Oleh: Apriadi Rama Putra
“Kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi kebenaran.” _Joseph Goebbels
Di era digital ini, kita hidup dalam pusaran informasi yang tak terbendung. Setiap detik, berita baru muncul, analisis mendalam berseliweran, dan opini publik dibentuk melalui tajuk utama yang menggugah emosi. Namun, ada satu kenyataan yang tak bisa disangkal: media bukan sekadar penyampai berita, melainkan mesin framing yang lihai membentuk realitas sesuai kepentingan tertentu.
Framing dalam dunia jurnalistik bukan sekadar teknik penyajian berita, tetapi sebuah strategi untuk mengarahkan pemikiran publik. Seperti seorang pelukis yang menyoroti bagian tertentu dari kanvasnya, media memiliki kuasa untuk menentukan sudut pandang yang akan ditampilkan dan mana yang akan dikesampingkan.
Kita ambil contoh pemberitaan politik di Indonesia. Ketika seorang pejabat terlibat skandal, media bisa memilih untuk menyoroti sisi humanisnya—keluarga yang menangis, jasa-jasanya di masa lalu—atau justru menampilkan sisi koruptifnya dengan angka-angka mencengangkan. Dua narasi ini, meski bersumber dari fakta yang sama, bisa menghasilkan dampak psikologis yang berbeda di benak pembaca.
Edward S. Herman dan Noam Chomsky dalam bukunya Manufacturing Consent (1988) menjelaskan bagaimana media sering kali beroperasi sebagai alat propaganda. Mereka menyebutkan bahwa kepentingan pemilik modal, bias ideologis, serta tekanan politik berkontribusi dalam membentuk narasi yang diusung oleh media massa. Dalam konteks Indonesia, hal ini semakin relevan ketika kita melihat bagaimana kepemilikan media terkonsentrasi pada segelintir elite yang juga bermain dalam arena politik dan bisnis.
Mari kita lihat beberapa kasus nyata. Pada 1998, ketika reformasi bergulir, media berperan besar dalam menggiring opini publik terhadap kejatuhan Orde Baru. Sebaliknya, di era pasca-reformasi, media juga berulang kali menjadi alat kekuasaan untuk menggiring persepsi publik terhadap tokoh-tokoh tertentu.
Kasus lain yang menarik adalah bagaimana pemberitaan aksi demonstrasi di Indonesia. Jika aksi tersebut mendukung pemerintah, media cenderung menyorot semangat kebersamaan dan aspirasi rakyat. Namun, jika aksi tersebut berseberangan dengan pemerintah, narasi yang muncul sering kali bergeser ke arah kekerasan, anarkisme, atau kepentingan politik tertentu.
Di dunia internasional, framing media juga memainkan peran sentral. Lihat bagaimana media Barat memberitakan konflik di Timur Tengah. Ketika suatu negara yang bersekutu dengan Barat melakukan serangan militer, istilah yang digunakan adalah “operasi kemanusiaan” atau “penegakan perdamaian.” Namun, ketika negara yang dianggap musuh melakukan hal yang sama, istilah yang muncul adalah “agresi” atau “pelanggaran hak asasi manusia.”
Framing media bukan sekadar masalah sudut pandang, tetapi bisa menjadi alat manipulasi yang membentuk opini publik secara sistematis. Ketika framing dilakukan secara terus-menerus, masyarakat bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan hanya menerima realitas yang sudah dikonstruksi oleh media.
Efek dari framing ini bisa sangat berbahaya, terutama dalam konteks politik dan sosial. Ketika satu kelompok terus-menerus dicitrakan sebagai ancaman, kebencian bisa tumbuh dan berujung pada konflik sosial. Sebaliknya, ketika individu atau kelompok tertentu selalu ditampilkan sebagai pahlawan, masyarakat bisa menjadi buta terhadap kesalahan yang mereka lakukan.
Dalam psikologi, fenomena ini disebut confirmation bias, di mana seseorang cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak fakta yang bertentangan. Media, dengan framing yang cermat, bisa memanfaatkan bias ini untuk menggiring opini publik ke arah tertentu.
Sebagai masyarakat yang semakin melek informasi, kita harus lebih kritis dalam menyikapi pemberitaan. Jangan mudah percaya dengan satu sumber berita. Bandingkan berbagai media, analisis pola pemberitaan, dan kenali siapa di balik media tersebut.
Di tangan masyarakat yang kritis, framing media tidak akan mudah memanipulasi pikiran. Namun, di tangan masyarakat yang malas berpikir, media akan terus menjadi alat propaganda yang efektif. Pilihan ada di tangan kita: menjadi konsumen informasi yang cerdas atau menjadi korban framing yang tak sadar sedang dimanipulasi.























































Leave a Review