Penulis Maulana Iqbal Katua HMI Komisariat Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Haul ke-15 wafatnya Paduka yang Mulia Tgk. Hasan Muhammad di Tiro bukan sekadar seremoni mengenang tokoh. Ia adalah sebuah momentum refleksi kolektif. Momentum untuk kembali menengok ke belakang ke masa ketika Aceh berdiri sebagai bangsa yang ditakuti, dihormati, dan bermartabat. Momentum untuk menanyakan dengan jujur: ke mana arah Aceh hari ini?
Aceh bukan tanah biasa. Dari masa ke masa, ia melahirkan perlawanan. Ketika kerajaan besar lain tumbang di hadapan Belanda, Aceh tetap berdiri gagah. Ketika penjajah datang dengan senjata dan tipu daya, orang Aceh menjawabnya dengan keberanian dan semangat juang yang tak padam. Bahkan ketika kemerdekaan Indonesia tidak sepenuhnya menghadirkan keadilan bagi daerah ini, Aceh kembali menunjukkkan jati dirinya: berani bersuara, berani bertindak, bahkan berani berpisah.
Namun kini, seiring waktu berjalan, darah perjuangan itu seolah telah mengering. Aceh hari ini tak lagi seperti dulu. Bukan hanya karena konflik bersenjata telah lama berakhir, tetapi karena semangat perlawanan itu perlahan tergantikan oleh kepentingan, kenyamanan, dan kelengahan.
Aceh yang dahulu ditakuti, kini justru berada dalam deretan provinsi termiskin. Sumber daya yang melimpah tak berbanding lurus dengan kualitas hidup rakyatnya. Dana otonomi khusus yang seharusnya menjadi jalan keluar, malah sering menjadi sumber bancakan elite. Rakyat tetap hidup dalam ketertinggalan, sementara janji kesejahteraan hanya bergema saat kampanye dan selebihnya menguap seperti angin lalu.
Lebih menyakitkan lagi, baru-baru ini kita kembali dihantam oleh realitas yang mempermalukan: empat pulau yang secara geografis dan historis berada dalam wilayah Aceh, justru diklaim dan dimasukkan ke dalam wilayah administrasi Sumatera Utara. Apakah ini hanya soal teknis peta? Tidak. Ini persoalan harga diri, kedaulatan wilayah, dan tanggung jawab kita terhadap negeri yang pernah diperjuangkan dengan nyawa.
Bagaimana mungkin tanah yang dulu kita pertahankan dengan darah, kini bisa diserahkan begitu saja tanpa perlawanan? Ke mana suara para pemimpin Aceh hari ini? Ke mana mereka yang dulu mengaku sebagai pewaris perjuangan Tgk. Hasan Tiro?
Haul ini seharusnya menjadi cambuk, bukan hanya bagi mereka yang di kursi kekuasaan, tapi bagi seluruh rakyat Aceh. Kita harus berani bertanya: apakah nilai-nilai perjuangan itu masih hidup dalam dada kita? Ataukah hanya tinggal simbol yang dipajang setiap tahun dalam bentuk baliho, tanpa makna dan nyawa?
Tgk. Hasan Tiro bukan hanya seorang tokoh. Ia adalah lambang perlawanan terhadap ketidakadilan, simbol keberanian menentang penindasan. Ia tidak pernah memperjuangkan Aceh agar menjadi provinsi yang lemah dan bergantung. Ia memperjuangkan Aceh yang bermartabat, kuat, dan mandiri.
Kini kita harus memilih: apakah kita ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu tanpa keberanian untuk memperbaiki masa depan? Ataukah kita siap bangkit kembali, menyalakan semangat perlawanan dalam bentuk baru melawan kebodohan, kemalasan, ketidakpedulian, dan pengkhianatan terhadap cita-cita besar Aceh?
Haul ini bukan akhir. Ini awal dari pertanyaan yang lebih besar: masih adakah Aceh dalam dirimu?






















































Leave a Review