Oleh Asafarsa (Mahasiswa USK)
Hiruk-pikuk polemik Pergub No.2/2026 semakin menjadi. Eskalasi intensitas penolakan dari masyarakat tidak dapat dibendung. Antusiasme ketidaksetujuan jelas keluar dari mulut masyarakat dan mahasiswa sebagai ujung tombak pergerakan. Namun tidak semua mahasiswa.
Sejak aksi 1 Mei 2026, ada 9 lembaga yang terdiri dari universitas, fakultas, dan masyarakat hadir turun aksi membentuk aliansi yang bernama Aliansi Rakyat Aceh. Gerakan ini membawa nama rakyat karena memang ingin menyuarakan aspirasi yang dibutuhkan rakyat. Namun tidak ada nama besar Universitas Syiah Kuala di dalamnya.
Almamater “Jantong Hatee Rakyat Aceh” tidak terlihat membersamai pergerakan kecuali Fakultas Pertaniannya saja. Juga pun tidak terlihat pernyataan sikap dari pemimpin mahasiswa kampus terbesar di Aceh itu. Jika dianggap apatis juga tidak bisa, karena memang sejak aksi ARA pertama USK sudah mulai menghimpun masa untuk konsolidasi seluruh fakultas pada 6 Mei 2026. Sudah belasan hari tapi apakah ada yang melihat bukti nyatanya?
Hari demi hari kian berlanjut, informasi terus berlalu melahap tanggal. Kabar burung mengisahkan bahwa bahtera besar ini akan mengangkat senjata pada tanggal sekian. Namun sampai hari kejadian, tidak muncul hidungnya untuk turun melawan. Ketika hari yang dijadwalkan telah tiba, pasukannya menunggu arahan sang pemimpin untuk maju. Tapi nihil, tidak ada tanda-tanda aksi dilancarkan. Informasi tanggal, tempat, dan ajakan pun tidak kian muncul.
Fenomena ini memunculkan beberapa persepsi publik. Jika ARA menganggap bahwasanya USK menjauhkan diri dari fokus publik mungkin ada benarnya. Namun apabila ditilik pada kenyataan bahwa Gubernur Aceh tidak berada di Aceh, persepsi lainnya patut menjadi pembahasan. Apabila efektifitas aksi demonstrasi yang dikejar, maka agak wajar kalau USK memilih untuk menunggu. Namun bukan berarti memilih diam. Karena fakta yang lebih krusial adalah tidak adanya positioning statement USK yang dilancarkan kepada publik. Ini memperburuk tampang wajah BEM universitas terbesar di Aceh tersebut.
Selain itu kenyataan bahwa beberapa fakultas Universitas Syiah Kuala turun membersamai Aliansi Rakyat Aceh menimbulkan alternatif kesimpulan baru. Apakah karena BEM USK memiliki kepentingannya sendiri? Sehingga fakultas pertanian USK turun tanpa membawa nama besar USK. Atau karena ketidakmampuan BEM Universitas untuk mewujudkan gerakan? Bila alternatif pertama dipakai tidak masuk akal. Karena USK dikabarkan akan membawa banyak bendera fakultas. Mestilah gerakannya wajar dan searah dengan kepentingan masyarakat. Namun kepentingan seperti apa yang dibawakan sampai tidak membersamai ARA? Mungkin saja itu karena ego besarnya sebagai universitas terbesar.
Bila kita melihat dengan alternatif kedua, USK tidak mungkin dipimpin oleh katalis yang tidak paham pergerakan. Sebuah kemustahilan bila mahasiswa peang pergerakan menahkodai kapal besar itu. Maka kemungkinan besar inti masalah berada prosesnya. Apakah itu birokrasi atau lobi-lobi tidak ada yang tahu. Semoga saja itu bukan transaksi di atas bendera fakultas terhimpun.
Terlepas dari mengapa pergerakan tidak dilaksanakan, USK harusnya sadar diri. Sebagai kampus terbesar di provinsi, BEM USK paham mengapa positioning atau sikapnya perlu diperjelas. Terlebih lagi sebutan “jantong hatee rakyat Aceh” tertera jelas bersama logo almamater mereka. Rakyat Aceh dominan menjadikan USK sebagai standar dalam beberapa hal. Dan bisa jadi pada persoalan politik. Maka lucu apabila sampai hari ini USK menunggu dan diam. Diamnya bahtera besar ini patut dipertanyakan mengapa, karena semakin besar komunitas yang dibawa akan semakin besar tanggung jawab yang dimiliki. Takutnya komunitas tersebut berakhir menjadi komoditas bagi pak ketua.
Entah sampai kapan USK menunggu. Dan tidak ada yang tahu pasti apa yang ditunggu. Padahal masyarakat menunggu setiap wajah pembela haknya di jalanan. Terlebih lagi pada jantong hatee mereka. Namun hanya beberapa yang sadar untuk turun ke jalan. Sedang yang lebih banyak masih menantikan Sang Ketua untuk maju terlebih dahulu. Padahal tidak ada yang tahu ketua sedang apa. Takutnya semua sudah terlambat ketika ketua sudah maju ke depan. Cepatlah berlari Pak Ketua, semua sedang melirikmu. Harapan masyarakat bergantung dipundakmu.























































Leave a Review