Proyek Rehab 1,5 M Dari CSR PT. MB Tidak Masuk Akal, Direktur MCT: Hasil Bukan Membanggakan Tapi Memalukan 

Katacyber.com | Meulaboh – Proyek renovasi Tugu Pelor dan Pedestarian di Jalan Gajah Mada yang menelan anggaran Rp. 1,5 Miliar dari dana CSR PT Mifa Bersaudara menuai kritik tajam dari tokoh pemuda Aceh Barat. Alih-alih mendapatkan rasa kebanggaan, hasil proyek justru dianggap memalukan.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Melborn Traning Center (MCT), Maulana Ridwan Raden, yang menilai hasil proyek rehab tugu Simpang Pelor yang berlokasi di depan Kantor DPRK dan Pedestarian di depan Kantor Bupati Aceh Barat gagal di renovasi.

“Lampu yang di pasang di jalur Pedestarian kerap bermasalah, terkadang beberapa lampu hidup di pagi hari akan tetapi di malam hari padam, sedangkan proyek ini baru selesai di buat,” tuturnya kepada Katacyber di Meulaboh, Rabu (13/8/2/25).

Selain itu, tugu pelor yang “dipercantik” akan tetapi hanya di warnai menggunakan cat “murahan” dengan kualitas rendah. Kemudian, kolam air yang berada di keliling tugu begitu kotor dan keramik tidak di ganti, masih mempertahankan fisik lama.

“Saya menduga, proyek ini hanya bersifat “Facial”, murahan dan hanya kejar foto peresmian,” sindir Maulana. Ia juga menilai dana sebesar itu tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. “Mungkin saja harga catnya mahal karena sudah termasuk foto -foto pejabat,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa seharusnya proyek rehab tersebut dapat mempercantik wilayah perkotaan. Tugu pelor yang menjadi ikonik kota Meulaboh menjadikan pengunjung dan masyarakat sekitar senang bukan mencemooh.

“Ini bukan mendapatkan apresiasi masyarakat, tetapi kritikan. Bagaimana tidak, lampu yang baru di pasang saja sudah ada yang padam, di tambah cat yang digunakan di tembok bangunan tugu pelor sudah luntur dan berbekas saa disentuh,” ungkapnya.

Dikatakannya, selaku perwakilan dari MCT, kami meminta dan menuntut pemerintah daerah untuk transparansi anggaran dan perbaikan ulang bangun yang dinilai cacat tersebut.

“Kami ingin pemerintah Membuka rincian penggunaan anggaran secara transparan, termasuk harga material yang digunakan,” tegasnya.

Maulana juga meminta pemerintah untuk segera mengevalusi pemegang proyek serta bertanggung jawab memperbaiki kerusakan teknis seperti lampu pedestrian dan kualitas pengecatan tugu. Kemudian Menetapkan standar kualitas agar proyek berikutnya tidak menjadi bahan tertawaan publik.

“Saya yakin, PT Mifa sebagai penyedia dana CSR berharap ini bermanfaat nyata yang membuat bangga masyarakat. Tapi realisasi nya, ini hanya menjadi sekadar hal yang hanya berfokus pada penutupan laporan atau memotong pita peresmian. Saya berharap, kedepan PT mifa lebih memastikan dana CSR nya tepat sasaran dan memastikan benar-benar menjadi warisan positif bukan sekedar monumen pemborosan.” tutup Maulana Ridwan Raden. (*)

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi