Oleh Zulfata., M.Ag/Ketua Umum DPP Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA)
Menyikapi problematika Aceh hari memang seperti mengerjakan benang kusut atau mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bagaimana tidak, kalangan generasi muda babakbelur akibat belum terwujudnya sistem pemerintahan di Aceh agar perlakuan terhadap pengelolaan generasi mudanya sesuai dengan prinsip integritas, kapasitas dan visioner.
Disadari atau tidak, hari ini generasi muda Aceh terperangkap ke dalam berbagai kutub politik dan ekonomi yang tak menentu, dampaknya, generasi muda Aceh marak terseret derasnya gelombang pengangguran berskala besar. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, generasi muda Aceh nyaris membelah diri, terlibat produktif laten menciptkan bom waktu dari dan daerahnya.
Iklim politik dan arsitektur perekonomian, serta politik anggaran Aceh juga berulang kali dengan tidak menyebutnya abadi yang membuat kemampuan produktivitas anak muda di Aceh babak belur. Misalnya, lemahnya daya dorong akses modal dan pekerjaan dalam membangun bisnis berkemandirian dalam menopang agar putaran ekonomi Aceh mengalami penyegaran atau stabil. Jangankan mengharap sedemikian, fakta elite dan birokrat korup serta penegak hukum yang culas terus mendapat karpet merah di bangku kekuasaan lokal di Aceh. Industri platmerah terperangkap dalam politik sapi perah.
Anehnya, operator politik Pemerintah Pusat seperti tampak membiarkan Aceh seperti ini, seharusnya Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto harus tegas dalam mengamputasi penyakit culas dan sandiwara politik yang sedang dipertontonkan Pemerintah Aceh hari ini. Patokan dasarnya tetap pada upaya membuka ruang kesejehteraan dan keadilan rakyat sebesar-besarnya dalam pagguan ibu pertiwi.
Semua fakta di atas sejatinya bukanlah potret kelam berkepanjangan bagi generasi muda Aceh dalam meniti karir atau menerobos keluar dari zona “bodoh Aceh” tersebut. Meskipun pada semua pintu kekuasaan lokal Aceh hari ini terkesan telah ditutup oleh para “penjilat” yang hanya berorientasi pada sekelompok golongan kemitraan dan keluarga, namun di posisi yang sama generasi muda Aceh di seluruh daerah harus menjadikan rentetan potret kelam ini sebagai daya lenting untuk keluar dari zona bodoh yang sedang dibangun oleh elite politik dan birokrasi lokal hari ini.
Untuk itu, gerakan dan gerbong politik kerakyatatan atau politik ide anak muda Aceh harus dikonsolidasikan dan diarahkan kepada arah yang berani dan solutif. Lantas bagaimana tindakan nyata menuju penyelamatan potensi politik dan kreasi anak muda Aceh hari ini? Diantara banyak jawaban atas pertanyaan di atas, terdapat tiga aspek startegis yang harus dicermati betul oleh generasi muda Aceh saat ini, yaitu aspek networking internasional (jejaringan intelektual,politisi dan pembisnis), kemampuan membaca pasar global, dan keberlanjutan mengasah ide guna mendapat cara pandang visioner.
Untuk mendapat aspek networking, generasi muda tidak bisa duduk manis berdiam diri sambil bersolek sana-sini, namun generasi muda harus betul-betul bertemu dan diterima oleh para tokoh original yang memiliki akses jejaringan internasional tersebut, boleh jadi sosok simpul akses internasional itu menjelma sebagai intelektual, politisi atau pembisnis.
Kekuatan networking ini dapat mendongkrak bahkan melentingkan kekuatan agar potensi pembelajaran generasi muda tidak hanya fokus berkiblat ke internal lokal Aceh, melainkan dapat diarahkan bagaimana negara atau wilayah luar Indonesia membangun daerahnya yang sejatinya jauh lebih terpuruk dari kondisi Aceh di masa lalu. Misalnya, bagaimana wilayah Sabah di Malaysia mampu maju dan menguasai minyak dengan daya tawar politik lokalnya yang tidak dapat dipermainkan oleh pemerintah pusatnya.
Barangkali, dalam konteks ini generasi Aceh sesekali dapat mengintip bagaimana Sabah mampu mengolah serta mengelola sumber daya manusianya, sehingga hasil dari sumber daya alamnya tidak menjadi kutukan konflik internal di daerahnya, layaknya Aceh hari ini, kaya potensi alam dan energi, tetapi menjadi musibah bagi masyarakatnya sendiri, baik musibah berupa bencana alam hingga konflik kepentingan politik.
Demikian halnya dengan aspek kemampuan membaca peluang politik ekonomi global. Hal ini kait-berkait dengan kemampuan visioner generasi Aceh. Tiga aspek yang penulis maksud di atas adalah solusi konkret agar generasi muda Aceh tidak selalu menjadi tumbal politik culas dan serakah seperti yang sedang melanda Aceh hari ini.
Atas dasar inilah, penulis sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Mudi Aceh (AMPPA) berpandangan organisasi sayap partai yang dipimpin oleh sosok yang mampu memfasilitasi generasi muda Aceh agar mendapat tiga aspek solutif yang diurakan dalam kajian analisis politik strategis ini.
Sudah saatnya generasi muda Aceh memilih kenderaan yang benar-benar layak sebagai upaya penyelamatan diri hingga masyarakat Aceh yang hak-hak dasarnya terus dikebiri. Akhirnya, Aceh memang belum waktunya untuk kiamat, namun jika generasi mudanya diam dan tetap duduk manis dalam menonton kondisi Aceh hari ini, maka yakinlah buah simalakama Aceh akan terus menelan korban dari waktu ke waktu. Bergerak bangkit atau mati perlahan akibat pembodohan. #SaveGenerasiAceh
























































Leave a Review