Tidak Berkah Melawan Guru

Oleh: Eno Malaka

(Perhatian: Hanya diperuntukkan untuk 18+)

Saat aku melihatnya di televisi hawa dingin langsung menusuk ke dadaku, matanya seperti tangan-tangan kecil yang berusaha meraih setiap jengkal kulitku, gerak wajahnya seperti silet yang saat tangan-tangan kecil itu berhasil menyentuh kulitku langsung menyayatnya, darah-darah kehinaan langsung muncrat dari sana. Meski tangannya sekarang diborgol, aku ingat jelas bagaimana tangan itu membekapku dari belakang dan sekonyong meremas dadaku, begitu juga ketika jari tengahnya naik turun dan kadang berputar-putar di goa dengan selaput-selaput tipis berwarna merah terlipat-lipat, ketika dari area berputar dan naik turun jari tengahnya itu sudah mengeluarkan rembesan cairan, jari telunjuknya akan mulai masuk ke lubang goa. Aku merem melek dan melengkuh rintih, tak kuasa aku roboh tidak kuat lagi berdiri, dia juga melakukan hal yang sama. Kita akhirnya dalam posisi sama-sama duduk dengan kedua kaki diluruskan di lantai, tubuhku bersandar ke belakang menimpa tubuh sebelah kanannya.

Tangan kanannya terus memegang dadaku, cara meremasnya sangat buruk. Mungkin menurutnya itu tidak beda dengan squizy, hanya saja dibuat dari campuran lemak, otot, saraf yang dibungkus kulit. Tangan kirinya terus masuk ke celanaku, kedua jari telunjuk dan tengahnya masih keluar masuk ke dalam lubang memek yang sesekali dipakainya menggaruk dinding atas mem*k, sudah banyak air yang keluar dan membasahi tangannya. Sambil berkomat-kamit dengan bahasa yang tidak kuketahui, mungkin ini zikir yang diajarkan gurunya, kemudian dia berbisik ke telingaku. “Tahanlah, ini bentuk ujian seorang guru pada muridnya.” Nafasnya mendengus mengelurkan aroma rokok kretek. Aku semakin hebat menggeliat bergelojotan, nafasku cepat, air mataku kemudian mulai mengalir, muncul perasaan ingin memberontak yang seketika langsung dipadamkan olehnya “Kamu ga boleh melawan gurumu sendiri, juga tidak boleh mempertanyakan perbuatan gurumu. Hanya dengan cara itulah ilmu-ilmu agama akan masuk ke hatimu, tidak ada keberkahan dari seorang murid yang melawan gurunya.” Ucapnya dengan nafas ngos-ngosan, sesuatu sepeti tongkat kecil menyentuk pingganku, aku tidak tahu apa. Tiba- tiba air yang sangat banyak menyembur dari memek ku, kedua jari yang awalnya di dalam langsung dia tari keluar, lalu dia merapatkan keempat jarinya di depan lubang memek ku dan dia usap cepat ke kanan dan kiri, semburan air itu muncrat kemana-mana, telapak tangannya dan pahaku sempurna basah oleh cairan yang menyembur itu. Dulu bahkan ketika pertama kali dia melakukan ritual ini, pernah ada darah yangkeluar dari goa itu, tapi dia hanya berkata “Ini adalah bentuk pengorbanan murid kepada gurunya, orang-orang zaman dulu bahkan lebih parah beradarah-darahnya dari ini, di medan perang mereka tidak peduli tubuh mereka, mereka korbankan semuanya untuk agama kita. Jadi kamu jangan merasa tersakiti hanya karena secipratan darahmu.”

Tubuhku bergejolak hebat, seakan-akan seluruh energi di tubuhku diikat oleh seutas tali, lalu tali itu sekuat tenaga ditarik, aku benar-benar kehilangan tenaga, lemas tidak berdaya. Aku bersandaran tidak punya tenaga di dada kanannya, kemudian dia membisikan, “Sabarlah, sebentar lagi kamu akan masuk ujian ketaatan. Ketahuilah hanya murid yang manut gurunya yang akan mendapatkan petunjuk Ilahi.” Jahanam itu kemudian merapihkan posisi duduku dengan paksa, dia beranjak kedepan lalu melorotkan celananya. Aku masih meringis, lalu ngeri dengan pemandang di depanku. Wajahku tepat di depan selangkangannya, teronggok kontol hitam yang tidak terlalu besar dengan rambut-rambut di pangkalnya, terlihat jelas ada semacam cairan di lubang kontol itu. “Pegang dan hisaplah, Nduk.” Aku menolak namun langsung dipegangnya tengkukku, dengan posisi menekuk sedikit lututnya dia menarik ku kearah kontolnya, aku masih mencoba bertahan “Jangan melawan, kamu ga mau belajarmu sia-sia, ibadahmu tidak diterima, dan karena nanti kamu jadi murid durhaka, orang tuamu akan dilaknat di neraka.” Tak kuasa aku menaham wajah ngerinya, aku menangis kecil dan langsung jepitnya rahangku dengan telapak tangan kanannya, lalu diarahkan ke atas. Wajah iblis itu melotot padaku, sangat buruk rupa ekspresinya. “Kamu jangan melawan terus, bukankah di majelis kamu sering mendengar kisah-kisah murid celaka karena tidak sopan pada gurunya?wajahku di lempar ke samping kiriku lalu ditangkap lagi, tangannya semakin kuat mencengkeram tengkukku. “Apakah kamu sekarang mau patuh pada gurumu?” Aku tidak kuasa dan terpaksa mengangguk. Wajahnya langsung sumringah, dia langsung membetulkan posisi berdirinya. “Sekarang pegang dan masukan ke mulutmu, jangan lupa baca bismillah biar berkah.”Aku benar-benar memasukan kontol itu ke mulutku, rasanya sungguh tidak enak. Aku terus diminta untuk melakukan gerakan menghisap, menjilat, aku juga diintruksikan untuk menggunakan lidahku sebagai bantalan kontolnya saat di mulutku, dia tidak mau kontolnya terkena gigi. Aku sungguh ingin mengigit kontol itu sampai putus, namun nanti hukuman yang akan aku terima sangat berat. Aku jelas akan di bawa ke pengadilan, lalu pasti kalah dan karena masih muda mungkin aku tidak dipenjara tapi pasti orang tua ku harus membayar dengan yang besar dan rusaklah nama baik keluargaku. Aku pasti akan dicap sebagai penyerang tokoh agama, kedua orang tuaku akan malu seumur hidup. Aku mengurungkan niat menggigit kontol itu. Sekitar 15 menit berlalu, selama itu dia terus mengusap kepalaku dengan ekspresi menyeringai yang menakutkan, aku selalu menengadah ke arah wajahnya, berharap dia punya rasa kasihan. Percuma saja, sekarang dia malah mengarahkan kedua tanggannya, tangan kanan di atas kepalaku dan tang kiri di rahang bawahku. “Diamlah jangan bergerak. Bismillah.” Dia mendorong dan menarik pinggulnya, membuat kontol di dalam mulutku bergerak ke dalam dan keluar rongga mulut dengan cepat. Aku tersedak berkali-kali, namun tidak kunjung dilepaskan hingga satu momen, dia mendorong pinggulnya dengan kuat dan menahannya beberapa detik. Kontol yang di dalam mulutku itu, yang ujungnya menyentuh melewati Uvula—organ yang berbentuk tetesan air mata menggantung di belakang mulutku—mengeluarkan cairan hangat yang tertuang ke rongga leherku, aku mengerang dan dia langsung menarik kontolnya. Muntah hebat aku dibuatnya. Aku benar-benar lemas ketika itu, berbeda dengan dirinya yang merasa puas, merasa lega. Aku merebah, tapi ini belum selesai.

Setelah menanggalkan pakaiannya, dia kemudian menanggalkan seluruh pakaianku dari ujung kaki hingga ujungkepala. Dengan gerakan cepat dan nafsu seekor pemangsa, dia langsung menusukan kontolnya ke dalam memek ku. Gerakannya sangat kasar dan menyakitkan, aku ingin berteriak namun dia akan mengucapkan “Ujian hidup itu akan sirna sendirinya dengan dzikir. Maka selama ujian ini berlangsung, kamu berdzikirlah.” Ucapnya dengan nafas yang tersengal- sengal. Sepuluh menit yang terasa sangat lama bagiku, dia kemudian melenguh panjang, giginya dirapatkan, kondisi mukanya seperti seekor anjing yang sedang menggeram tapi mata laki-laki itu tertutup. Setika cairan hangat masuk ke dalamgoa. Tubuhnya ambruk menimpa tubuhku yang sudah lemas tidak berdaya.

Sejak kejadian itu aku dan 12 belas murid lain selalu minum obat untuk mencegah kehamilan. Aku pernah berjalan-jalan dan melihat tulisan “Bumi Pasundan tercipta saat Tuhan sedang tersenyum.” Seharusnya makna dari kalimat itu adalah sebuah keindahan, dan dari keindahan itulah siapapun akantersenyum saat datang di Bumi Pasundan. Tapi ternyata itusalah, yang tersenyum hanyalah mereka yang dekat dengan Tuhan, seperti guruku yang setiap kali mulai dan selesai melakukan ujian ketaatan pada ku dan murid lainnya, pasti selalu tersenyum.

Mengapa Komnas HAM juga Komnas Perempuan dan Anak harus ikut campur urusan murid dan guru. Dasar tidak tahu diri mereka. Aku sekarang harus terborgol, kepala dibotaki, dan berbaju oren bertuliskan tahanan. Mengapa pula 13 muriddurhaka itu melaporkanku, sikap kurang ajar pada guru ini jelas menodai ajaran-ajaran agama.

Selama lebih dari empat tahun ini, ujian ketaatan yang aku lakukan selalu didukung pimpinan Yayasan. Kami punya visi yang sama untuk agama, yaitu menciptakan generasi hebat yang rela mati demi agama. Tentu saja masalah besar dunia pendidikan saat ini, khususnya pendidikan agama adalah kurangnya ketaatan murid pada guru mereka. Pertama kali aku mengetahui ujian ketaatanku dilaporkan, aku langsung menemui pimpinan Yayasan. Kami berdiskusi bagaimana harusnya menyikapi kejadian ini.

“Bersabarlah guru, ini sejatinya hanyalah ujian, Tuhanbersama orang-orang yang sabar.” Ucap pimpinan Yayasandengan arif bijaksana.

“Tapi Kyai, bagaimana jika aku betulan dipenjara?”Kecemasan dan ketakutan memenuhi hatiku, sepanjang diskusi aku selalu menunduk.”

“Bersabarlah guru, mintalah pertolongan kepada Tuhan.Ujian berat yang diberikan Tuhan, semata-mata adalah untuk menikan derajat hambanya yang taat.

“Tapi Kyai, bagaimana jika aku dinyatakan bersalah?

“Maka kita akan datangi para penegak hukum itu, kita ingatkan bahwa hukuman Tuhan jauh lebih pasti daripada hukuman mereka. Tuhan yang maha kuasa, tidak akan pernah membiarkan seorang hamba yang menyebarkan agamanya, diperlakukan kejam seperti ini. Kita akan ingatkan, musuh pencinta Tuhan adalah musuh Tuhan juga.”

“Tapi Kyai, bagaimana jika Hakim tetap mengabulkan laporan Komnas HAM dan Komnas Perempuan itu?”

“Jangan takut Guru. Represif kepada penyebar agama seperti kita, selalu punya arti satu: Jika yang melaporkan kita adalah yang seagama dengan kita, maka jelaslah bahwa. merekasudah murtad atau golongan sesat. Jika yang melaporkan kita bukan seagama dengan kita, maka jelaslah karena mereka orang kafir. Tuhan akan selalu memenangkan kita atas orang-orangkafir.”

“Tapi Kyai, bagaimana jika pengadilan tetap memenangkanpelapor?”

“Tidak usah risau Guru. Kita akan menghubungi penguasa, mereka adalah penyambung kuasa Tuhan di Bumi. Kita akan ingatkan kepada Bupati dan Gubernur bahwa, suara penyebar agama adalah suara umat. Mereka bisa menang juga karena diridhoi umat kita. Dengan status mereka sebagai perwakilan Tuhan, maka sudah menjadi kewajiban mereka, untuk melindungi penyebar ajaran Tuhan seperti kita.”

“Tapi Kyai, bagaimana jika pemerintah memihakpengadilan.”

“Maka sudah jelaslah bahwa mereka Pemimpin Dzalim, mereka sudah mendekatkan murka Tuhan ke daerah pimpinan mereka. Bersabarlah Guru, bersabarlah. Jadikanlah sabar sebagai penolong hidupmu.”

Ini terlalu bejat, kenapa ada orang yang tega melakukan hal sekeji ini. Aku membeku ketika mendampingi 13 korban Perempuan muda itu. Hak mereka sebagai manusia sudah dilanggar, bagaimana selanjutnya mereka akan menjalani hidup.

“Korban dia dan komplotannya bukan hanya kami.” Salah seorang korban menyampaikan kesaksiannya, sepanjang obrolan dia menangis dan ketakutan. ”Saya tahu korban-korban lainnya, tapi cuma kami ber-13 yang akhirnya melapor ke orang tua kami.”

“Lalu kenapa mereka tidak berani melaporkan ke masyarakatsekitar?” Aku dengan

cermat mengumpulkan data kesaksian.

“Merekasemua takut.” “Takut kenapa?”

“Orang-orang disana disukai dan dipercaya masyarakat. Lembaga nya sering mengadakan kegiatan majelis besar yang menghadirkan tokoh terkemuka. Ucapan seorang Perempuan muda dan tanpa bukti, hanya akan dianggap sebagai fitnah belaka.” Dia mulai terisak.

Aku tidak kuasa melanjutkan sebenarnya, aku juga ingin menangis. Sebagai seorang Ayah, tidak terbayang jika dari mereka, salah satunya adalah putriku. Tapi sudah tugasku untuk melanjutkan.

“Terus kenapa mereka tidak melaporkan ke orang tua mereka?” Aku melanjutkan.

“Kami semuanya diancam, akan dikeluarkan dari sekolah.Nama kami juga akan ditandai, dan disebarkan ke semua Lembaga yang bersahabat dengan Lembaga laki-laki itu. Selamanya tidak akan ada yang mau menerima kami sebagai murid lagi. Kami juga akan dianggap aib keluarga.” Perempuan muda itu mulai sesenggukan.

“Benar juga.” Salah seorang Komnas Perempuan dan Anak ikut berbicara. “Alasan korban pelecehan tidak melapor selalu sama, mereka tidak punya kuasa. Perempuan selalu menjadi kambing hitam dalam sejarah, selalu menjadi pihak yang salah. Jika ada pelecehan kepada Perempuan, pasti akan selalu muncul anggapan bahwa si Perempuan itulah yang mancing laki- laki, cara berpakaiannya lah, cara merias wajahnya lah, cara jalannya lah, cara tersenyum nya lah, apapun itu selalu Perempuan yang salah. Padahal penyebab utama pelecehan bukan itu semua, tapiadanya kesempatan dan rasa berkuasa.” Ucapnya anggota komnas Perempuan itu.

Gadis korban pelecehan itu mulai menangis dan mendekap Ibunya dengan kuat, sang Ibu pun memeluknya erat dan juga tak kuasa membendung tangis. Anak Perempuan yang dijaganyaselama ini, sekarang harus menanggung luka yang mengancam masa depannya.

“Aku juga tidak menyangka, pelaku pelecehan itu adalah pemuka agama yang mengajar di sekolah agama. Ditambah semua kegiatannya, ternyata didukung pemilik dan pengelola sekolah itu. Harusnya sekolah agama adalah tempat paling aman bagi Perempuan, bukankah agama yang dianut pelaku dan korban sangat memuliakan Perempuan? ”

“Iya itu benar. Sudah sejak lama aku mempelajari feminisme, aku membaca banyak teori dan penjelasan dari berbagai tokoh. Hingga pada satu titik aku sadar, guru feminisme terbesar adalah Nabi Muhammad SAW, beliau adalah tokoh pertama dalam sejarah yang berjuang menghapuskan patriarki dan berusaha menaikan derajat semua Perempuan. Harusnya jika benar mereka menjunjung Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, tidak mungkin mereka melakukan hal hina tersebut.”

“Aku sangat berharap semoga Hakim persidangan kali ini, bisa memutuskan hukuman yang berat untuk agamawan-agamawan bejat itu.”

Berkas-berkas sudah lengkap, aku sudah menerimanya. Jujur saja, sebagai manusia aku merasa kejadian seperti iniseharusnya tidak perlu penjelasan di persidangan. Agamawanbejat itu sudah tentu bersalah dan harus dihukum berat. Tapi bahkan pada manusia dengan moral seperti itu, masih saja ada tim yang mau membelanya di ruang sidang. Aku malah lebih setuju jika para pelaku itu langsung saja diamuk masa, dipotong-potong tubuhnya dan dilemparkan untuk makan satwa di kebun Binatang.

Tapi sebagai Hakim, aku jelas harus menyingkirkan perasan seperti itu. Hari ini aku harus bekerja secara professional untuk menangani kasus ini. 13 perempuan bukanlah jumlah yang sedikit, itupun yang berani membuat laporan dan kejinya, perbuatan itu sudah dilakukan beberapa tahun. Apakah masyarakat sekitar tidak curiga? Tapi memang pakaian agama selalu bisa membuat seseorang buta. Tidak hanya masyarakat, bahkan pejabat juga sama buta nya jika perihal pakaian agama. Mereka akan menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga agama, pengaruh lembaga-lembaga itu sangat dibutuhkan saat pemilu. Tak jarang kasus-kasus yang menjerat lembaga-lembaga agama, juga dihilangkan peredarannya oleh pejabat-pejabat itu.

SUNGGUH NEGERI YANG TIDAK AMAN UNTUKMEMBESARKAN ANAK PEREMPUAN.

Persidangan dimulai, aku melihat terdakwa dengan pandangan jijik meski dia mencoba terlihat alim dengan kupluk putih dikenakannya, tasbih digenggamnya, dan meskipun dia memakai masker aku menduga bibirnya pasti komat-kami membaca dzikir. Seperti Iblis yang sedang cosplay. Masing-masing pengacara menuntuk terdakwa dan membela terdakwa, namun uniknya pengacara terdakwa terlihat goyah, meskipunmungkin dia mendapat bayaran besar tapi pasti hati kecilnya terusik. Sebagai laki-laki dia punya kemungkinan menjadi seorang suami, juga punya kemungkinan menjadi ayah untuk anak Perempuan. Maka tidak mungkin ada laki-laki waras, yang akan tetap waras saat membela laki-laki cabul.

Persidangan tidak berjalan terlalu alot, intervensi ada tapi tidak banyak dan tidak mampu mempengaruhi hati kecilku. Namun tetap suasana persidangan sangat tegang, wajah-wajahmarah kepada terdakwa sudah siap menyumpah-nyumpahinya. Media-media sudah menunggu kabar bagaimana nasib akhir si penjahat. Beberapa korban yang menjadi saksi didatangkan, yang lainnya memilih tetap di rumah. Baik yang datang dan tidak, mereka jelas merasakan ketakutan dan kebencian. Aku bisa merasakan tangis nadir mereka.

Setelah semua tuntutan dan pembelaan selesai dibacakan, akhirnya sampailah pada saat aku harus memutuskan. Aku rasa tidak perlu menjadi Hakim untuk memutuskan nasib terdakwa, semua orang yang masih waras nuraninya harusnya mengerti apa hukuman yang pantas. Maka aku angkat palu. Bismillah dengan keteguhan hati, aku sebagai laki-laki, sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah, sebagai seorang masyarakat, sebagai umat beragama, dan sebagai Hakim, aku memutuskan tersangka pencabulan 13 anak Perempuan, akan dihukum MATI. TOK!!

TAMAT

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi