Muzakir Manaf, The Next Jokowi-nya Aceh?

Oleh Ziyat Dayyan (Jurnalis/Tim Police Center for Aceh Development)

Angin segar tanah Solo sudah sampai ke Serambi Mekkah. Suasana politik Aceh tiba-tiba terasa akrab bagi orang Jakarta. Blueprint pusat telah berhasil sampai ke Aceh. Ayahanda Sunnyl Ikbal sukses mengangkat anaknya menjadi Komisaris Utama. Mirip dengan cerita ayahanda Gibran yang menaikkan sang anak ke posisi Wakil Presiden RI ke-8. Gaya politik baru telah muncul, “Jokowisme Lokal” mulai merambat ke ujung barat. Sudah tidak perlu lagi untuk iri kepada pusat, sistem politik sudah merata ke ujung Indonesia. Layak dibanggakan sebagai sebuah kesuksesan yang ditunggu-tunggu selama ini, di mana Indonesia dahulunya mungkin krisis pemerataan program.

Sunnyl Ikbal, mahasiswa Perbanas, berhasil mendapatkan jabatan Komisaris Utama untuk PGE, perusahaan besar yang cocoknya diketuai pemimpin kompeten. Begitulah Sunnyl, ruang kelas bisnisnya sangat luas, sampai ke dinding kantor PGE di Aceh. Mengawasi dokumen Blok B Migas di antara tumpukan tugas-tugas dosen senior. Prestasi Sunnyl mencapai posisi tersebut tidak dapat diartikan nepotisme, sebab Sunnyl pernah sekolah bisnis dan menjadi Sekretaris Umum HIPMI Aceh, satu naungan dengan Bapak Sekum HIPMI Gibran. Arti yang lebih tepat untuk fenomena tersebut adalah “akselerasi talenta muda” yang diukur dengan kadar DNA unggul. Mungkin saja kedua kesamaan tersebut merupakan cara untuk publik lebih familiar terhadap wajah yang akan sering muncul nantinya. Istilahnya adalah persiapan sebelum digempur di medan perang.

Muzakir Manaf, Gubernur Aceh sekaligus pemegang saham kendali PGE, adalah penggelar karpet merah di cerita ini. Percaya atau tidak, Muzakir Manaf sepertinya kagum dengan sosok ayah Gibran yang telah berhasil menjadikannya Wakil Presiden. Jalan cerita pun mirip-mirip. Ketika sang ayah sedang memegang puncak kekuasaan, di mana tanda tangannya adalah hukum yang berlaku, di situlah sang ayah mengusahakan doa-doa kesuksesan bagi anaknya. Sunnyl diangkat dari mekanisme keputusan sirkuler. Gibran naik dari kebaikan paman di MK. Jalur birokratis hanyalah metode kuno yang membuang umur pemuda seperti Sunnyl atau Gibran. Lebih baik langsung saja sebagai upaya efisiensi umur. Tidak perlu melewati proses RUPS atau senioritas.

Muzakir Manaf juga banyak belajar dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Kalau kiasan “tuntutlah ilmu sampai negeri Cina”, beliau sudah melakukannya. Sangat jauh beliau berguru pada Master Solo. Dulu beliau menggaungkan kedaulatan, kemakmuran, pemikiran yang hidup untuk menghidupi bangsa Aceh. Sekarang telah update, memikirkan keberlanjutan, ketahanan, atau kekeluargaan. Langkah awalnya adalah “hilirisasi politik” yang dimulai dari sumber daya dalam KK. Jelas terlihat kalau cakrawala permainan sudah mulai meluas. Mendapati guru-guru ternama yang namanya akan terus diingat sebagai pengubah nasib bangsa. Hari ini mungkin Jokowi, besok siapa tahu guru beliau adalah Trump, admin dunia. Semangat pencarian ilmu ini seharusnya sangat baik untuk ditiru masyarakat Aceh.

Sosok Kak Na juga tentunya berperan dalam kesuksesan anak. Titisan doa “strategis” yang dipanjatkan untuk mengawal kesuksesan anak. Ayah bergerak menggelar tikar, sedangkan ibu melafalkan ayat-ayat pembenaran untuk anaknya supaya tidak banyak kendala yang terjadi. Di sini benar kita melihat bahwa doa ibu tidak tertahan langit. Sangat kuat terbang dan mengangkat anaknya mencapai posisi yang mustahil. Bak mukjizat, bila berpikir menggunakan akal sehat akan sulit diterima. Sedangkan doa ibu, sesulit apa pun jalannya, pasti akan sampai ia. Kembali lagi, ini tidak layak dikatakan nepotisme, karena Sunnyl adalah bentuk suksesnya doa seorang ibu kepada anaknya.

Sunnyl telah mendapatkan rezekinya. Doa sudah diwujudkan. Sekarang tinggal masyarakat yang harus bertanya, kapan doanya akan dikabulkan? Apakah besok ketika Sunnyl sudah aktif mengurus emas-emas bumi Serambi Mekkah? Atau ketika datang masa adik-adiknya yang memegang kendali seperti PGE? Atau mungkin ketika sang ayah turun dari kursi jabatan dan digantikan Sunnyl sendiri? Tidak ada yang tahu. Harapan kita sesama masyarakat adalah buah manis hasil perdamaian Aceh itu datang bagi seluruh rakyat Aceh, tidak hanya bagi mereka yang bermarga di lembar SK Gubernur. Selamat kepada Sunnyl Ikbal, semoga ilmu yang dipelajari dalam masa belajar ini bisa menjawab kesedihan rakyat Aceh.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi