Kemanusiaan yang Harus Isi Formulir Dulu

Oleh: Anissa (Aktivis Sosial Kemanusiaan Aceh / Part of Sekolah Kita Menulis cabang Langsa)

Mereka bilang kemanusiaan itu urusan hati. Tapi di sini, hatinya harus lewat administrasi dulu. Setiap bantuan, setiap senyum yang hendak kita beri, selalu dibungkus dalam formulir, kolom yang harus diisi, dan tanda tangan yang harus lengkap. Seolah-olah nurani manusia tak cukup untuk menuntun tangan kita menolong harus ada cap, stempel dan dokumentasi

Saya tahu sistem ini perlu, karena saya juga di dalamnya. Pernah memegang formulir itu, mengisi kolom, memotret penerima manfaat dengan kamera big check di tangan. Tapi setiap klik mengingatkan saya: ada jarak yang tumbuh antara empati dan laporan. Senyum yang saya tangkap adalah data, tangisan menjadi angka, luka menjadi baris dalam spreadsheet yang harus dikirim ke kantor pusat. Apakah hati kita masih ikut menghitung di kolom itu, atau hanya jari-jari yang mengetik angka?

Ironi terbesar muncul saat menyadari bahwa orang yang seharusnya dibantu sering tak “lengkap” di mata prosedur. Berdasarkan Badan Pusat Statistik 2024, lebih dari 25 juta orang masih tergolong miskin di Indonesia. Namun untuk menerima bantuan, mereka harus membuktikan deritanya lewat formulir, fotokopi dokumentasi, narasi menyedihkan, dan persyaratan administratif lain. Lucunya, derita yang nyata harus divalidasi dulu sebelum hati manusia diizinkan bekerja.

Dunia ingin tertib. Aturan, prosedur, pertanggungjawaban semua penting. Tapi di tengah usaha memastikan semuanya terdokumentasi, kita lupa bahwa di depan kita ada manusia yang sedang menunggu. Manusia yang rasa sakitnya tak bisa disalin ke formulir, harapannya tak bisa dihitung dalam persentase, dan ketakutannya tak bisa dicap.

Ada hari-hari ketika saya merasa bersalah karena tertawa kecil saat menandatangani formulir, sementara di luar ibu-ibu menunggu dengan anak-anak di pelukan mereka. Ada hari-hari ketika ingin menyalurkan bantuan lebih cepat, tapi dihalangi kolom-kolom yang harus diisi, angka yang dicek, stempel yang dicap. Seolah-olah kita sedang bekerja di dua dunia: dunia nurani yang ingin menolong, dan dunia birokrasi yang ingin memastikan semuanya terdokumentasi sempurna.

Paradoks ini bukan kesalahan individu, juga bukan kejahatan sistem sepenuhnya. Ini hanyalah refleksi dunia yang ingin terdokumentasi, memastikan tidak ada yang “salah jalan”. Ironinya, dalam usaha memastikan semuanya benar di atas kertas, sering terlupa bahwa di depan kita ada manusia yang sedang menunggu.

Tapi saya belajar satu hal: saya bukan sekadar saksi. Saya bagian dari jembatan yang harus menghubungkan hati dengan sistem. Menyeimbangkan empati dengan prosedur, tetap manusiawi di tengah laporan dan spreadsheet. Setiap senyum yang difoto, setiap formulir yang ditandatangani, setiap data yang dikirim itu semua bagian dari perjalanan yang tidak sempurna, tapi nyata.

Saya tidak menyesal berada di dalam sistem ini. Jika saya tidak berada di sana, siapa lagi yang bisa mengingatkan bahwa di balik angka dan dokumen itu, ada manusia yang menunggu? Ada hati yang berharap, nurani yang menanti disentuh.

Lucunya, di negeri ini, orang harus membuktikan bahwa mereka cukup menderita dulu untuk bisa disebut layak dibantu. Tapi saya percaya, ada saatnya kita bisa menulis ulang cerita itu. Hati bisa menang tanpa menunggu persetujuan dari kolom, cap, atau tanda tangan.

Sebagai pekerja sosial yang tetap memegang nurani, saya akan berada di antara dua dunia itu antara empati dan prosedur, antara manusia dan administrasi, antara luka nyata dan laporan lengkap.

Kita butuh lebih dari formulir yang lengkap. Kita butuh keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah sistem yang sibuk menghitung segalanya kecuali hati. Karena pada akhirnya, kemanusiaan memang urusan hati tapi hati yang sadar akan sistem, hati yang berani menulis ulang aturan kecil di dalamnya, hati yang tahu kapan menekan tombol submit dan kapan menolong langsung.

Dan, ya, terkadang terasa absurd: di satu sisi kita mengajarkan “kepedulian” di seminar, di sisi lain kita menolak bantuan karena satu kolom belum diisi. Dunia yang serius dengan prosedur, tapi santai menunggu manusia menderita. Inilah kenyataan: hati kita bisa sarkas, tapi nurani tetap harus menang.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi