Oleh Zulfata, Pengamat Politik
Suatu waktu, panglima teriak referendum, kemudian tidak begitu lama, langsung bergegas ucapkan permintaan maaf ke ruang publik. Ini adalah satu momen “taring singa rimba” panglima telah patah dengan sendirinya, bisa jadi karena nafsu praqmatisnya yang terlalu hiper.
Liku-liku perjalanan politik panglima satu ini memang keren, dari belantara hutan, masuk dan keluar negeri, hingga mendapat kendali massa yang militansi namun tak mengarah pada keadilan dan elegansi perjuangan untuk kepentingan lintas golongan. Dari liku-liku yang menarik tersebut, kiblat perjuangan tahap demi tahap mulai bergeser; dari senjata ke rekomendasi, dari kompromi jadi transaksi. Ujung-ujungnya memperkaya diri dan golongan sendiri.
Memang, power politiknya diakui publik, bahkan dari petinggi negara, tetapi sayangnya dia (panglima) telah menjadi asesoris dari panggung orkestrasi politik nasional. Dampaknya, panglima mengalami kegagapan, panglima terus menerus tanpa sadar masuk jebakan satu ke jebakan lainnya. Akhirnya tubuh panglima yang pernah kekar, kini menjadi mata dadu elite yang memanfaatkan simbolnya untuk merusak berbagai tatanan nilai kedaulatan daerah yang pernah ada.
Buah manis yang tumbuh dari berbagai “pupuk” yang diramu dari pengorbanan, darah ulama, jeritan rakyat, tangisan janda, air mata anak yatim, korban pemerkosaan, hantaman bencana, penculikan, hingga orang-orang yang ikhlas memberikan harta benda dan tenaganya dalam menegakkan ideologi dari cita-cita yang pernah dideklarasikan, heroik api referendum yang dibangun puluhan tahun padam seketika dengan argumen kode SPBU.
Namun, komposisi pupuk yang begitu kompleks tersebut di atas bukan justru menjadikan buah manis menjadi berkah dan sehat, justru sebaliknya yang terjadi, buah manis berakhir menjadi sebuah petaka gejolak politik memperkaya diri dalam mengincar kue kue kekuasaan dengan cara sikut sana olah sini, hormat atas, injak bawah, tikam samping, racun di belakang.
Berbagai cita rasa buah manis itu, baik berupa aturan, kekhususan, adat, bahkan norma metafor telah dimanipulasi menjadi aroma busuk yang semakin membuat masyarakat muak.
Di saat gelombang pasang kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan terus melanda tanpa henti, panglima tampil sebagai tampuk pimpinan; dia terus diberi karpet merah untuk berkuasa, politik bongkar pasang yang dilakukannya justru bukan memperbaiki kesalahan golongannya yang telah ia investasikan jauh jauh hari. Berbicara asal-asalan, di tengah ketidakberdayaannya dalam kejujuran, ia masih merasa percaya diri dan masih menganggap dirinya singa liar yang mampu menyatukan semua pihak, padahal tanpa dia sadari, dia adalah kelinci mainan dari beberapa petinggi elite nasional.
Panglima, lekaslah sadar, hentikanlah sandiwaramu dan permainan film barisanmu yang sedikit norak dan membahayakan hajat hidup banyak orang. Ini bukan sekedar kecerobohan dalam bercermin pada sejarah heroik tentang marwah dan kedaulatan, melainkan sebagai bentuk rasa hormat kami sebagai rakyat jelata yang mencermati betapa menyedihnya panglima “singa rimba belantara” yang kemudian menjadi singa ompong yang jadi mainan gagal produk.


























































Leave a Review