Partai Politik dan Ilmu Membaca Angin Kekuasaan

Oleh: Aulia Halsa S.H

Dari lawan jadi kawan, dari oposisi jadi pendukung. Di hutan politik Indonesia, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling pandai berubah warna.

Jika politik adalah hutan, maka partai politik adalah spesies yang punya kemampuan adaptasi paling luar biasa. Mereka bisa berubah warna seperti bunglon, berenang ketika banjir, dan memanjat tinggi ketika pohon kekuasaan mulai berbuah. Di Indonesia, seni bertahan hidup partai politik bukan sekadar kemampuan mempertahankan kursi, tapi juga kemampuan membaca arah angin dan kadang, berpindah perahu sebelum perahu yang lama tenggelam.

Fenomena ini bukan cerita baru. Kita sudah menyaksikan berkali-kali bagaimana partai yang dulunya berseberangan keras dengan pemerintah, tiba-tiba menjadi pendukung setia setelah mendapat jatah kursi menteri. Ideologi dan prinsip politik yang dulunya digembar-gemborkan seolah hanya jadi dekorasi manifesto partai yang berdebu di rak kantor. Yang penting, tetap dekat dengan sumber daya dan tetap punya panggung lima tahun ke depan.

Lihatlah peta koalisi pasca pemilu. Hampir setiap kali hasil penghitungan suara final diumumkan, komposisi pendukung pemerintah berubah seperti puzzle yang diacak ulang. Lawan bisa jadi kawan, kawan bisa jadi lawan, tergantung siapa yang berhasil duduk di kursi presiden. Rakyat pun menonton, kadang bingung, kadang pasrah, tapi jarang benar-benar terkejut.

Inilah wajah politik kita: cair, fleksibel, adaptif dan, sayangnya, sering kali oportunis. Banyak pihak yang membela fenomena ini dengan dalih “demi stabilitas nasional” atau “untuk menjaga persatuan bangsa.”

Tidak salah, stabilitas memang penting. Tapi ketika stabilitas itu dibangun di atas kompromi yang mengorbankan janji kampanye dan prinsip ideologi, yang kita dapat bukanlah persatuan, melainkan pembagian kue kekuasaan.

Masalahnya, rakyat jarang benar-benar menagih janji itu. Di negeri dengan memori politik yang pendek, pergeseran posisi partai jarang menimbulkan konsekuensi serius di kotak suara pemilu berikutnya. Akibatnya, partai belajar bahwa yang penting adalah bertahan di pusat kekuasaan, bukan bertahan di hati rakyat.

Di titik ini, politik kita semakin mirip permainan bertahan hidup (survival game). Siapa yang punya insting membaca arah angin dengan cepat, siapa yang sanggup berganti warna tanpa malu, merekalah yang akan tetap hidup. Seperti di hutan, spesies yang bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling bisa menyesuaikan diri. Bedanya, di dunia politik, kemampuan bertahan sering berarti mengorbankan konsistensi dan mengaburkan batas antara prinsip dan kepentingan.

Yang lebih berbahaya lagi adalah normalisasi perilaku ini. Ketika rakyat menganggap wajar perpindahan posisi politik demi jabatan, partai akan terus berlatih seni bertahan hidup, bukan seni membela kepentingan rakyat. Perlahan-lahan, yang punah bukan partainya, melainkan harapan kita akan politik yang jujur, konsisten, dan berpihak pada kepentingan publik.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan sekadar “siapa yang berkuasa?” tetapi “untuk siapa kekuasaan itu digunakan?” Sebab seni bertahan hidup memang hebat, tapi tanpa seni memperjuangkan rakyat, hutan politik ini akan terus rimbun oleh kepentingan, namun gersang dari keadilan.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi