Katacyber.com | Banda Aceh – Puluhan mahasiswa asal Simeulue yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Simeulue (GMS) menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Aceh, Rabu (26/11/2025). Dengan membawa poster, mimbar bebas, dan suara lantang, mereka menyuarakan kegelisahan masyarakat pulau terluar yang selama ini merasa dianaktirikan dalam pembangunan daerah.
Aksi ini dipimpin aktivis muda Alwan Samri, yang menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan jeritan masyarakat Simeulue yang sudah terlalu lama menunggu perhatian pemerintah.
“Kami menyampaikan aspirasi masyarakat terkait kebutuhan dasar yang sangat krusial. Simeulue butuh perhatian khusus dari pemerintah Aceh,” tegas Alwan di tengah orasi yang disambut lantang mahasiswa lainnya.
Tiga Tuntutan Utama: Kapal, Jalan, dan Irigasi
Dalam aksinya, GMS mengajukan tiga tuntutan utama yang selama ini menjadi keresahan masyarakat:
1. Membatalkan wacana pengalihan rute KMP Aceh Hebat 1 ke lintasan Grueng Keukeu–Penang yang dinilai akan merugikan mobilitas warga Simeulue.
2. Menuntaskan pembangunan jalan lingkar Simeulue, terutama di Kecamatan Alafan dan Simeulue Barat, yang kondisinya jauh dari kata layak.
3. Segera menyelesaikan irigasi Desa Sigulai, proyek bernilai Rp 174,2 miliar yang disebut sudah 80 persen rampung namun belum juga berfungsi.
Pemerintah Aceh Tak Hadir: “Ada Apa?”, Tanya Alwan saat berorasi di depan gedung Perintah Aceh.
Mahasiswa sempat meminta dialog terbuka dengan pejabat Pemerintah Aceh. Namun hingga lebih dari satu jam menunggu, tak satu pun pejabat hadir, meski sebelumnya dijanjikan Sekda maupun Kadishub akan menemui massa aksi.
“Kami menunggu lebih dari satu jam. Katanya Sekda dan Kadishub akan datang, tapi tak ada tanda-tandanya. Ada apa dengan pemerintah Aceh?” ujar Alwan kecewa.
Alwan juga menyoroti betapa parahnya kondisi jalan lingkar Simeulue yang sudah bertahun-tahun rusak parah. Warga, termasuk orang tua mereka, harus menyusuri jalan kerikil dan berlubang setiap hari demi mencari nafkah.
“Ini bukan hanya soal KMP Aceh Hebat. Jalan lingkar di Alafan dan Simeulue Barat sangat memprihatinkan. Bertahun-tahun hanya janji politik—sementara rakyat menanggung risiko setiap hari,” katanya.
Sementara itu, irigasi Sigulai yang sangat dinantikan petani belum juga berfungsi penuh. Padahal jika selesai, irigasi ini disebut akan mendorong produksi pertanian dan ekonomi lokal.
“Irigasi Sigulai penting untuk kesejahteraan masyarakat. Kalau sudah 80 persen, kenapa belum tuntas? Pemerintah harus serius,” tegasnya.
Alwan menegaskan bahwa perhatian terhadap daerah terpencil harus menjadi prioritas pemerintah Aceh.
“Jangan sampai kami terus terlupakan di sudut pulau ini. Simeulue berhak mendapat keadilan pembangunan,” ujarnya.
GMS berharap aksi ini menjadi momentum bagi pemerintah Aceh untuk membuka mata dan bertindak cepat.
“Semoga suara kami tidak hanyut tertiup angin laut pulau terluar Sumatra. Kami akan terus bersuara untuk keadilan,” tutup Alwan.
Aksi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah Aceh—bahwa Simeulue tak boleh lagi dipandang sebelah mata. Masyarakat menunggu, dan mahasiswa telah menggedor pintu dengan tegas. (*)

























































Leave a Review