Negara yang Tak Pernah Belajar dan Generasi yang Dipaksa Sabar

Oleh: Irhas Abdul Hadi (Ketua Umum HMI Cabang Ciputat)

Kalimat yang akhir-akhir ini sering kita dengar sebagai kalimat penenang “Kita harus sabar”.

Sabar yang dimaksud adalam sabar dalam segala hal. Sabar menghadapi harga yang terus melonjak, sabar dalam mencari pekerjaan, sabar menunggu kebijakan yang berdampak, sabar berharap negara belajar dari kesalahan yang dibuatnya. Masalahnya, kesabaran itu seperti diminta sepihak. Yang diminta untuk bersabar selalu generasi yang sama tentunya masyarakat, sementara negara sebagai sistem tampak melakukan kesalahan yang sama dalam pola berulang dan yang berbahayanya timbul gejala NPD dari para pejabat yang menyebabkan nirempati.

Generasi muda Indonesia hari ini tumbuh dalam situasi paradoks: secara demografis dapat disebut bonus, akan tetapi secara struktural justru memikul beban komunal. Mereka dituntut menjadi adaptif di pasar kerja yang sempit, produktif di tengah upah yang stagnan, dan loyal pada sistem yang kerap tak berlaku adil. Ini bukan saja sekadar keluhan emosional; ini soal struktur sosial yang bermasalah.

Max Weber dan Émile Durkheim, dua simbol sosiologi klasik, memberi kacamata kritis untuk membaca situasi ini. Rasionalitas Weber: Ketika Negara Terjebak dalam Prosedur, Kehilangan Makna, Weber membandingkan beberapa jenis rasionalitas, dua di antaranya penting di sini: rasionalitas instrumental (Zweckrationalität) dan rasionalitas nilai (Wertrationalität). Negara modern contohnya seperti Indonesia secara institusi negara terlalu sering bergerak pada rasionalitas instrumental: apa yang efisien, apa yang prosedural, apa yang “sesuai aturan”. Kebijakan ekonomi dibuat secara metodologis nan konstruktif di atas kertas, indikator makro terlihat stabil, grafik pertumbuhan dipresentasikan meyakinkan. Namun, di saat yang sama, hal yang berkaitan dengan moral humanis seperti nilai keadilan sosial, empati, dan keberpihakan kepada kebenaran justru terpinggirkan. Tau apa yang bahayanya? bahwa data yang dipresentasikan menjadi grafik pertumbuhan dimanipulasi atau disamarkan agar masyarakat optimis bahwa negara ini baik-baik saja.

Dalam logika Weber, inilah jebakan “kandang besi” (iron cage): birokrasi menjadi mesin yang berjalan sendiri, juga alat yang digunakan sebagai pengamanan, agar masyarakat patuh pada aturan, tapi buta terhadap dampaknya.
Ketika generasi muda menjerit tentang sulitnya mendapat pekerjaan, negara menjawab dengan pelatihan.
Ketika upah tak cukup tuk menghidupi, negara menjawab dengan imbauan produktivitas.
Ketika harga naik, negara menjawab dengan narasi “kondisi global”.

Jika dilihat jawaban itu memang baik namun tidak tepat karena itu hanya peralihan bukan output. Semua jawaban itu kaya secara prosedural, tapi miskin secara moral. Negara terlihat sibuk mengelola sistem, tapi lupa bertanya: untuk siapa sistem ini bekerja? yang pada akhirnya sama-sama diketahui oleh masyarakat luas bahwa sistem ini hanya diperuntungkan kepada pengelola sistem itu sendiri.

Durkheim dan Anomie: Generasi yang Kehilangan Pegangan

Pegangan dalam kondisi ini berupa harapan yang disandarkan kepada nila agar ada perbaikan dalam kesejahteraan. Durkheim memperkenalkan konsep anomie kondisi ketika norma sosial melemah, tujuan hidup kabur, dan individu kehilangan arah. Anomie muncul bukan karena orang malas atau lemah, tapi karena struktur sosial gagal memberi panduan yang adil dan konsisten seakan memperlebar jurang keputusasaan.

Konteks hari ini sangat relevan. Anak muda disuruh sekolah tinggi, tapi ijazah tak menjamin kerja. Disuruh kerja keras, tapi mobilitas sosial makin sempit.
Disuruh bersaing, tapi lapangan tak pernah benar-benar setara. Belum lagi jika membahas hak warga negara sendiri daripada asing.

Hasilnya bukan sekadar frustrasi ekonomi, tapi kelelahan sosial: sinisme politik, apatisme, hingga normalisasi kalimat, “yang penting bertahan.” Dalam bahasa Durkheim, ini berbahaya.
Masyarakat yang terus memproduksi generasi sabar tanpa kepastian akan menghasilkan individu yang tercerabut dari solidaritas sosial. Mereka mungkin tidak memberontak, tapi juga tidak lagi percaya. Namun kondisi ini sangat menguntungkan untuk kepentingan kekuasaan, atau jangan-jangan ini sengaja diciptakan?. Jika tidak, berarti negara sering salah membaca ini sebagai stabilitas.

Negara yang Tak Pernah Belajar

Yang paling menyakitkan bukan krisisnya, tapi polanya.
Setiap tekanan ekonomi, resepnya hampir sama: yaitu rakyat diminta memahami, elite tetap nyaman, dan kebijakan minim koreksi struktural.

Weber akan menyebut ini sebagai kegagalan refleksi rasional. Sistem tak belajar karena tak pernah benar-benar terdampak oleh kebijakannya sendiri kenapa demikian? karena kesejahteraan diperioritaskan kepada penguasa dan birokrat bukan kepada masyarakat dan mereka lupa bahwa negara hadir untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Durkheim akan melihatnya sebagai retaknya solidaritas organik: fungsi negara tak lagi dirasakan sebagai perekat sosial, melainkan sebagai pengatur jarak. Di sinilah letak tragedinya: kesabaran generasi muda dijadikan bantalan kegagalan kebijakan.

Kesabaran Bukan Kebijakan

Kesabaran adalah kebajikan moral, bukan strategi negara.
Jika kesabaran terus-menerus diminta tanpa perubahan struktural, ia berubah menjadi alat penundaan tanggung jawab. Generasi muda tidak menuntut kemewahan, hanya konsistensi.
Bahwa kerja keras masuk akal, bahwa aturan adil, bahwa negara belajar dari dampaknya sendiri. Jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi sabar bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tak diberi pilihan lain. Dan negara yang tak pernah belajar, cepat atau lambat, akan kehilangan generasi yang mau percaya.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi