Katacyber.com | Meulaboh, Minggu 26 Juli 2026 – Bagi Sawidah (34), menjadi seorang guru bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa. Sejak tahun 2022, ia mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di Gampong Sikundo, sebuah wilayah pelosok di Kabupaten Aceh Barat.
Langkah kakinya ke Sikundo bermula dari sebuah pilihan sadar. Sebagai seorang guru bakti (honorer), Sawidah awalnya berharap bisa mengajar di wilayah ibu kota Kecamatan Pante Ceurmen. Namun, takdir berkata lain saat kepala sekolah menawarkan sebuah tantangan: mengisi kekosongan guru di pelosok Sikundo. Dengan ketetapan hati yang mantap, ia menjawab, “Saya siap ditempatkan di mana saja.”
Setibanya di sana, rasa iba langsung menyergap hatinya. Siswa di sekolah ini memang bisa dihitung dengan jari, namun hak mereka untuk mendapatkan pendidikan sama besarnya dengan anak-anak di kota. “Anak-anak di sini sangat membutuhkan perhatian dan ilmu. Saya harus ada untuk membakar semangat belajar mereka,” ungkap Sawidah.
Dedikasi ini harus ditebus dengan perjuangan hidup yang berat. Sebagai guru bakti, Sawidah praktis bekerja tanpa gaji tetap yang layak. Honor yang ia terima hanya berkisar Rp300.000 per bulan, yang bersumber dari kebijakan dan kebaikan hati kepala sekolah. Uang sekecil itu harus ia putar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menghidupi keluarganya.
Demi menyambung hidup selepas jam mengajar, Sawidah menanggalkan baju gurunya. Ia membaur bersama ibu-ibu desa untuk buruh memetik cabai di kebun warga. Pekerjaan serabutan ini ia lakoni tanpa gengsi demi menutupi kebutuhan ekonomi yang serba kekurangan.
Tempat tinggalnya pun terus berpindah. Awalnya ia menetap di Dusun Durian, lalu dipindahkan ke rumah dinas sekolah di Dusun Sarah Sereu. Namun, karena rumah dinas tersebut sedang direhabilitasi, ia kini terpaksa menumpang di rumah kakeknya.
Kehidupan sang kakek yang memprihatinkan secara ekonomi kian menambah beban psikologis Sawidah, mengingat dirinya sendiri berada dalam jerat kemiskinan yang sama.
Tantangan geografis Sikundo kian memperumit keadaan. Pasca banjir besar yang melanda wilayah tersebut, jembatan utama yang biasa menjadi akses transportasi warga terputus total. Kini, satu-satunya urat nadi yang tersisa adalah sebuah jembatan tali yang sangat ekstrem.
Setiap hari, warga dan guru harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai di atas dua utas kabel, kabel baja sebagai pijakan kaki dan seutas kabel listrik sebagai pegangan tangan. Di atas tali yang berayun itulah, Sawidah membawa harapan anak-anak pelosok agar tidak terputus.
Hampir lima tahun mengabdi di bawah atap sekolah yang kini berstatus swasta, setelah sebelumnya sempat berstatus negeri. Sawidah menyimpan harapan besar. Di sekolah tempatnya mengajar, seluruh tenaga pendidik adalah guru bakti, dan hanya kepala sekolah yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Melalui kisahnya, Sawidah menitipkan pesan mendalam bagi pemangku kebijakan. Ia tidak meminta pejabat untuk sering-sering datang meninjau. Ia hanya memohon agar pemerintah benar-benar hadir memberikan perhatian nyata bagi kesejahteraan guru-guru di pelosok.

Selain itu, ia sangat berharap status sekolah Sikundo dapat dikembalikan menjadi sekolah negeri, agar masa depan pendidikan anak-anak di Gampong Sikundo mendapat jaminan yang lebih layak. Bagi Sawidah, ruang kelas di pelosok Aceh Barat bukan tempat mencari materi, melainkan ladang pengabdian tempat ia menyemai masa depan bangsa, meski harus dibayar dengan keringat dan air mata. (GM)
























































Leave a Review