Simbol, Perlawanan, dan Harapan: Membaca Bendera One Piece dalam Lintasan Sejarah

Penulis Muhammad Askar Rezeki
Kader HMI Banda Aceh

Jagat media sosial kita baru-baru ini diramaikan oleh fenomena bendera One Piece yang berkibar di mana-mana. Dari tiang rumah, kapal nelayan, hingga sudut-sudut desa, bendera bergambar tengkorak itu bukan sekadar simbol kecintaan terhadap anime, melainkan ekspresi identitas dan semangat kolektif. Aneh? Tidak juga. Simbol memang selalu hidup, dan sering kali menjadi titik temu antara imajinasi dan perlawanan.

Fenomena ini sejatinya mengingatkan kita bahwa sejarah panjang umat manusia tak pernah lepas dari simbol. Bendera, warna, dan panji adalah bahasa politik dan perasaan yang paling sederhana namun kuat. Bahkan dalam sejarah Islam, panji-panji bukan sekadar alat perang atau dekorasi upacara, tetapi pembawa pesan ideologis dan spiritual.

Salah satu contohnya adalah bendera hitam Dinasti Abbasiyah. Simbol ini lahir dari luka sejarah, bukan dari ruang kosong. Ia mewakili duka mendalam atas tragedi Karbala, saat cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, dibantai. Warna hitam lalu menjadi simbol perlawanan terhadap kezaliman, khususnya terhadap Dinasti Umayyah yang telah memonopoli kekuasaan secara turun-temurun dan menyingkirkan Ahlul Bait dari panggung politik.

Panji hitam bukan cuma warna. Ia adalah simbol revolusi, harapan, dan pembalikan sejarah. Abu Muslim al-Khurasani, dengan karismanya, menggerakkan pasukan dari Khurasan dengan panji ini, menjadikannya lambang perjuangan rakyat terpinggirkan, termasuk kalangan non-Arab (mawali).

Ketika bendera ini berkibar di Kufah dan Abul Abbas as-Saffah diangkat sebagai khalifah, dunia menyaksikan bagaimana simbol revolusi bisa naik pangkat menjadi simbol negara.

Namun kekuasaan memang punya cara meredam makna.
Seiring waktu, bendera hitam yang dahulu membakar semangat rakyat berubah menjadi simbol formal belaka kosong dari muatan revolusionernya. Bahkan di era Khalifah al-Ma’mun, warna bendera diganti menjadi hijau untuk alasan politis dan sektarian. Simbol menjadi cair; makna bergeser tergantung siapa yang memegangnya.

Hal ini selaras dengan apa yang kita lihat hari ini: bendera One Piece yang dikibarkan bukan semata-mata untuk bersenang-senang, tapi juga menjadi semacam ekspresi diam atas ketidakpuasan, kerinduan akan keadilan, bahkan harapan akan dunia yang lebih bebas dan jujur seperti cita-cita para bajak laut fiksi itu sendiri.

Lalu, apa pelajarannya?

Bahwa simbol tak pernah netral. Ia bisa menjadi alat perlawanan atau alat kekuasaan. Ia bisa membakar semangat atau justru menipu. Dan dalam dunia yang semakin kompleks ini, kita perlu jeli membaca pesan di balik setiap simbol yang berkibar di depan mata.

Apakah bendera itu mengajak kita untuk bermimpi?
Atau hanya menjadi penenang agar kita tetap diam di dalam kezaliman?

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi