Katacyber.com | Banda Aceh – Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) UIN Ar-Raniry mengecam tindakan represif pasukan pengamanan presiden (Paspampres) terhadap tiga kader PMII saat aksi unjuk rasa di Blitar dalam kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Minggu, (22/06/2025)
Ketua Umum PK PMII UIN Ar-Raniry, Sahabat Muhammad Ikram, menilai tindakan aparat pengamanan terhadap kader yang menyampaikan aspirasi merupakan bentuk pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi.
“Perlakuan represif itu tidak pantas dilakukan kepada kader kami yang hanya menyampaikan kritik kepada Wakil Presiden. Seharusnya ruang demokrasi dijaga, bukan dibungkam,” tegas Ikram.
Sementara itu, Ketua Bidang Kaderisasi dan Pemberdayaan PMII UIN Ar-Raniry, Sahabat Muhammad Afif Irvandi El Tahiry, menilai pemerintah seharusnya terbuka terhadap kritik sebagai bentuk kasih sayang rakyat terhadap pemimpinnya, bukan justru bersikap baper dan represif.
“Tidak boleh ada pembungkaman di negara demokrasi. Kritik itu bentuk cinta rakyat terhadap pemimpin, untuk perbaikan bersama,” ujarnya.
Sosok yang akrab disapa Sahabat Abon itu juga menegaskan bahwa aksi tiga kader PMII di Blitar bukanlah ajakan pemakzulan, melainkan pengingat terhadap bahaya politik dinasti yang dinilai mengancam demokrasi.
“Yang dilakukan mereka adalah amanat rakyat, bukan makar. Kenapa justru dibalas dengan tindakan represif? Ini sungguh mencederai logika demokrasi,” ujarnya dengan nada heran.
Dalam video yang beredar, ketiga mahasiswa PMII terlihat membentangkan poster saat iring-iringan Wapres Gibran melintas. Spanduk tersebut bertuliskan:
“Dinasti tiada henti”, “Omon-omon 19 juta lapangan kerja”, dan “Semangat terus bualan Mas Wapres Gibran.”
PMII UIN Ar-Raniry menyerukan solidaritas nasional untuk mengawal kasus ini agar ditindak sesuai hukum yang berlaku. Mereka juga menegaskan bahwa Paspampres seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan pelaku represi terhadap aspirasi.
“Kami berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. Kritik bukan ancaman, justru menjadi kekuatan untuk membangun bangsa,” pungkas Sahabat Ikram.























































Leave a Review