Segera Selamatkan Aceh Tamiang

Penulis: Danu Abian Latif (Penulis buku Opini Nakal untuk Indonesia)

 

Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang hingga kini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa bantuan tidak kunjung sampai, dan mengapa warga Aceh Tamiang belum merasakan uluran tangan yang memadai?

Aceh Tamiang tidak lagi bisa berharap pada pemerintah daerah maupun provinsi. Sudah lebih dari tujuh hari sejak banjir pertama menghantam, kondisi masyarakat kian memprihatinkan. Begitu tragis hingga saya hanya bisa mengatakan: mereka seperti zombie hidup, berjalan dengan tubuh penuh lumpur, tanpa arah dan tanpa harapan.

Bayangkan: banjir menyapu seluruh wilayah Aceh Tamiang. Rumah hanyut, listrik mati total, jaringan telekomunikasi terputus, makanan dan obat-obatan tidak tersedia. Warga bertarung mempertahankan hidup dengan mengorbankan seluruh tenaga dan nyawa mereka demi sekadar bertahan dari bencana ini.

Ribuan orang tidur di jalanan tanpa alas, dengan pakaian yang masih berlumur lumpur. Malam hari dipenuhi suara permohonan tolong dari berbagai arah bukan karena mereka yakin ada pertolongan, tetapi karena keputusasaan yang memaksa mereka tetap berteriak.

Bau mayat menyengat di mana-mana. Banyak jenazah belum dievakuasi. Jika pun keluarga ingin mengevakuasi, mereka hanya menggunakan alat seadanya: potongan kayu dirakit menjadi tandu darurat untuk mengangkat orang-orang tercinta yang sudah tidak bernyawa.

Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan masyarakat yang bertindak anarkis. Mereka putus asa. Mereka menjarah toko, menghadang kendaraan, meminta air atau uang bukan karena kriminalitas, tapi karena ingin bertahan hidup.

Jika pusat kota saja sudah seperti itu, desa-desa pedalaman jauh lebih parah. Banyak desa hilang rata dengan tanah. Warga melarikan diri ke bukit-bukit, terjebak berhari-hari tanpa makanan, tanpa alas tidur, dengan pakaian basah yang mereka pakai hingga kering sendiri. Mereka bertahan dalam dingin dan kelaparan.

Makanan jauh dari kata layak. Mencari sumber alam pun mustahil karena wilayah Aceh Tamiang dipenuhi kebun sawit. Banyak dari mereka berjalan puluhan kilometer berharap menemukan wilayah yang tidak terdampak banjir agar bisa meminta bantuan. Namun harapan tinggal harapan; mereka pulang dengan membawa kabar buruk kepada keluarga mereka yang menunggu dalam sakit, dingin, dan ketakutan.

Hingga hari ini, hampir seluruh warga Aceh Tamiang belum merasakan bantuan. Di media sosial memang tampak seolah helikopter sudah menyalurkan bantuan. Faktanya, banyak bantuan dijatuhkan begitu saja dari udara, rusak sebelum sampai ke tanah, dan masyarakat harus berebut barang-barang yang bahkan sudah tidak layak karena itu satu-satunya peluang untuk hidup.

Ini waktunya semua membuka mata. Aceh Tamiang sedang berada dalam kondisi darurat kemanusiaan. Media harus masuk, harus mengabarkan yang sebenarnya. Biarkan seluruh Indonesia tahu bahwa ada satu wilayah yang seolah diperlakukan bukan sebagai bagian dari republik ini.

Sementara masyarakat berjibaku menyelamatkan nyawa, pemerintah malah sibuk membuat seremoni pelepasan satgas, mencetak label bantuan dengan wajah politisi, dan memoles citra mereka di kamera. Di tengah bencana seperti ini, kepentingan politik menjadi tontonan yang paling memuakkan.

Jangan percaya sepenuhnya pada apa yang dipoles para pejabat di media sosial. Aceh sedang darurat bencana. Aceh membutuhkan bantuan segera. Selamatkan saudara-saudara kita di Tamiang. Mereka memerlukan makanan, air bersih, obat-obatan, dan hunian layak bukan janji dan pencitraan.

Ini bukan lagi tentang keadilan. Mereka sudah terlalu lama kehilangan itu. Yang mereka butuhkan sekarang hanyalah kemanusiaan. Bergeraklah siapa saja yang mampu, karena jika terlambat, kematian bukan lagi ancaman, tetapi kenyataan yang akan terjadi dalam diam.

Pray for Aceh Tamiang.

Di sana masih ada manusia, bukan hanya kebun sawit. Hadirkanlah kemanusiaan itu kembali di bumi Iskandar Muda ini.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi