Penulis Mhd. Azmi (Peserta Advance Training Badko HMI Sumut)
Indonesia gemar menyebut diri sebagai negara agraris, tetapi kita sedang menghadapi ironi yang menyakitkan: para petani kita semakin menua, dan anak muda enggan turun ke sawah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan mayoritas petani kini berusia di atas 45 tahun bahkan banyak yang mendekati usia pensiun. Pertanyaannya, siapa yang akan memastikan pangan kita tetap tersedia ketika tangan-tangan tua itu berhenti bekerja?
Di tengah kekhawatiran ini, muncul satu titik terang: petani milenial. Generasi yang sering dicap terlalu digital, terlalu “kota”, dan terlalu malas berkotor-kotor kini justru mulai membuktikan sebaliknya. Mereka turun ke ladang, membawa serta semangat baru berbasis teknologi, berpikir inovatif, dan berorientasi pada pasar global.
Inilah yang menjadikan petani milenial bukan sekadar pelengkap statistik, tapi aktor penting dalam masa depan pertanian Indonesia. FAO dalam laporan Youth and Agriculture (2014) menegaskan bahwa keberlanjutan sistem pangan membutuhkan regenerasi petani muda. Anak muda adaptif terhadap teknologi dan mampu menciptakan nilai tambah dalam rantai pasok pangan.
Fakta ini tidak hanya berhenti di atas kertas. Program Petani Milenial yang digagas Kementerian Pertanian sejak 2021 telah melahirkan ribuan petani muda baru. Mereka diberi pelatihan, akses modal, dan pendampingan. Lalu muncul platform seperti TaniHub, Habibi Garden, dan iGrow menggabungkan pertanian dengan konsep startup, menciptakan ekosistem pertanian modern yang relevan dengan zaman.
Namun, jalan ini tidak tanpa hambatan. Studi Sahat et al. (2021) menyebut dua tantangan utama: akses lahan dan permodalan. Harga tanah yang mahal dan minimnya dukungan finansial sering menjadi tembok tinggi bagi anak muda yang ingin bertani. Belum lagi urusan birokrasi yang berbelit-belit, seolah pertanian hanya milik mereka yang sudah mapan.
Jika kita sungguh ingin menjadikan petani milenial sebagai tulang punggung pangan nasional, maka dukungan tidak boleh setengah hati. Pemerintah harus menyediakan akses tanah yang terjangkau, memperluas skema kredit mikro, dan memangkas jalur birokrasi yang tidak ramah petani muda. Pendidikan pertanian pun harus bertransformasi, mencetak inovator, bukan sekadar teknisi.
Lebih dari itu, masyarakat juga harus berhenti memandang profesi petani sebagai pekerjaan marginal. Petani adalah penjaga hidup kita. Dan ketika generasi muda mulai menjadikan pertanian sebagai gaya hidup melalui urban farming, hidroponik, atau kebun komunal kita perlu mendukung, bukan mencibir.
Seperti disampaikan Soetrisno (2018), anak muda bukan sekadar pewaris ladang, tapi juga agen perubahan yang membawa pertanian ke era industri 4.0. Mereka datang dengan alat semprot otomatis, sensor kelembaban, aplikasi distribusi, bahkan jejaring global. Ini bukan ilusi masa depan ini kenyataan yang sedang tumbuh.
Jadi, mari kita hentikan narasi “anak muda tidak mau bertani”. Yang benar: mereka mau, tapi sistemnya belum siap menyambut. Sudah waktunya kita bangun ekosistem pertanian yang ramah bagi generasi baru. Sebab tanpa petani muda hari ini, kita sedang mempertaruhkan pangan kita esok hari.






















































Leave a Review