Katacyber.com ǀ Banda Aceh – Salah satu akademisi perguruan tinggi Banda Aceh, Agus Junaidi, menyampaikan kritik keras terhadap sejumlah pejabat dan instansi terkait yang menyatakan bahwa pemulihan listrik di Aceh telah berjalan normal. Pernyataan tersebut, menurutnya, tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan, Rabu (10/12/2025).
Menurutnya, masih banyak wilayah yang mengalami pemadaman, jaringan rusak, serta akses yang belum pulih akibat bencana banjir besar yang melanda Aceh dan Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir.
Dia menyampaikan masyarakat yang sedang mengalami musibah tidak membutuhkan klaim-klaim keberhasilan yang terburu-buru. Mereka membutuhkan tindakan cepat, komunikasi yang jujur, dan kerja nyata dari pemerintah serta PLN.
“Ini bukan waktu untuk mencari muka. Bencana sebesar ini tidak boleh dijadikan ajang pencitraan. Rakyat sedang menderita, dan mereka berhak mendapatkan informasi yang jujur, bukan laporan yang didandani agar tampak sukses,” tegas Agus.
Agus menjelaskan bahwa berdasarkan laporan masyarakat serta sejumlah dokumentasi yang diterima, masih terdapat desa-desa yang terisolasi, beberapa jembatan terputus, layanan kesehatan yang lumpuh, dan pemadaman listrik yang belum tertangani sepenuhnya. Akibatnya, warga kesulitan mengakses air bersih, alat komunikasi, serta kebutuhan darurat lainnya.
“Mengatakan Aceh sudah pulih total sementara banyak daerah masih gelap adalah bentuk pengaburan fakta. Ini berbahaya karena dapat membuat respon bencana menjadi tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Agus mengajukan empat tuntutan utama yang harus segera dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan PLN untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif:
1.Hentikan klaim keberhasilan yang tidak sesuai kondisi lapangan.
2.Komunikasi publik harus didasarkan pada data valid, bukan narasi yang dikemas agar tampak baik di hadapan pimpinan atau publik.
3.Fokus pada percepatan pemulihan infrastruktur kritis.
4. Ini termasuk listrik, jembatan, akses jalan, dan jaringan telekomunikasi yang sangat penting dalam operasi pertolongan.
5. Perkuat distribusi logistik dan layanan kemanusiaan.
Sementara itu, masih dominan daerah terdampak membutuhkan air bersih, makanan siap saji, selimut, obat-obatan, dan layanan medis segera. Dia mendesak pemerintah dapat memastikan adanya koordinasi lintas instansi tanpa hambatan birokrasi.
“Dalam bencana besar, ego sektoral harus ditanggalkan. Keselamatan rakyat jauh lebih penting daripada aturan-aturan kaku,” tegasnya.
Dia juga memberikan seruan tegas kepada para pejabat agar menjaga integritas moral dalam setiap pernyataan dan tindakan mereka selama masa tanggap darurat.
“Bencana adalah ujian kemanusiaan. Pejabat yang lebih sibuk menyenangkan atasan daripada menyelamatkan masyarakat telah gagal memahami esensi jabatan publik.”
Ia menambahkan bahwa informasi yang jujur bukan hanya soal etika, tetapi juga menyangkut keselamatan warga yang mengandalkan arahan dan keputusan pemerintah.
Di akhir pernyataannya, Agus berharap semua pihak bersatu untuk memastikan pemulihan berjalan cepat dan efektif tanpa drama politik maupun pencitraan.
“Rakyat Aceh dan Sumatera Utara sedang berada dalam kondisi sulit. Saya meminta seluruh pihak bekerja lebih sungguh-sungguh, transparan, dan tulus demi keselamatan masyarakat. Bencana bukan panggung untuk tampil hebat, bencana adalah panggung untuk menunjukkan keberpihakan pada rakyat.”tutup Agus.























































Leave a Review