglima mengambil alih, aturan main digantikan secara sepihak dan berpikir picik akibat ganti posisi zona perang. Bendera yang pernah menjadi suatu kebanggaan, kini berubah seperti aib yang memalukan. Ketika dikibarkan, ia menjadi komando yang rusak dan tidak tertib, pola kemerdekaan berubah menjadi “pembonekaan”.
Teriakan prajurit bertubi-tubi datang dengan teriak perut kosong. Masyarakat yang pernah menjadi gudang logistik tak kasat mata kini berubah menjadi barang dagangan murah. Kepentingan masyarakat menjadi objek manipulatif memperkaya diri.
Saat bendera dilarang berkibar, barangkali panglima tidak lupa atau pura-pura lupa daratan. Mungkin ia tidak lagi sadar posisinya saat ini karena pernah mengibarkan bendera dengan tertekan. Sehingga tekanan saat ini mendorong dirinya agar tidak boleh hadir panglima lain selain dirinya, meskipun kedaulatan panglima itu sesungguh adalah amanah rakyat yang dipantaskan pada dirinya.
Bagi panglima mungkin itu adalah perintah, namun tidak bagi prajurit yang pernah bersumpah demi Tuhan, tidak bagi masyarakat yang tidak lupa pada tujuan peperangan atau perdamaian. Hanya panglima pecundang dan barisannya yang sanggup menikmati berbagai sandiwara murahan terus dipertontonkan secara berulang-ulang. Namun demikian, akan tiba suatu waktu, sejarah akan menunjukkan jalannya sendiri dengan peristiwa yang tak terduga oleh panglima yang bermain api dengan bendera. Percaya atau tidak, cermati saja tragedi panglima di babak selanjutnya! [Agapol]























































Leave a Review