Ketegangan Memuncak: Apa Jadinya Jika Selat Hormuz Ditutup?

Oleh: Danu Abian Latif
Penulis Buku Opini Nakal untuk Indonesia

Selat Hormuz selat sempit yang memisahkan Teluk Persia dari Laut Arab kembali menjadi sorotan dunia menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya. Dalam beberapa pekan terakhir, retorika keras dan aktivitas militer yang meningkat di kawasan tersebut memunculkan kekhawatiran serius, bagaimana jika Selat Hormuz benar-benar ditutup?

Selat Hormuz bukan sembarang jalur laut. Lebih dari 20% pasokan minyak global melewati selat ini setiap hari. Penutupannya, bahkan hanya sementara, dapat mengguncang pasar energi dunia, memicu krisis ekonomi global, dan memperkeruh hubungan internasional.

Posisi Strategis Selat Hormuz
Selat Hormuz memiliki lebar hanya sekitar 33 km di titik tersempitnya, namun memiliki kedalaman cukup untuk dilewati kapal-kapal supertanker. Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), pada tahun 2023, sekitar 17 juta barel minyak per hari (bph) melewati Selat Hormuz. Ini mencakup sekitar 30% dari perdagangan minyak laut global.

Selain minyak mentah, Selat Hormuz juga menjadi jalur ekspor utama gas alam cair (LNG) dari Qatar, yang menyuplai sekitar 20% pasar LNG dunia. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan bahkan Eropa sangat bergantung pada ketersediaan energi yang melewati selat ini.

Apa yang Menyebabkan Ancaman Penutupan?
Ancaman terhadap Selat Hormuz datang dari Iran yang menganggap penutupan selat sebagai kartu truf strategis dalam menghadapi tekanan internasional, terutama sanksi dari Amerika Serikat. Pada awal 2025, setelah serangkaian insiden maritim dan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Teluk Oman, para pejabat Iran kembali menyatakan bahwa “jika Iran tidak bisa mengekspor minyaknya, maka tak ada negara Teluk yang bisa.”

Walaupun ini bukan pertama kalinya ancaman seperti itu dikemukakan, peningkatan kehadiran militer AS dan sekutunya, serta potensi perang proksi dengan Israel di kawasan, menjadikan kemungkinan penutupan ini lebih nyata dari sebelumnya.

Dampak Terhadap Harga Minyak Dunia
Dalam simulasi pasar energi oleh S&P Global dan IEA, jika Selat Hormuz ditutup sepenuhnya selama satu minggu saja, harga minyak bisa melonjak dari $85 per barel menjadi lebih dari $150 per barel. Penutupan yang lebih lama dapat menyebabkan lonjakan harga hingga $200 per barel, memicu inflasi global.

Pasar minyak saat ini sudah berada dalam kondisi rapuh akibat konflik di Ukraina, pemangkasan produksi OPEC+, serta meningkatnya permintaan energi . Sebuah krisis di Selat Hormuz bisa menjadi katalisator bagi resesi global kedua dalam satu dekade.

Dampak Terhadap Negara-Negara Konsumen Energi
Beberapa negara akan sangat terdampak jika aliran energi melalui Selat Hormuz terganggu, Jepang dan Korea Selatan Hampir 90% impor minyak mereka melewati Selat Hormuz. India Sekitar 80% impor minyak India berasal dari kawasan Teluk. Tiongkok Sekitar 40% pasokan minyak mentah Tiongkok melewati selat ini. Eropa Ketergantungan LNG dari Qatar membuat Eropa juga rentan.

Pengaruh Terhadap Indonesia
Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia juga tidak kebal dari dampaknya. Meski sebagian minyak Indonesia datang dari kawasan Asia-Pasifik, harga minyak global yang melonjak akan berdampak langsung pada APBN melalui subsidi energi, nilai tukar rupiah, dan inflasi.

Berdasarkan simulasi Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (2024), setiap kenaikan $10 per barel dalam harga minyak global bisa menambah beban subsidi energi hingga Rp30 triliun.

Apakah Penutupan Benar-Benar Mungkin?
Para analis militer dan intelijen sepakat bahwa meskipun ancaman Iran serius, penutupan total dalam jangka panjang sangat tidak mungkin. AS dan negara-negara Barat telah menyiapkan armada kapal induk dan sistem pertahanan di kawasan untuk menjaga keterbukaan jalur pelayaran internasional.

Namun, serangan sporadis terhadap kapal, sabotase, dan penambangan laut bisa cukup untuk mengganggu aliran dan menciptakan ketidakpastian pasar.

Alternatif Jalur Energi
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz, negara-negara Teluk telah membangun jalur pipa alternatif, Pipa Abu Dhabi-Fujairah (UAE) kapasitas 1,5 juta bph. East-West Pipeline (Arab Saudi) kapasitas 5 juta bph. Pipa Irak-Turki (Kirkuk–Ceyhan) ke Mediterania. Namun kapasitas jalur-jalur ini tidak cukup menggantikan semua ekspor yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Respons Global dan Diplomasi
PBB, Uni Eropa, serta negara-negara besar seperti Tiongkok dan India telah menyerukan de-eskalasi. Washington terus berunding melalui jalur belakang dengan Qatar dan Oman untuk menekan Iran. Sementara itu, investor global mulai mencari aset lindung nilai seperti emas, dolar AS, dan obligasi negara-negara maju. Pasar saham mengalami volatilitas tajam dalam beberapa hari terakhir.

Dunia kini berada di persimpangan berbahaya. Ketergantungan yang tinggi terhadap jalur sempit seperti Selat Hormuz memperlihatkan kelemahan struktural dalam sistem energi global. Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, krisis ini menjadi pengingat penting untuk mempercepat diversifikasi energi, mengurangi ketergantungan pada BBM impor, dan memperkuat cadangan strategis. nasional. Selat Hormuz mungkin sempit, tapi dampaknya sangat luas.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi