Peta politik kampus Universitas Syiahkuala (USK) kembali memanas. Suasana akademik yang biasanya tenang kini berdenyut oleh dinamika baru; pemilihan rektor, nama-nama calon rektor USK berhamburan ke publik. Di pemberitaan media dan forum-forum resmi, tersimpan riuh yang lebih besar stratak para calon, manuver para pendukung, dan tak menutup kemungkinan berbagai kepentingan yang mulai saling bersilangan. Kampus USK, yang seharusnya menjadi rumah ilmu dan nalar kritis, seolah berubah menjadi miniatur gelanggang kekuasaan. Di sini, strategi dan taktik bukan lagi milik politisi, tapi juga milik akademisi. Meskipun lobi-lobi politik terhadap elite partai politik adalah kunci “pemenangan”.
Menarik melihat bagaimana setiap figur mulai bergerak dengan caranya masing-masing. Ada yang tampil dengan citra visioner, menebar gagasan besar tentang masa depan kampus, ada yang lebih memilih jalan senyap tapi pasti dengan membangun jaringan ke segala arah. Tak sedikit pula yang memainkan politik simbolik seolah mewakili suara moral, padahal tengah mengatur langkah strategis untuk menjaga pengaruh. Semua ber-stratak, semua menata langkah, dan semua berharap dapat restu dari sistem yang lebih besar.
Namun di tengah hiruk pikuk itu, publi perlu berhenti sejenak dan bertanya; apa sebenarnya makna pemilihan rektor bagi kampus dan bagi mahasiswa? Apakah ini benar-benar kontestasi gagasan untuk kemajuan akademik, atau sekadar perebutan kursi yang dibungkus dengan narasi kemuliaan ilmiah? Pertanyaan sederhana ini penting, karena terlalu sering proses yang mestinya akademik justru berubah menjadi ritual formalitas, di mana demokrasi kampus kehilangan ruh kritisnya.
Sebagai mahasiswa, para mahasiwa setempat harus berani memandang pemilihan rektor bukan dari wajah para kandidat, melainkan dari nilai epistemologi politik yang mereka bawa. Kampus tersebut tidak butuh sosok yang hanya pandai berpidato tentang visi, tapi tidak punya rekam jejak membela integritas akademik, terlebih mampu menjadi leader keilmuan di tengah musim kemunafikan politik yang semakin merajalela. Publik butuh pemimpin kampus yang memahami bahwa kekuasaan di perguruan tinggi bukanlah alat kontrol, melainkan amanah untuk membuka ruang berpikir yang lebih bebas dan kritis, hari ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kampus telah kehilangan daya perannya untuk menstimulus peradaban politik daerah yang semakin liar. Sebab rektor sejati bukan yang ditakuti, tapi yang dihormati karena keberpihakannya pada kemerdekaan suara publik; kebenaran dan keadilan yang cenderung lumpuh di kaki tangan penguasa.
Sayangnya, realitas politik kampus tidak selalu seideal itu. Dalam setiap pemilihan, selalu ada tarikan kepentingan dari birokrasi, dari kelompok akademik, bahkan dari aktor eksternal yang ingin menitipkan pengaruh. Di sinilah stratak mulai bekerja. Ada yang membangun koalisi diam-diam (meski ketahuan ke publik) ada yang memainkan citra kebersahajaan untuk menarik simpati, dan ada pula yang sengaja memanfaatkan isu-isu moral untuk menutupi ambisi politiknya. Semua tampak elegan di permukaan, tapi di bawahnya penuh perhitungan dan “lelucon akademik”.
Sebagian besar mahasiswa mungkin tidak terlalu peduli dengan dinamika ini. Tetapi bagi mereka yang masih menjaga nalar idealismenya dan prinsip menjaga marwah keilmuan di hadapan kekuasaan yang korup penuh intrik, politik kampus harus diawasi oleh mahasiswanya-oleh publiknya, terlebih kampus tersebut adalah berspirit jantung dan hati rakyat Aceh, orkestra pemilihan rektor USK jangan lupa pada militansi sejarah Aceh. Karena di balik pemilihan rektor, ada arah besar yang akan menentukan; apakah kampus tersebut akan menjadi ruang yang kritis dan bebas, atau justru menjadi lembaga yang tunduk patuh pada kekuasaan dan kepentingan sesaat. Jika mahasiswa diam, maka sikap sedemikian sedang membiarkan ilmu dikalahkan oleh kepentingan, dan kampus kehilangan fungsinya sebagai penjaga nurani bangsa.
Pemilihan rektor USK seharusnya menjadi momentum refleksi bagi seluruh sivitas akademika, dan ruang pelecut militansi mahasiswa. Ia adalah ruang untuk menguji gagasan, bukan arena menjual citra, apalagi melobi dan tunduk atas perintah elite politik yang hanya memikirkan kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara. Kontestasi pemilihan rektor USK tahun 2025 adalah ajang untuk menakar integritas, bukan menegosiasikan jabatan; “kalau menang dapat ini, sudah duduk dapat itu”.
Hari ini, semua tampak seperti panggung politik dengan strategi komunikasi, lobi, dan pencitraan yang sangat matang. Tidak salah memang, tapi menjadi berbahaya ketika semua strategi itu mengorbankan nilai utama; kejujuran intelektual.
Untuk mahasiswa, tidak menolak stratak licik. Sebab politik kampus memang menuntut pada multi strategi. Namun, yang kita tolak adalah stratak tanpa etika taktik yang membelakangi nilai keilmuan, mengganti idealisme dengan kalkulasi kekuasaan. Politik tanpa nilai hanya akan melahirkan kepemimpinan yang dingin, kering, dan jauh dari semangat kemerdekaan akademik.
Itulah mengapa ruang publik kampus harus tetap hidup, berani dan merdeka. Forum-forum terbuka, diskusi, dan ruang debat antar-gagasan harus dihidupkan kembali. Jangan biarkan pemilihan rektor USK hanya berlangsung di ruang tertutup yang tak bisa disaksikan mahasiswanya, mahasiswa bukan anak kecil yang selalu dikondisikan untuk diberikan makanan bergizi gratis. Tetapi, mahasiswa adalah bagian instrumen transparansi dan elegansi akademik di kampus. Karena hanya dengan keterbukaan, publik dapat tahu dan paham siapa yang benar-benar punya gagasan, dan siapa yang hanya bermain peran.
Hari ini, semua sedang ber-stratak. Dan itu sah, selama masih dalam koridor nilai. Tapi jangan lupa, setiap taktik akan diuji oleh waktu, dan setiap ambisi akan diadili oleh sejarah. Kampus boleh menjadi ruang kompetisi, tapi jangan pernah dibiarkan kehilangan nurani.
Sebab pada akhirnya, jabatan datang dan pergi, tapi integritas akan dikenang. Sejarah kampus tidak akan mencatat siapa yang paling lihai bermanuver, melainkan siapa yang paling berani menjaga idealisme, keberanian dan kemerdekaan. Atau idealisme itu sudah menjadi mitos dalam pemilihan rektor USK hari ini?
Maka kepada seluruh mahasiswa, publi Aceh senantiasa tetap membuka mata hati. Jadilah saksi yang kritis, bukan penonton yang pasif. Tugas kita bukan memilih siapa yang berkuasa, tapi memastikan bahwa kekuasaan di kampus tetap berpihak pada kebenaran, kejujuran, dan kebebasan berpikir di era penuh birokrasi manipulatif dan koruptif.
Dan ketika nanti semua stratak terbuka, waktu akan menunjukkan; siapa yang benar-benar berjuang untuk ilmu, dan siapa yang sekadar memperjuangkan kursi.
Dan pada akhirnya, siapa pun yang akan memimpin nanti, mahasiswa akan tetap menjadi cermin sekaligus pengingat. Bahwa jabatan rektor bukanlah singgasana kehormatan, melainkan amanah untuk menjaga marwah kampus dari praktik pembungkaman yang terselubung. Bahwa kekuasaan di dunia akademik tidak boleh menjauh dari nurani keilmuan dan kebebasan berpikir. Karena ketika kampus kehilangan idealisme, maka lahirlah generasi yang pandai meniru, tapi takut berpikir.
Maka mari kita saksikan bersama stratak para calon rektor USK dengan kepala dingin dan hati jernih. Biarkan mereka beradu gagasan, bukan saling menjatuhkan. Biarkan mereka berlomba menunjukkan karya, bukan pencitraan. Dan biarkan mahasiswa menjadi saksi yang kritis, yang menilai dengan pikiran, bukan dengan kedekatan.
Sebab sejatinya, di balik setiap stratak ada arah sejarah yang sedang ditulis. Dan kelak, sejarah itu akan menilai; siapa yang berjuang demi martabat ilmu, dan siapa yang sekadar memperjuangkan kekuasaan.
*Penulis adalah mahasiswa yang gandrung kemerdekaan berfikir di perguruan tinggi























































Leave a Review