Penulis Risalul Yanti — Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Email: 230503072@student.ar-raniry.ac.id
Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara manusia mengakses dan berinteraksi dengan informasi. Generasi Z mereka yang lahir di era serba digital tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dari perubahan ini. Bila generasi sebelumnya akrab dengan buku cetak, kini Gen Z lebih sering berhadapan dengan layar ponsel, tablet, atau laptop untuk membaca, menonton, dan belajar. Teknologi bagi mereka bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari dan identitas generasi modern.
Ada beberapa alasan mengapa Gen Z lebih cenderung pada teknologi digital dibandingkan buku fisik. Pertama, karena faktor kepraktisan dan kemudahan dalam mencari informasi. Hanya dengan satu perangkat, mereka dapat mengakses ribuan e-book, jurnal, atau artikel dari seluruh dunia. Kedua, sifat interaktif dunia digital membuat mereka lebih tertarik — diskusi, komentar, dan berbagi pengetahuan dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. Ketiga, tampilan visual yang menarik seperti gambar, video, dan animasi menjadikan proses belajar lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
Meski begitu, kemajuan ini juga membawa tantangan baru bagi budaya literasi. Kebiasaan membaca secara mendalam mulai berkurang karena Gen Z lebih terbiasa dengan bacaan singkat seperti postingan media sosial atau berita online. Dampaknya, kemampuan memahami teks panjang dan berpikir kritis bisa menurun. Selain itu, penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti mata lelah, kesulitan fokus, dan gangguan tidur.
Situasi ini menjadi perhatian bagi dunia pendidikan dan lembaga perpustakaan. Perpustakaan kini harus bertransformasi dari sekadar tempat menyimpan buku menjadi pusat literasi digital. Koleksi e-book, jurnal online, serta fasilitas belajar berbasis teknologi perlu dikembangkan agar tetap relevan bagi generasi muda. Pustakawan juga memiliki peran penting dalam membimbing pengguna agar mampu memilah informasi yang valid dan menumbuhkan kebiasaan membaca yang lebih mendalam, bukan sekadar membaca cepat.
Dunia pendidikan pun harus beradaptasi. Guru dan dosen perlu memadukan teknologi dengan literasi konvensional agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis sekaligus terampil dalam penggunaan teknologi. Misalnya, siswa dapat diminta membaca buku fisik lalu mendiskusikannya melalui forum digital. Pendekatan ini dapat menghubungkan antara budaya membaca tradisional dengan dunia digital secara seimbang.
Dari sisi psikologis, ketertarikan Gen Z terhadap teknologi juga menggambarkan kebutuhan mereka akan interaksi sosial yang cepat dan ruang berekspresi yang luas. Dunia digital memberi peluang bagi mereka untuk menunjukkan diri, memberikan opini, dan memperoleh apresiasi instan hal yang tidak bisa diperoleh dari buku fisik. Oleh karena itu, tantangan terbesar bukan hanya menyediakan akses teknologi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran literasi digital yang bijak, agar teknologi digunakan untuk memperluas wawasan, bukan sekadar hiburan.
Peran keluarga dan lingkungan pun tak kalah penting. Orang tua dapat menjadi teladan dengan menyeimbangkan antara aktivitas membaca dan penggunaan gawai. Kegiatan seperti membaca bersama, mengunjungi perpustakaan digital, atau mengikuti komunitas literasi online bisa menjadi cara untuk menanamkan minat baca sejak dini. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu memperkuat program literasi digital agar generasi muda tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan bijak dalam memilah informasi.
Meskipun teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan, buku tetap memiliki nilai yang tak tergantikan. Buku mampu melatih imajinasi, empati, serta memberi pengalaman membaca yang tenang dan mendalam tanpa gangguan notifikasi. Oleh sebab itu, kombinasi antara buku cetak dan teknologi digital merupakan pilihan terbaik misalnya melalui aplikasi membaca interaktif atau forum literasi daring yang tetap menjaga esensi membaca.
Pada akhirnya, pilihan Gen Z untuk beralih ke dunia digital bukan berarti mereka meninggalkan budaya baca, melainkan cara baru dalam beradaptasi dengan perubahan zaman. Tugas kita adalah memastikan teknologi dimanfaatkan secara bijak agar semangat membaca tetap hidup. Buku mungkin berubah bentuk, namun makna dan nilai literasinya akan terus berkembang seiring kemajuan dunia digital.























































Leave a Review