Jejak Panjang Peternakan Sapi Tomage: Dari Sentra Ranch hingga Kelompok Peternak

Foto : (IST) Dokumentasi pribadi Tim Ekspedisi Patriot, Fakfak, Tomage. Sabtu (15/08/2026).

Katacyber.com |Fakfak – Hamparan padang savana di Distrik Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menyimpan sejarah panjang pengembangan peternakan sapi. Jauh sebelum kelompok-kelompok peternak dikenal sebagai penerima bantuan atau hibah ternak, kawasan Bomberay–Tomage telah diarahkan sebagai salah satu sentra pengembangan sapi potong berbasis padang penggembalaan.

Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Pengembangan peternakan di kawasan ini tumbuh melalui rangkaian kebijakan pemerintah, pengembangan kawasan transmigrasi, pembentukan kelompok peternak, penyediaan lahan, pendampingan, hingga masuknya berbagai program pemberdayaan dan investasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Fakfak menunjukkan bahwa aktivitas peternakan di kawasan Bomberay telah berkembang sejak setidaknya akhir 2000-an. Dalam Distrik Bomberay Dalam Angka, populasi sapi di Distrik Bomberay tercatat sebanyak 806 ekor pada 2008. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 1.247 ekor pada 2010 dan 2011, 2.109 ekor pada 2012, serta 1.968 ekor pada 2013.

Data tersebut menjadi salah satu petunjuk penting bahwa peternakan sapi di kawasan Bomberay bukan fenomena baru. Perkembangannya telah berlangsung sebelum berbagai program pemberdayaan peternakan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir.

Bomberay dan Tomage kemudian diarahkan dalam konsep pengembangan kawasan pertanian dan peternakan. Sejumlah dokumen perencanaan daerah menyebut adanya kerja sama Pemerintah Kabupaten Fakfak dengan Kementerian Pertanian untuk pengembangan kawasan agropolitan di Bomberay dan Tomage, termasuk komponen pengembangan sapi dan ranch

Tomage dan Pengembangan Kawasan Peternakan
Secara geografis dan ekologis, Bomberay–Tomage memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan peternakan berbasis padang penggembalaan. Karena itu, pengembangan sapi di kawasan tersebut tidak hanya diarahkan pada penambahan populasi ternak, tetapi juga pada pembangunan sistem peternakan yang menghubungkan sapi, lahan, pakan dan kelembagaan peternak.

Dalam kajian mengenai pengembangan sentra sapi Fakfak, kawasan Bomberay dan Tomage disebut sebagai lokasi pengembangan sentra sapi dengan pendekatan padang penggembalaan. Model tersebut menempatkan lahan savana sebagai bagian penting dari sistem produksi ternak.

Data BPS juga memperlihatkan bahwa Tomage memiliki basis kegiatan peternakan yang terus dicatat dalam statistik wilayah. Tomage District in Figures 2023 memuat data jumlah ternak berdasarkan desa untuk kondisi 2022. Wilayah administratif Distrik Tomage mencakup sembilan kampung, yakni Mbima Jaya, Otoweri, Salawier, Tomage, Wammar, Wamosan, Warisa Mulya, Wasa Mulya dan Wonodadi Mulya.

Kelompok Menjadi Fondasi
Pengembangan peternakan kemudian membutuhkan kelembagaan. Kelompok peternak menjadi instrumen penting untuk mengorganisasi masyarakat dalam menerima pendampingan, mengelola ternak, memanfaatkan lahan dan mengembangkan usaha.

Dalam perjalanan pengembangan kawasan Bomberay–Tomage, pendekatan kelompok semakin penting karena sistem peternakan berbasis ranch membutuhkan pengaturan bersama. Persoalannya bukan hanya bagaimana sapi dipelihara, tetapi bagaimana padang penggembalaan digunakan, bagaimana pakan disediakan, bagaimana reproduksi ternak dikendalikan dan bagaimana hasil ternak dipasarkan.

Karena itu, kelompok peternak pada dasarnya merupakan bagian dari proses pembangunan kawasan. Bantuan ternak, jika diberikan, hanya menjadi salah satu instrumen untuk memperbesar modal usaha masyarakat.

Persoalan Sapi Lepas
Perkembangan populasi sapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan peternakan. Salah satu tantangan yang muncul adalah pola pemeliharaan sapi secara lepas. Pada 2022, Papua Muda Inspiratif (PMI) bersama mitra mengembangkan konsep “Bengkel Sapi” di Distrik Tomage. Konsep tersebut diarahkan untuk menampung dan merawat sapi milik warga di kandang yang telah disiapkan. Program itu menjadi salah satu upaya mendorong pengelolaan ternak yang lebih teratur.

Pola pemeliharaan secara lepas sebelumnya berpotensi menimbulkan persoalan ketika sapi masuk ke lahan pertanian masyarakat. Karena itu, pengembangan kandang dan pengelolaan ternak secara lebih terorganisasi dipandang sebagai salah satu solusi.

Konsep Bengkel Sapi juga memperlihatkan adanya perubahan pendekatan. Sapi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai bantuan yang harus dipelihara oleh penerima, tetapi sebagai aset ekonomi yang perlu dikelola melalui sistem produksi.

Dalam pemberitaan mengenai program tersebut, PMI juga mendorong pengembangan komoditas jagung dan sapi di Distrik Bomberay dan Tomage sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan peternak.

Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Di tengah perjalanan tersebut, istilah kelompok peternak penerima hibah sapi kemudian menjadi bagian dari narasi pengembangan peternakan masyarakat. Namun, status sebuah ternak sebagai hibah harus dibuktikan melalui dokumen administrasi resmi. Hal ini penting karena dalam praktik pemerintahan terdapat perbedaan antara bantuan ternak, pengadaan ternak, distribusi ternak dan hibah barang kepada kelompok masyarakat.

Karena itu, belum tepat menyebut seluruh sapi yang berkembang di Tomage sebagai “sapi hibah” tanpa melihat dokumen sumbernya. Untuk memastikan sejarah kelompok hibah sapi secara administratif, diperlukan dokumen seperti Surat Keputusan penerima, dokumen anggaran, daftar penerima, berita acara serah terima dan dokumen dari instansi pemberi.

Kehati-hatian tersebut justru diperlukan agar sejarah peternakan Tomage tidak dibangun berdasarkan cerita lisan semata, melainkan memiliki dasar dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Populasi Sapi Terus Berkembang
Perkembangan kawasan tersebut terlihat dalam kondisi terkini. Pada Desember 2024, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak menyebut populasi sapi di Kabupaten Fakfak telah mencapai lebih dari 2.200 ekor, dengan sebagian besar populasi tersebar di Distrik Bomberay dan Tomage. Angka tersebut memperlihatkan posisi strategis kedua distrik dalam pengembangan sapi potong di Fakfak.

Pemerintah daerah juga melihat populasi tersebut sebagai potensi ekonomi yang perlu dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana populasi ternak dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat melalui peningkatan produktivitas, penguatan kelompok peternak, ketersediaan pakan, kesehatan hewan, pembibitan dan akses pasar.

Dengan populasi yang terkonsentrasi di Bomberay dan Tomage, pengembangan kawasan juga membutuhkan tata kelola yang lebih terintegrasi. Penambahan jumlah sapi tanpa peningkatan kapasitas pakan, lahan dan kelembagaan berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Tomage dan Masa Depan Peternakan Fakfak
Perjalanan peternakan sapi di Tomage pada akhirnya memperlihatkan perubahan dari pola peternakan masyarakat menuju upaya membangun kawasan peternakan yang lebih terorganisasi. Sapi yang kini berkembang di kawasan tersebut merupakan hasil dari proses panjang. Ada masyarakat yang sejak awal memelihara ternak, ada program pemerintah, ada kelompok peternak, ada lahan penggembalaan, ada pendampingan dan ada berbagai pihak yang kemudian masuk untuk memperkuat sistem peternakan.

Karena itu, sejarah kelompok peternak di Tomage tidak seharusnya dimulai dan diakhiri pada saat sapi diserahkan kepada penerima. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sapi tersebut berkembang setelah diterima. Apakah populasi bertambah? Apakah kelompok menjadi mandiri? Apakah konflik antara sapi dan lahan pertanian berkurang? Apakah peternak memperoleh pendapatan yang lebih baik? Dan apakah kawasan tersebut mampu menjadi sentra sapi yang berkelanjutan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting ketika pemerintah terus mendorong ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat Papua Barat. Tomage memiliki modal yang tidak sedikit. Kawasan ini telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan sapi dan memiliki posisi strategis bersama Bomberay sebagai sentra peternakan Fakfak.

Data pemerintah pada 2024 yang mencatat lebih dari 2.200 ekor sapi di Kabupaten Fakfak, dengan konsentrasi utama di Bomberay dan Tomage, memperlihatkan bahwa potensi tersebut telah berkembang menjadi kekuatan nyata. Namun, masa depan peternakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah sapi.

Kekuatan sebenarnya berada pada kemampuan masyarakat mengelola ternak secara berkelompok, memastikan ketersediaan pakan, menjaga kesehatan dan reproduksi ternak, mengatur padang penggembalaan, mencegah konflik dengan petani, serta membangun rantai pemasaran yang menguntungkan peternak.

Dengan demikian, perjalanan peternakan sapi Tomage dapat dibaca sebagai sebuah proses panjang: dari kawasan savana, berkembang menjadi wilayah peternakan, membentuk kelompok masyarakat, menerima berbagai bentuk dukungan, kemudian diarahkan menuju usaha peternakan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dan di tengah proses itu, kelompok peternak menjadi aktor utama. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan program, tetapi keberlanjutan peternakan pada akhirnya ditentukan oleh masyarakat yang memelihara, mengembangkan dan menjaga sapi-sapi tersebut.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi