Oleh: Muhammad Fadli Sekretaris Umum HMI Badko Aceh
Kepemimpinan tidak selalu diukur dari jabatan yang disandang, tetapi dari bagaimana seorang pemimpin hadir, mengambil keputusan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam institusi kepolisian, ketegasan menegakkan hukum dan kemampuan membangun kedekatan dengan masyarakat merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan.
Hal tersebut menjadi salah satu gambaran menarik dari kepemimpinan Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan. Sejak dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolda Aceh pada Juli 2026, sejumlah langkah dan capaian yang ditunjukkan Polda Aceh patut mendapatkan apresiasi.
Ada beberapa catatan penting yang memperlihatkan bagaimana kepemimpinan Ruddi Setiawan diterjemahkan melalui kerja nyata, baik dalam pemberantasan kejahatan maupun menjaga stabilitas keamanan di Aceh.
Ketegasan Melawan Kejahatan Narkotika
Salah satu capaian yang patut mendapat perhatian adalah keberhasilan pengungkapan laboratorium narkotika jaringan internasional di Kabupaten Pidie dengan barang bukti sekitar 1,2 ton sabu cair dan penangkapan 11 tersangka.
Pengungkapan tersebut bukan perkara sederhana. Di baliknya terdapat proses penyelidikan, koordinasi lintas lembaga, serta kerja sama dengan jaringan penegak hukum internasional.
Keberhasilan ini memperlihatkan keseriusan Polda Aceh dalam menghadapi ancaman narkotika yang selama ini menjadi salah satu persoalan serius bagi masa depan generasi muda.
Sikap tegas Ruddi Setiawan yang menyatakan tidak memberikan kompromi terhadap jaringan narkotika juga menjadi pesan penting bahwa tidak boleh ada ruang bagi kejahatan yang merusak masa depan masyarakat Aceh.
Mengawal Hak Masyarakat melalui Penertiban BBM Bersubsidi
Tidak hanya persoalan narkotika, perhatian terhadap penyalahgunaan BBM bersubsidi juga menjadi bagian penting dari kinerja kepolisian di bawah kepemimpinannya.
Ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan antrean panjang BBM, penyelewengan distribusi, hingga dugaan praktik penimbunan dan pengoplosan, jajaran Polda Aceh turut mengambil langkah penindakan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Sidak Satgas BBM di sejumlah SPBU Banda Aceh pada September 2026 turut melibatkan unsur Ditreskrimsus dan Ditintelkam Polda Aceh. Dalam perkembangan berikutnya, penindakan jajaran Polda Aceh pada 19–25 Oktober 2026 berhasil mengamankan sekitar 32 ton solar bersubsidi dan menetapkan 22 orang sebagai tersangka.
Langkah tersebut patut diapresiasi karena persoalan BBM subsidi bukan sekadar persoalan distribusi energi, melainkan menyangkut hak masyarakat kecil, nelayan, petani, sopir angkutan, dan pelaku usaha yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
Kehadiran aparat dalam mengawasi dan menindak praktik penyalahgunaan subsidi merupakan bentuk perlindungan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Ketika Kapolda Memilih Turun Langsung Menemui Masyarakat
Namun, ada sisi lain dari kepemimpinan Ruddi Setiawan yang menurut saya tidak kalah menarik, yaitu pendekatan humanis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Hal ini terlihat ketika peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh pada 15 Agustus 2026 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, diwarnai ketegangan antara sebagian massa dan aparat keamanan.
Di tengah situasi tersebut, Kapolda Aceh memilih turun langsung menemui massa, berdiri di tengah kerumunan, dan membangun komunikasi secara langsung.
Bahkan, dalam dialog tersebut, Kapolda merespons permintaan massa terkait warga yang sebelumnya diamankan aparat. Dua warga kemudian dibebaskan dan dihadirkan kembali di hadapan massa dengan didampingi langsung oleh Kapolda.
Menurut saya, tindakan seperti ini mencerminkan kualitas kepemimpinan yang patut diapresiasi. Sebab, mengamankan demonstrasi bukan semata-mata tentang mengendalikan massa, melainkan juga bagaimana menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
Terlebih Aceh memiliki sejarah panjang konflik dan proses perdamaian yang harus dijaga bersama. Karena itu, pendekatan dialogis, persuasif, dan humanis merupakan pilihan yang sangat penting dalam merawat stabilitas daerah.
Seorang pemimpin yang bersedia turun langsung ke tengah masyarakat menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memberikan instruksi, tetapi juga keberanian mengambil tanggung jawab di lapangan.
Kepemimpinan yang Layak Mendapat Apresiasi
Dari beberapa catatan tersebut, kita dapat melihat bahwa kepemimpinan Kapolda Aceh tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga memperlihatkan perhatian terhadap persoalan sosial dan kebutuhan masyarakat.
Ketegasan dalam memberantas narkotika, keseriusan mengawal distribusi BBM bersubsidi, serta pendekatan persuasif dalam menghadapi dinamika demonstrasi merupakan tiga hal yang memperlihatkan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan humanisme.
Tentu, menjaga Aceh tetap aman dan kondusif bukanlah pekerjaan satu institusi semata. Dibutuhkan kolaborasi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat.
Sebagai bagian dari elemen mahasiswa dan pemuda, kita patut memberikan apresiasi kepada setiap aparatur negara yang menunjukkan dedikasi dan pengabdian bagi kepentingan masyarakat.
Saya memandang Irjen Pol. Ruddi Setiawan telah menunjukkan sejumlah langkah positif yang patut dihargai. Harapannya, semangat pengabdian tersebut terus dipertahankan dan diperkuat demi mewujudkan Aceh yang aman, damai, dan semakin maju.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan aparat yang mampu menegakkan hukum dengan tegas, tetapi juga pemimpin yang mau mendengar, hadir, dan berdiri bersama masyarakat ketika situasi membutuhkan kehadirannya. Di situlah nilai penting sebuah kepemimpinan.






















































Leave a Review