Oleh : Danu Abian Latif
Penulis Buku Opini Nakal untuk Indonesia
Ekspos Gagasan Mega spektakuler
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf dengan nama populernya, Mualem berkampanye penuh ambisi menjadikan Aceh sebagai gerbang ekspor regional. Ia menyatakan akan hidupkan kembali jalur dagang Aceh-Malaysia, khususnya lewat Pelabuhan Krueng Geukueh dan Sabang, yang sempat vakum selama dekade terakhir (bisnisia.id).
Tak hanya itu, ia juga membidik Sabang sebagai pelabuhan bebas internasional alternatif, menyaingi Singapura dengan mengeklaim terusan Kra akan mengubah Aceh menjadi titik logistik penting (Wikipedia).
Cepatnya ia membuka platform sea-RoRo (kapal feri) ke Penang dengan jaminan flow ekspor produk khas Aceh seperti kopi Gayo, ikan, dan hasil laut menambah narasi hiper ekspansif, layaknya dongeng pembangunan ekonomi tak terbendung.
Data Ekspor Menjanjikan
Secara angka, tren ekspor memang menggembirakan. Misalnya, pada Juni 2024, Aceh sejak lama mencatat surplus luar biasa sebesar USD 75,99 juta, dengan ekspor mencapai USD 114,8 juta . Tak lama kemudian, Surplus neraca perdagangan terus berlanjut hingga September 2024 ekspor sebesar USD 58,2 juta, impor USD 45,5 juta . Bahkan di akhir 2024, Aceh mencetak surplus USD 61,14 juta (TITIK.co).
Namun, sejatinya, “keuntungan” ini ditopang oleh komoditas mentah unggulan batu bara menyumbang 62% ekspor, diikuti kopi, cangkang sawit, dan perikanan (TITIK.co). Ini bukan problem untuk ekspor mentah, tapi harus diakui: nilai tambah di tangan petani dan pekerja lokal masih jauh dari ideal. Ini ekspor tanpa transformasi.
Pelabuhan Krueng Geukueh: Potensi atau Panggang Festival Impian?
Krueng Geukueh sering dijadikan simbol emas. Faktanya ia berada di Selat Malaka jalur pelayaran tersibuk dunia tetapi saat ini baru dimanfaatkan 25% kapasitasnya berdasarkan volume tonase, meski bisa menampung 4-5 juta ton per tahun (WASPADA). Kedalaman yang hanya 9-11 meter, serta fasilitas bong-ar muat manual, menghambat efisiensi. Banyak eksportir akhirnya memilih Pelabuhan Belawan (Medan) yang lebih mahal dan jauh, demi kecepa Aceh tan dan keleluasaan (WASPADA).
Namun, ada kabar ekspor perdana: pada pertengahan 2025, 12.000 ton CPO Aceh diekspor melalui Krueng Geukueh langsung ke India, menyederhanakan distribusi logistik dan mengerek PAD lokal (aspost.id). Ini langkah konkret, bukan cuma janji sayangnya, volume dan frekuensinya masih terbatas.
Sebelumnya, pada 2023, pelabuhan ini juga sempat mengekspor 10.000 ton cangkang sawit tujuan Jepang via kapal berbendera Singapura (dishub.acehprov.go.id). Ini menunjukkan potensi riil, tapi volume itu masih kecil jika dibanding potensi komoditas Aceh.
PT Pelindo I dan Bea Cukai setempat menyatakan kesiapan mereka mendukung ekspor Roro ke Penang. Tantangannya bukan lagi rencana, tapi kesiapan masyarakat dan pengusaha lokal memenuhi regulasi dan produktivitas ekspor berkualitas (Kabar Aktual).
Surplus Tidak Artinya Kesejahteraan Rakyat.
Data luar biasa tetapi jangan cepat puas. Pertumbuhan logistik dan surplus belum tercermin di kesejahteraan petani dan UMKM. Surplus itu dikerek oleh ekspor mentah petani kopi Gayo belum merasakan dampak signifikan karena pasokan tetap dieksploitasi oleh broker dan eksportir besar.
Sementara itu, ketimpangan distribusi tetap error data menunjukkan ketergantungan infrastruktur, regulasi ekspor yang tak merata, dan lemahnya pemasaran kolektif. Benang merahnya: kita punya surplus tetapi rakyat miskin masih segan tersentuh manfaat. Bahkan di tengah surplus, angka kemiskinan Aceh tercatat meningkat menjadi 15,43% pada September 2020, meskipun sebelumnya sempat di bawah angka itu. Ekspor tinggi bukan solusi utuh. Ia hanya mengobati kebutuhan akan devisa, bukan menunjukkan distribusi adil.
Sabang dan Krueng Geukueh: Pelabuhan Ikonik Kata, tapi Butuh Aksi Konkret
Sabang punya sejarah panjang sebagai pelabuhan bebas sejak 1895–1965 (Wikipedia). Namun statusnya pasca konflik Aceh dan tsunami banyak tertunda. Mualem ingin menghidupkan kembali kejayaan Sabang harga diri Aceh di lautan Hindia.
Harap dicatat: menjadi “pelabuhan bebas” tidak serta merta menarik investor. Jika tidak dibarengi dengan infrastruktur pendukung bandara komersial, jalan mulus, zona industri mimpi itu akan jadi sekadar banner wisata.
Demikian pula Krueng Geukueh butuh ditingkatkan ulang dengan Pendalaman dermaga, modernisasi crane bongkar-muat container, digitalisasi, dan integrasi jalur darat (Tol Lhokseumawe-Langsa, rel Trans Sumatera) agar tidak lagi menjadi pelabuhan eksklusif bagi eksportir besar, tapi jadi akses rakyat (WASPADA).
Ekspor untuk Siapa?
Mualem sedang membangun ekspektasi besar tentang Aceh sebagai eksportir besar-kopi, sawit, dan pelabuhan pintu laut. Tapi ada kritikus yang menilai bahwa ini ibarat “jembatan emas tanpa fondasi kuat”.
Ekspor bukan tujuan utama ia hanyalah sarana. Yang dibutuhkan adalah strategi menyeluruh. Industri olahan lokal-bukan hanya kirim biji kopi, tapi olah jadi produk premium. Kebijakan plasma sawit benar-benar bekerja-agar petani mendapat saham dan akses pasar langsung. Reformasi infrastruktur pelabuhan-kedalaman, peralatan modern, dan sistem digital. Pelabuhan rakyat-tidak ada script “ekspor rakyat” kalau petani dan UMKM dipinggirkan.
Jika Ekspor Tidak Merata, Ekonomi Akan Hanyut
Aceh sedang diperhitungkan di peta ekspor regional, memang dengan surplus luar biasa dan pelabuhan-pelabuhan diambang graduate status. Tapi kalau pendekatan ekonomi tidak inklusif hanya fokus pada volume barang keluar tanpa menyasar kesejahteraan umat maka yang terjadi tak lain adalah eksploitasi berbalut pembangunan.
Ekspor ke Penang hanyalah simbol jika tidak diikuti dengan redistribusi kekayaan, ibarat memanen buah sementara akar pohon terus rapuh.
Mualem di atas panggung memperkuat titel “ekspor-impor”. Namun rakyat di sawah dan pantai masih menunggu kapan mereka akan menjadi bagian cerita, bukan figuran.























































Leave a Review