20 Tahun Damai Aceh: Luka yang Tak Pernah Padam dan Seruan Perlawanan Berdasarkan Syariat

Penulis Tgk Muhammad Afif Irvandi El Tahiry
Founder Komunitas Mahasiswa Peduli Dayah (KMPD)

Dua dekade telah berlalu sejak penandatanganan MoU Helsinki, yang kala itu disambut harapan besar akan lahirnya kedamaian, kedaulatan, dan kesejahteraan di Bumi Serambi Mekkah. Namun, perjalanan panjang ini justru menyisakan luka yang belum sembuh. Harapan yang dulu begitu tinggi kini tergerus oleh kenyataan pahit: korupsi, pengkhianatan, dan pelanggaran amanah yang dilakukan oleh sebagian elite yang mestinya menjadi pengayom rakyat.

Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang digadang-gadang sebagai instrumen kebangkitan ekonomi rakyat malah berubah menjadi lahan bancakan segelintir penguasa. Kedaulatan Aceh yang dijamin dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) kian tergerus oleh intervensi pusat dan perilaku pemimpin yang abai pada kepentingan rakyat.

Kepemimpinan sebagai Amanah Ilahi

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan adalah amanah besar yang tidak boleh dipermainkan. Allah SWT memerintahkan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Rasulullah SAW pun menegaskan:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mereka yang mengabaikan amanah, menindas rakyat, dan memperkaya diri dari penderitaan orang banyak, akan mendapat hisab yang berat di hadapan Allah SWT.

Warisan Perjuangan dan Jihad Fi Sabilillah

Sejarah Aceh sarat dengan pengorbanan. Nama-nama seperti Dr. Tgk. Hasan di Tiro, Abdullah Syafi’i, Ishak Daud, Abuya Muda Waly, Abu dan Abon Seulimum, hingga Panglima Tengku Chik Di Tiro adalah simbol jihad fi sabilillah. Mereka mengorbankan harta, jiwa, dan raga demi tegaknya keadilan dan kedaulatan Aceh di bawah nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Namun, cita-cita suci itu kini ternodai oleh kepentingan pragmatis dan kerakusan. Dana rakyat menjadi ladang eksploitasi. Janji-janji MoU Helsinki dan amanah UUPA seperti kehilangan ruhnya.

Kewajiban Melawan Kezaliman

Dalam kaidah ushul fiqh ditegaskan:

Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar (memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran)

La Darar wa la Dirar (tidak boleh menimbulkan bahaya dan kerugian)

Al-‘Udwan Yuzal (segala bentukan penindasan harus dihapuskan)

Imam Syafi’i menekankan bahwa pemimpin yang menzalimi rakyat adalah pendosa besar, dan rakyat berhak melakukan perubahan jika hak-haknya diabaikan. Menegur kezaliman, baik dengan tangan, lisan, maupun hati, adalah kewajiban setiap Muslim.

Harapan Korban Konflik

Dua puluh tahun pascaperdamaian, keluarga korban konflik masih menantikan:

1. Pengusutan tuntas pelanggaran HAM tanpa kompromi

2. Pemulihan psikologis dan sosial

3. Pemberdayaan ekonomi agar tidak terpinggirkan

4. Pengakuan resmi atas pengorbanan mereka

5. Keterlibatan aktif dalam proses rekonsiliasi

Tanpa itu semua, kedamaian akan terus terasa hampa.

Seruan untuk Generasi Muda

Sebagai generasi penerus perjuangan ulama dan pejuang Aceh, saya menyerukan kepada seluruh rakyat: jangan tunduk pada kezaliman. Damai tanpa keadilan bukanlah damai sejati. Bersatu, bersuara, dan berjuang dengan iman serta keberanian adalah satu-satunya jalan untuk memastikan amanah ini tidak terus dikhianati.

Menghidupkan Api Perjuangan

Ulama besar Aceh seperti Abuya Muda Waly pernah mengingatkan bahwa pemimpin yang mengkhianati rakyatnya adalah yang paling hina di hadapan Allah. Tengku Chik Di Tiro mengajarkan bahwa jihad bukan hanya melawan penjajah bersenjata, tetapi juga melawan penguasa yang menindas dan melanggar janji.

Kita tidak boleh membiarkan darah para syuhada dicemari korupsi dan pengkhianatan. Perjuangan ini harus diteruskan dengan ilmu, iman, dan keberanian.

Penutup: Damai Sejati Hanya dengan Keadilan

Tan Malaka pernah berkata: “Revolusi adalah jalan berduri, penuh darah dan air mata.” Jalan menuju damai sejati di Aceh pun demikian tidak mudah, tetapi harus dilalui demi masa depan yang bermartabat.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hajj: 38)

Dan Rasulullah SAW mengingatkan:

“Barang siapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Kita, generasi penerus ulama, pejuang, dan syuhada Aceh, wajib menjaga api perlawanan ini agar keadilan benar-benar tegak. Hanya dengan itu, Aceh akan meraih kemerdekaan sejati adil, makmur, dan berlandaskan syariat Islam.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi