Menakar Janji dan Realita; 100 Hari Kerja Bupati-Wabup Gayo Lues

Penulis Syahputra Ariga – Simpul Mahasiswa Gayo Lues

Hari demi hari telah kita lewati. Tanpa terasa, lebih dari 100 hari sudah berlalu sejak pasangan Suhaidi-Maliki memimpin Gayo Lues. Masa 100 hari kerja kerap dijadikan tolok ukur awal untuk menilai keseriusan dan arah kebijakan sebuah pemerintahan. Pertanyaannya: sudah sejauh mana janji-janji kampanye yang dilontarkan keduanya direalisasikan?

Mari kita kembali menilik visi dan misi yang dijanjikan oleh pasangan Suhaidi-Maliki ketika maju sebagai calon pemimpin daerah.

Visi:
Membangun Gayo Lues yang Islami, berdaya saing, dan sejahtera.

Misi:

1. Memperkuat nilai-nilai akhlakul karimah dalam semua sendi kehidupan masyarakat, yang diawali dari pelaksanaan pemerintahan yang syar’i.

2. Mengembangkan adat istiadat Islami berdasarkan kearifan lokal secara berkelanjutan, dengan mengimplementasikan adat, seni, dan budaya yang bertumpu pada pelaksanaan syariat Islam.

3. Meningkatkan lingkungan pendukung pembangunan yang handal dan berdaya saing.

4. Meningkatkan mutu pendidikan, kesehatan, kecerdasan, dan keterampilan secara berkelanjutan.

5. Meningkatkan prasarana produksi, pasar produk, tata kelola bisnis, dan inovasi daerah secara sinergis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

6. Meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan sosial masyarakat.

7. Meningkatkan konektivitas struktur dan perekonomian Gayo Lues antar kawasan dan antar wilayah pembangunan sesuai klaster.

Namun kenyataan yang dirasakan masyarakat saat ini masih jauh dari harapan. Dalam 100 hari pertama, masyarakat belum benar-benar melihat pondasi konkret dari janji-janji tersebut. Program-program strategis belum terlihat jelas, dan arah pembangunan masih terkesan kaku dan belum menyentuh kebutuhan mendasar warga.

Padahal, dalam masa kampanye, Suhaidi-Maliki menegaskan bahwa janji yang mereka sampaikan adalah bentuk tanggung jawab moral, bukan sekadar strategi politik. Namun jika dalam 100 hari ini tidak ada progres yang nyata, maka publik berhak menafsirkan ulang makna dari komitmen tersebut.

Memang, membangun daerah tidak bisa instan. Tapi minimal, dalam 100 hari ini, masyarakat patut mendapatkan sinyal positif: transparansi arah kebijakan, gebrakan awal, atau langkah-langkah nyata yang bisa menjadi dasar optimisme. Sayangnya, harapan itu belum terpenuhi sepenuhnya.

Ini bukan semata-mata soal menagih janji, tapi tentang harapan dan kepercayaan masyarakat yang telah memberikan mandat. Evaluasi publik di masa-masa awal adalah cermin sejauh mana pemimpin memahami bahwa setiap janji adalah amanah, bukan sekadar retorika.

Kita semua menanti. Bukan untuk mencari-cari kesalahan, tapi agar Gayo Lues benar-benar menuju arah perubahan sebagaimana yang dijanjikan: Islami, berdaya saing, dan sejahtera.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi