Koordinator Aksi Aceh Melawan: Muhammad Gamal
Kami, gerakan Aceh Melawan, menyatakan sikap tegas mengkutuk pernyataan Safrizal, Dirjen Administrasi Wilayah Kemendagri sekaligus mantan Pj Gubernur Aceh, yang menyebut bahwa empat pulau milik Aceh Pulau Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek telah sejak lama menjadi bagian dari wilayah Sumatera Utara.
Pernyataan ini sungguh menyayat hati rakyat Aceh. Bukan hanya karena status kepemilikan wilayah yang dipertaruhkan, tetapi juga karena pernyataan tersebut datang dari seorang putra Aceh sendiri, yang justru diharapkan menjadi pembela kepentingan daerahnya.
Tragedi ini mengingatkan kita pada sosok dalam sejarah Aceh: Panglima Tibang. Dulu, ia dipercaya menjadi syahbandar Kesultanan Aceh dan bahkan ditunjuk sebagai utusan resmi untuk berdialog dengan pihak kolonial Belanda. Namun, alih-alih menjaga amanah, Panglima Tibang malah membelot dan memilih berpihak pada penjajah. Akibatnya, rakyat Aceh menjulukinya sebagai “Cuwank Belanda” sebuah cap pengkhianatan yang abadi dalam memori sejarah kita.
Kini, kita melihat bayangan sejarah itu terulang dalam sosok Safrizal. Dulu, masyarakat Aceh sempat menaruh harapan besar padanya saat menjabat sebagai Pj Gubernur Aceh. Bahkan ketika ia dipercaya mengisi posisi strategis di Kemendagri, kami menganggapnya sebagai kebanggaan bagi Aceh. Namun, kebanggaan itu berubah menjadi kekecewaan dan kemarahan mendalam, ketika ia justru menyampaikan pernyataan yang merugikan dan menyakitkan bagi Aceh.
Sebagai pejabat tinggi negara, Safrizal seharusnya menjadi benteng pertama dalam menjaga martabat dan kedaulatan wilayah Aceh. Namun yang terjadi justru sebaliknya—ia menjadi bagian dari narasi yang menghapus empat pulau kita dari peta Aceh.
Kami menegaskan, kutukan ini bukan dilandasi oleh emosi semata, tetapi oleh rasionalitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang pemimpin yang mengkhianati tanah kelahirannya tidak layak diberi ruang, apalagi dirawat dalam struktur kekuasaan.
Aceh pernah dikhianati oleh Panglima Tibang, dan kini kami merasa dikhianati kembali oleh Safrizal. Sejarah tak boleh terus berulang. Saatnya kita bangkit dan bersatu menjaga harga diri Aceh.
Muhammad Gamal
Koordinator Lapangan Aksi Aceh Melawan






















































Leave a Review