Penulis: Daska Azis
(Akademisi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang sadar lingkungan. Salah satu pendekatan yang mulai berkembang di sekolah adalah pembelajaran projek berbasis gaya hidup berkelanjutan, seperti pembelajaran projek GLÉH (Green Life Education Habit) merupakan konsep proyek berkelanjutan yang diciptakan oleh akademisi dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia berpendapat jika GLÉH bukan sekadar perangkat pendukung dalam kurikulum merdeka, melainkan sebuah cara pandang baru yang mengajak anak-anak untuk memahami keterkaitan antara tindakan mereka secara keberlanjutan.
Dalam publikasi sebelumnya di Jurnal Internasional Bereputasi pada Journal of Posthumanism yang berjudul “Green Life Education Habit (GLÉH) for Sustainability Lifestyles based Locally in Schools”. Ia mengungkapkan jika projek-projek dalam GLÉH dirancang untuk menumbuhkan kepedulian melalui aktivitas nyata, seperti daur ulang, praktik kampaye lingkungan melalui poster, jajanan sehat dan pameran lainnya. Ia juga berpendapat jika mengimplementasikan GLÉH dalam pembelajaran di sekolah menjadi bentuk investasi jangka panjang yang berdampak luas.
Anak-anak yang terbiasa menjalani aktivitas harian dengan prinsip ekologis misalnya mendaur ulang sampah dengan konsep 4R yang akan tumbuh menjadi pribadi yang reflektif dan bertanggung jawab. Mereka tidak hanya diajari “apa yang benar?” secara konsep, tapi mengalami langsung bagaimana membuat keputusan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pembelajaran ini sangat relevan dengan prinsip pembelajaran kontekstual yang menekankan hubungan antara pengetahuan, sikap dan keterampilan mereka. Terlebih lagi konsep yang ia usung dan telah terpublikasikan ini mengusung nuansa budaya lokal Aceh, sehingga konsep ini tak hanya bertujuan penguatan kompetensi namun juga melestarikan budaya Aceh yang dikemas dalam sebuah dua puluh sintaks pembelajaran GLÉH. Kelebihan lain dari pembelajaran projek GLÉH adalah sifatnya yang kolaboratif dan lintas disiplin.
Anak-anak diajak bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tantangan nyata di lingkungan sekitar mereka, seperti menciptakan taman sekolah berbasis keanekaragaman hayat atau membuat kampanye lingkungan seperti ecobrick seperti mengelolah kulit telur menjadi kreasi. Dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar sains atau sosial, tetapi juga mengembangkan empati, komunikasi, dan keterampilan berpikir kritis kompetensi yang sangat dibutuhkan di abad 21. Ini adalah pembelajaran yang bukan hanya membentuk kognisi, tetapi juga karakter dan kepemimpinan terutama dalam mencapai dimensi profil Pancasila (beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; mandiri; bergotong royong; berkebinekaan global; bernalar kritis; dan kreatif).
Namun demikian, implementasi GLÉH tidak dapat berjalan efektif tanpa dukungan kebijakan dan kesadaran kolektif dari pihak sekolah, guru, orang tua, dan komunitas. Guru perlu diberikan pelatihan untuk mampu memfasilitasi pembelajaran yang kontekstual dan berbasis aksi. Sekolah pun perlu didorong menjadi laboratorium hidup yang ramah lingkungan, bukan sekadar tempat menyampaikan teori. Sinergi ini penting agar nilai-nilai keberlanjutan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menjelma menjadi budaya sekolah yang hidup dan berkembang. Selain itu, Daska Azis mengungkapkan jika konsep GLÉH ini dapat dikembangkan secara luas dan diintegrasikan melalui media Kecerdasan buatan dalam sebuah lingkungan metaverse. Ia mengungkapkan jika konsep ini akan terus diusung kebaharuannya dengan memperhatikan trend global namun bernuansa lokal.
Terakhir, menumbuhkembangkan gaya hidup berkelanjutan sejak dini bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Kita harus peka terhadap situasi yang kurang stabil saat ini, seperti perubahan iklim yang ekstrem, naiknya air laut, polusi udara dan masih banyak lagi aktivitas antropogenik yang hanya melihat keuntungan ekonomis sesaat saja.
Melalui pendekatan konsep pembelajaran projek GLÉH, sekolah menjadi agen perubahan yang menanamkan benih kesadaran ekologis dalam jiwa anak-anak. Di tangan merekalah masa depan bumi digenggam dan pendidikan yang bermakna adalah kunci agar mereka mampu menjaganya dengan cinta, ilmu, dan aksi nyata.

























































Leave a Review