Penulis Agus Muliara (Penikmat cerita dua sahabat)
Empat pulau kecil dari Aceh “berpindah” ke Sumatera Utara? Ah, jangan panik. Jangan demo. Jangan ramai-ramai tulis status. Ini bukan bencana, ini mungkin… bentuk persahabatan.
Kita rakyat Aceh harus bangga. Tidak semua provinsi punya gubernur yang sedekat itu dengan Presiden. Kita punya Mualem pahlawan masa lalu, panglima sejati yang sekarang telah menjadi sahabat dekat Presiden Prabowo. Bahkan di acara Koalisi Indonesia Maju, sang Presiden sendiri berkata penuh haru: “Dua panglima bermusuhan, sekarang saling berangkulan.” Luar biasa. Ini bukan hanya rekonsiliasi sejarah ini romansa politik tingkat tinggi.
Jadi, ketika Mualem memilih diam saat empat pulau Aceh “berubah KTP” menjadi Sumut, itu bukan karena tidak tahu. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena sedang menjalankan diplomasi ala sahabat. Kita mungkin tak tahu, bisa jadi hari ini Mualem sedang duduk santai di ruang tamu Istana, menyeruput kopi, dan dengan lembut berkata, “Wahai sahabatku, kembalikan pulau itu, dong.”
Tapi tentu kita juga tidak boleh suudzon. Siapa tahu, ini hadiah kecil dari Mualem untuk sahabatnya. Kan dalam pertemanan, memberi itu biasa. Apalagi kalau yang diberi bukan rumah sendiri, tapi rumah rakyat. Santai saja, toh empat pulau kecil tak seberapa dibanding empat tahun kekuasaan.
Kita ini kadang terlalu serius. Sedikit-sedikit dianggap penjajahan. Padahal bisa jadi ini hanya salah koordinat, atau mungkin hadiah ulang tahun yang telat. Jadi mari kita bersabar. Jangan ribut. Jangan terlalu cinta pada pulau. Cintailah persahabatan para elit. Karena mereka yang tahu jalan menuju solusimeski lewat jalan tikus yang rakyat tidak pernah lihat.
Ingat, “bek syeh syoh, bek karu”. Jangan ribut. Kalau semua diselesaikan oleh sahabat, untuk apa kita bersuara? Kita ini rakyat. Tugas kita hanya percaya. Dan diam.
Untuk sementara.!!






















































Leave a Review