Produksi MBG Harus di SPPG Bukan di Sekolah: Safrizal Memberi 4 Alasan

Katacyber.com | Blangpidie — Wacana menjadikan kantin sekolah sebagai tempat produksi MBG di SPPG mendapat tanggapan tegas dari pengelola lapangan di Aceh Barat. Asisten Lapangan SPPG Aceh Barat Woyla Timur Pasi Janeng, Muhammad Safrizal, menegaskan bahwa dapur produksi Makan Bergizi Gratis (MBG) paling tepat dikelola secara terpusat di SPPG, bukan dibebankan kepada infrastruktur sekolah.

4 Alasan Krusial Produksi MBG di SPPG Lebih Tepat

Menurut Safrizal, memproduksi makanan untuk ribuan siswa setiap hari bukanlah perkara sederhana karena membutuhkan standar, sistem, dan pengawasan yang ketat. Terdapat empat alasan utama mengapa dapur MBG wajib berpusat di SPPG;

Dapur SPPG dibangun mematuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN), dilengkapi cold storage, area cuci tiga bak, ventilasi, sanitasi, dan pengelolaan limbah memadai. Kantin sekolah umumnya tidak memiliki fasilitas ini sehingga rentan terhadap kontaminasi dan keracunan.

Satu fasilitas SPPG di Woyla Timur Pasi Janeng dirancang melayani belasan sekolah secara serentak. Membangun satu dapur besar terpusat terbukti jauh lebih hemat anggaran, tenaga, dan pengawasan dibandingkan memaksa 15 sekolah membangun dapur kecil masing-masing.

Jika produksi dipindahkan ke sekolah, beban kerja guru dan kepala sekolah akan bertambah drastis. Urusan belanja bahan, memasak, hingga distribusi ribuan porsi sangat berisiko mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Sistem terpusat memudahkan BGN, Dinas Kesehatan, dan BPOM melakukan inspeksi di satu titik. SPPG juga memiliki ahli gizi, SOP, dan pencatatan yang memastikan mutu menu selalu sesuai Angka Kecukupan Gizi.

Lebih dari urusan teknis, operasional SPPG turut menggerakkan roda ekonomi desa. SPPG Aceh Barat Woyla Timur Pasi Janeng berkomitmen menyerap hasil panen petani lokal seperti beras, sayur, telur, dan ikan. Hal ini memastikan MBG tidak hanya mengenyangkan siswa, tetapi juga memberdayakan petani, UMKM, dan menyerap puluhan tenaga kerja lokal.

Pemusatan dapur ini sama sekali tidak mengesampingkan peran sekolah. Institusi pendidikan tetap memegang peran vital dalam memastikan distribusi makanan sampai ke tangan anak tepat waktu dan disantap bersama dalam kondisi baik.

Menutup keterangannya, Safrizal mendesak pemerintah daerah dan BGN tetap konsisten pada kebijakan awal. Jika ingin program ini aman dan sukses, pelaksanaannya tidak boleh setengah-setengah dan harus difokuskan murni di fasilitas SPPG.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi