Aceh Tak Karuan: Globalisasi, Identitas Lokal, dan Masa Depan Generasi Muda

Oleh: Silvana Sahfitri (Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala)

Globalisasi telah mengubah cara generasi muda Aceh melihat dunia. Hanya melalui satu layar telepon genggam, tren musik, gaya hidup, informasi politik, hingga budaya dari berbagai belahan dunia dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Data APJII 2024 yang dikutip dalam naskah ini mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 79,5 persen atau sekitar 221,5 juta pengguna. Generasi Z menjadi kelompok pengguna terbesar dengan porsi 34,4 persen.

Bagi Aceh, perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus pertanyaan penting: bagaimana keterbukaan terhadap dunia dapat berjalan tanpa membuat generasi mudanya kehilangan akar identitas?

Aceh memiliki kekayaan sejarah, adat, bahasa, kesenian, serta tradisi keislaman yang membentuk karakter masyarakatnya. Namun, derasnya arus budaya global membuat generasi muda semakin akrab dengan produk budaya luar dibandingkan warisan budaya sendiri. Pergeseran itu tidak selalu terjadi secara dramatis. Ia berlangsung melalui pilihan-pilihan kecil sehari-hari: bahasa yang digunakan, tontonan yang dikonsumsi, musik yang didengar, hingga cara seseorang mengekspresikan dirinya di ruang digital.

Karena itu, globalisasi tidak tepat diposisikan sebagai musuh. Konektivitas digital membuka akses terhadap pendidikan, informasi, ekonomi, jejaring profesional, bahkan pasar internasional. Persoalannya bukan apakah Aceh harus terbuka atau tertutup, melainkan apakah masyarakat memiliki kemampuan untuk menyaring sekaligus memanfaatkan arus tersebut tanpa kehilangan identitas.

Bahasa menjadi salah satu persoalan yang patut mendapat perhatian. Naskah ini mengutip penelitian BRIN 2024 mengenai vitalitas bahasa Aceh serta menunjukkan adanya kecenderungan penurunan penggunaan bahasa daerah antargenerasi. Namun, data tersebut masih memerlukan penguatan dari sumber primer sebelum dijadikan dasar utama pemberitaan.

Di sisi lain, identitas budaya sesungguhnya dapat menjadi modal pembangunan. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang dicantumkan dalam naskah menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari 6,9 juta pada 2022 menjadi 8,9 juta pada 2023 dan 12,9 juta pada 2024. Kekayaan sejarah, kuliner, arsitektur, adat, dan karakter keislaman Aceh dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.

Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dikemas dalam bahasa generasi digital.

Pemerintah daerah dapat memperkuat dukungan terhadap kreator konten berbasis budaya, mengembangkan muatan lokal di sekolah, membuka ruang publikasi bagi seniman dan budayawan, serta memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi. Kampus juga dapat mengambil peran melalui riset, dokumentasi, dan pengabdian masyarakat yang menghubungkan mahasiswa dengan komunitas budaya.

Namun, pelestarian identitas tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Keluarga memiliki posisi penting dalam mengenalkan bahasa dan nilai budaya sejak dini, sementara generasi muda dapat menjadikan ruang digital sebagai medium baru untuk menghidupkan kembali hikayat, cerita rakyat, kesenian, kuliner, dan bahasa Aceh.

Aceh tidak harus memilih antara menjadi modern atau mempertahankan jati diri. Tantangan sesungguhnya adalah membangun modernitas yang tetap berakar pada identitas lokal.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, identitas bukan penghalang kemajuan. Justru dengan akar budaya yang kuat, generasi muda Aceh dapat memasuki ruang global tanpa kehilangan siapa dirinya. Aceh tidak perlu mundur dari dunia; Aceh hanya perlu memastikan bahwa ketika memasuki dunia, ia tetap datang sebagai Aceh.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi