Katacyber.com | Meulaboh — Tim peneliti lapangan dari Universitas Teuku Umar (UTU), bekerjasama dengan Konsorsium CiCoFest Kopi Nusantara, melakukan survei lapangan dan kunjungan ke kebun kopi di Gampong Sabet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya yang berlangsung pada 3 Agustus 2025.
Kegiatan ini merupakan bagi awal dari pengembangan model perhutanan sosial berbasis Agroforestri Kopi berketahanan Iklim, juga sebagai basis pengembangan nilai ekonomi karbon di Provinsi Aceh. Kegiatan penelitian ini diketuai oleh Dr. Rahmat Pramulya, dosen dan peneliti dari Fakultas Pertanian UTU yang tengah mengembangkan pendekatan baru untuk mengintegrasikan kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani kopi di daerah setempat.
Survei dan kunjungan kebun kopi di Gampong Sabet, Aceh Jaya dipimpin oleh Ibu Dr. Dewi Fithria yang merupakan dosen dan ketua Prodi S2 Ilmu Pertanian UTU. Selain itu, Tim survey juga melibatkan peneliti lain diantaranya Fachruddin, Maulidil Fajri dan Ego Ibnu Wijaksena. Dr. Rahmat Pramulya selaku ketua penelitian kepada media ini dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/8/2025) menjelaskan tujuannya kegiatan yang tidak hanya sebatas pada produktivitas kopi semata, melainkan juga pada kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon melalui praktik pertanian yang ramah lingkungan. Dengan melibatkan beberapa pihak, diharapkan dapat memperlancar proses penilaian sehingga mendapatkan hasil sesuai spesifikasi rencana awal.

Pada kegiatan ini, turut hadir perangkat Gampong, pengurus LPHG (Lembaga Pengelolaan Hutan Gampong) Samatajaga, dan petani kopi. Kegiatan dimulai dengan diskusi partisipatif dan penjelasan secara teknis dalam pengukuran stok karbon, inventarisasi, serta rantai pasok kopi. Terdapat dua lokasi kebun kopi yang dikaji dengan pendekatan plot sampling, masing-masing mewakili agroforestri sederhana dan kompleks. Temuan awal menunjukkan potensi kebun sebagai sistem agroforestri campuran dan produksi.
Kegiatan ini di mulai dengan sesi pembukaan oleh Ego Ibnu Wijaksena dilanjutkan Fachrudin, sebagai pengantar program katalis oleh dosen pendamping. Ia menjelaskan maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan kepada para peserta dan mitra lokal, khususnya petani kopi yang tergabung dalam kelompok tani. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemetaan awal kondisi aktual kebun kopi, serta identifikasi potensi dan tantangan yang dihadapi petani dalam budidaya kopi.

Fachrudin menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan sebagai sarana pengumpulan data, tetapi juga sebagai langkah awal membangun komunikasi dan kolaborasi antara pihak akademisi dan masyarakat dalam rangka pengembangan sistem pertanian kopi yang berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi keterbukaan dan antusiasme para petani dalam menerima tim, serta mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam proses pelaksanaan kegiatan agar tujuan bersama dapat tercapai dengan optimal.
Dosen lainnya, Dewi Fithria, tutur memberikan penjelasan mengenai kegiatan pengabdian dosen dan mahasiswa kepada masyarakat merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia menegaskan kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada riset, tetapi juga pada pemberdayaan petani melalui transfer pengetahuan, teknologi tepat guna, dan pengembangan kelembagaan.

Pengabdian ini, lanjut Fithria, juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami realitas sosial, ekonomi, dan ekologis yang dihadapi masyarakat desa, khususnya pelaku usaha tani kopi. Pendekatan yang digunakan bersifat dialogis dan partisipatif, agar solusi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.
Kehadiran Tim Survei mendapatkan sambutan hangat dari warga setempat. Keuchik Faisal Gampong Sabet dalam sambutannya turut mengapresiasi atas kedatangan tim kampus ke desa. Ia berharap kolaborasi ini dapat mendukung penguatan kelembagaan desa, khususnya Lembaga Pengelolaan Hutan Gampong (LPHG) yang baru saja dibentuk dan memperkuat pengelolaan potensi Gampong secara lestari.

Terkait hal ini, kehadiran pihak kampus diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam pendampingan teknis, perencanaan, dan penguatan kapasitas kelembagaan LPHG ke depan. Ia juga menyampaikan berbagai potensi pertanian lokal yang ada di wilayah desa, seperti kopi, jernang, pinang, dan nilam, yang selama ini telah menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat. Namun demikian, pengelolaan yang masih bersifat tradisional dan terbatasnya akses pasar menjadi tantangan utama yang dihadapi petani.
Oleh karena itu, Keuchik berharap kegiatan pengabdian ini tidak hanya berfokus pada survei, tetapi juga mencakup upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, termasuk dalam hal budidaya berkelanjutan, pengolahan pascapanen, dan pemasaran produk. Beliau menutup sambutan dengan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan memanfaatkan momentum ini sebagai langkah awal menuju pengembangan ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Di tempat yang sama, penjelasan teknis mengenai metode survei dan pengembangan data yang disampaikan oleh Fajri. Dalam penjelasannya, kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi aktual lahan dan tanaman kopi yang dikelola oleh petani, termasuk aspek vegetasi, struktur tajuk, jenis tanaman penaung, kondisi tanah, praktik budidaya, serta potensi dan tantangan yang dihadapi dalam sistem pertanian kopi saat ini.
Survei dilakukan dengan menggunakan metode observasi langsung di lapangan, pencatatan data vegetasi menggunakan tally sheet standar nasional, serta wawancara singkat dengan petani pemilik lahan. Kemudian tim juga menjelaskan bahwa pengumpulan data dilakukan dalam bentuk plot sampling, dengan pendekatan transek atau petak contoh berukuran tertentu, yang ditentukan secara acak maupun berdasarkan kesepakatan bersama.
Penjelasan ini bertujuan agar seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama terhadap tujuan survei dan dapat berpartisipasi aktif dalam proses pengumpulan data secara partisipatif dan terbuka.
Di jadwalkan kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan dalam beberapa waktu kedepan. Hal ini menjadikan bagian penting dalam rangkaian kegiatan berikutnya, seperti FGD Penghidupan Berkelanjutan Petani Kopi (6-7 Agustus), Orientasi Kegiatan bersama Tim Peneliti Bogor (8 Agustus), Pelatihan dan pengambilan data stok karbon tanaman dan jejak karbon pengolahan kopi (9 – 13 Agustus). Kemudian pelaksanaan FGD Penguatan Kelompok Pengelola PS dan Uji Citra Rasa Kopi Lamno Minggu Kedua September 2025 mendatang.
Kegiatan ini menunjukkan antusiasme dan kolaborasi yang kuat antara akademisi dan masyarakat serta pemerintah desa, dengan tujuan sebagai fondasi awal untuk mendorong sistem pertanian kopi yang produktif, berkelanjutan yang berbasis potensi lokal di Gampong Sabet dan sekitarnya.(*)




























































Leave a Review