Katacyber.com |Bogor — Empat perguruan tinggi nasional memperkuat komitmen pengembangan agroforestri kopi berketahanan iklim melalui Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia yang digelar pada Sabtu, 18 April 2026, di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Forum ini menetapkan peta jalan kolaborasi penelitian tahun 2026 sekaligus menegaskan peran agroforestri kopi sebagai model ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan.
Rakornas menghadirkan akademisi dari empat kampus, yaitu Universitas Teuku Umar, Universitas Padjadjaran, Universitas Borneo Tarakan, dan Universitas Jember. Pertemuan ini juga memaparkan hasil riset lapangan tahun 2025 di tiga kawasan Perhutanan Sosial (PS) di Aceh yang menghasilkan data stok karbon baru serta publikasi ilmiah internasional.
Ketua Konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia, Dr. Elida Novita, menegaskan bahwa agroforestri kopi berbasis perhutanan sosial bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi bagi petani.
“Agroforestri kopi berbasis perhutanan sosial bukan sekadar solusi ekologi, tetapi model pembangunan ekonomi rendah karbon yang realistis dan siap diterapkan bagi petani kopi Nusantara,” ujarnya.
Stok Karbon Tinggi di Kawasan Perhutanan Sosial Aceh
Penelitian konsorsium mencatat capaian penting pada tiga lokasi perhutanan sosial di Aceh, dengan cadangan karbon tertinggi mencapai 221 ton per hektare di kawasan hutan lindung.
Tiga Lokasi Penelitian Perhutanan Sosial di Aceh:
Hutan Desa Sabet, Aceh Jaya
Stok karbon: 191,4 ton/ha
Keunggulan: Keanekaragaman tanaman tinggi (kopi, jengkol, alpukat, lamtoro, pinang)
LPHK Linge Lestari, Bener Meriah
Stok karbon: 221 ton/ha (PS Lindung) dan 145 ton/ha (PS Budidaya)
Keunggulan: Sistem kopi teduh (shade-grown) dengan kelembagaan kuat
KTH Mumuger, Aceh Tengah
Stok karbon: sekitar 59,1 ton/ha
Catatan: Memerlukan penguatan kelembagaan dan akses pembiayaan
Temuan ini menunjukkan bahwa skema perhutanan sosial mampu menjaga keseimbangan antara manfaat lingkungan, seperti penyerapan karbon, dan manfaat ekonomi dari produksi kopi rakyat.
Selain itu, analisis sosial-ekonomi menunjukkan wilayah Aceh Tengah memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi akibat keterbatasan pendidikan, akses modal finansial, serta kelembagaan yang masih lemah.
Empat Agenda Strategis Nasional Tahun 2026
Dalam Rakornas tersebut, konsorsium menetapkan empat program utama yang akan dijalankan sepanjang tahun 2026, yaitu:
Dalam Rakornas tersebut, konsorsium menetapkan empat program utama yang akan dijalankan sepanjang tahun 2026, yaitu:
1. Pengembangan model ekonomi karbon berbasis data stok karbon dari kawasan perhutanan sosial di Aceh
2. Penguatan kelembagaan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS)
3. Fasilitasi sertifikasi kopi premium, termasuk organik dan indikasi geografis Kopi Gayo
4. Penguatan platform kolaborasi nasional antara kampus, petani, pemerintah, dan pasar global
Program ini ditujukan untuk memperluas manfaat ekonomi karbon bagi petani sekaligus memperkuat ketahanan iklim di sektor kopi.
Komitmen Universitas Teuku Umar Dukung Petani Kopi
Dalam forum tersebut, Universitas Teuku Umar menegaskan komitmen kelembagaan untuk mendukung implementasi program konsorsium di Aceh.
Perwakilan Fakultas Pertanian, Dedy Darmansyah, menyampaikan bahwa kampus akan menjalankan dua program utama, yaitu:
• Pelatihan teknis agroforestri, pengukuran karbon, dan pengelolaan usaha tani
• Kegiatan kuliah umum (public lecture) dengan narasumber nasional dan internasional
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani, peneliti, dan kelompok usaha perhutanan sosial dalam mengelola kopi berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
“Kami ingin menjadikan kampus sebagai pusat inovasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan agroforestri kopi rendah karbon di Aceh,” katanya.
Dorongan Insentif Ekonomi bagi Petani Agroforestri
Mitra konsorsium dari kalangan praktisi menilai petani agroforestri memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan stabilitas iklim. Karena itu, mereka perlu mendapatkan insentif ekonomi yang nyata.
Perwakilan Redelong Institute, Win Fachruddin, menyatakan bahwa petani agroforestri harus memperoleh penghargaan berupa harga premium atau insentif karbon atas kontribusi ekologis mereka.
Menurutnya, skema agroforestri berbasis karbon yang sedang dikembangkan konsorsium merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung kebijakan nasional pengelolaan hutan berbasis masyarakat. (Red)



























































Leave a Review