Katacyber.com | Meulaboh – Jalur maut di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, hingga kini masih menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan yang tersisa bagi warga setempat. Pada Kamis (23/7/2026), potret memilukan kembali terlihat saat Ansari (45), seorang warga Sikundo, harus memikul lembaran atap seng di atas pundaknya secara manual.
Ia berjalan perlahan, melangkah dengan sangat hati-hati demi menjaga keseimbangan di atas seutas “Titi Ayun”. Jembatan gantung seadanya ini di pasang oleh warga Sikundo secara bergotong royong dan hanya terbuat dari bentangan kabel listrik dan kabel baja pascabencana, yang kini dipaksa berfungsi sebagai jalur transportasi utama penyeberangan warga.
Atap seng yang berat tersebut terpaksa diangkut dengan tenaga fisik sendiri demi menyokong pembangunan fasilitas sekolah di seberang sungai. Ironisnya, aksi ekstrem bertaruh nyawa ini telah menjadi makanan sehari-hari yang biasa dilalui masyarakat setempat sejak infrastruktur utama mereka hancur dihantam banjir bandang lada November 2025.
Ketiadaan jalur alternatif membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain menantang bahaya setiap hari. Selain material bangunan, seluruh hasil pertanian warga seperti cabai dan komoditas kebun lainnya juga harus digendong di atas pundak untuk bisa dibawa keluar dari desa.
Kondisi ini kian memprihatinkan karena jembatan kabel darurat ini merupakan satu-satunya akses vital yang menghubungkan Dusun Sarah Sarei dan Dusun Durian.
“Ini jalan satu-satunya yang selalu dilewat, orangtua maupun anak-anak juga melewati titi ayun ini, sehingga mau tidak mau, bahkah membahayakan sekalipun tetap kita tempuh,” ujar Ansari.
Akibat ketiadaan jembatan yang layak, roda perekonomian warga pedalaman menjadi sangat terhambat. Warga berkebun harus menghabiskan energi ekstra hanya untuk mendistribusikan hasil panen mereka ke pasar pekan maupun ke desa terdekat. Ketertinggalan infrastruktur ini seolah mengisolasi potensi ekonomi Desa Sikundo dan membiarkan masyarakatnya berjuang sendiri di tengah keterbatasan.
Melihat kondisi yang tak kunjung membaik, masyarakat Sikundo kini berada di titik jenuh dan menaruh harapan besar agar pemerintah segera turun tangan. Mereka menjerit meminta keadilan sosial berupa percepatan pembangunan jembatan permanen yang kokoh dan aman bagi mobilitas warga.
“Harapan kami untuk jembatan permanen supaya segera dibantu, kami berharap juga kepada pemerintah untuk mempercepat pembangunan soalnya banyak anak sekolah yang kesulitan untuk melintasi ke sekolah,” tegas Ansari mengakhiri keluh kesahnya. (GM)

























































Leave a Review