Maju, Bukan Mundur: Cara Unik Masyarakat Bangka Belitung Menanam Padi

Oleh : Harmin, Ebin, Ilham Rizki Juliansyah Tim Riset Mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung

Menanam padi bagi masyarakat lokal Bangka Belitung terutama Desa Pangkal Niur bukan hanya urusan pangan, melainkan cara hidup. Di tengah derasnya arus modernisasi dan program pertanian berorientasi produksi, mereka tetap berpegang pada tradisi berume menanam padi di lahan kering dengan kearifan yang diwariskan turun-temurun. Dalam pandangan sebagian pihak, cara ini dianggap “kuno”, tidak efisien tidak efektif pada produktivitas. Namun, justru di balik kesederhanaannya, berume menyimpan pelajaran penting tentang hubungan manusia dengan alam dan keberlanjutan hidup yang sejati.

Kebijakan pembangunan pangan nasional, seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2024, memang berfokus pada peningkatan produksi melalui teknologi modern. Langkah ini tentu positif, tetapi ada satu hal yang kerap luput: tidak semua daerah memiliki karakteristik lahan dan budaya yang sama. Ketika modernisasi seperti alsintan (alat dan mesin pertanian) pertanian di Bangka Selatan gencar diarahkan pada padi sawah yang secara produktivitas lebih tinggi, mayoritas masyarakat Pangkal Niur tetap memilih jalan berbeda bertahan dengan padi ladang. Pilihan ini bukan bentuk perlawanan terhadap kebijakan negara, melainkan bentuk kesetiaan terhadap cara hidup yang telah terbukti selaras dengan alam dan kebutuhan mereka.

‎Di ladang-ladang kering itu, berume mengajarkan filosofi penting: bahwa menanam bukan sekadar menumbuhkan padi, tetapi juga menumbuhkan nilai. Nilai kebersamaan ketika warga bergotong-royong membuka lahan, menugal dan memanen. Selain itu, nilai penghormatan terhadap tanah juga turut direalisasikan, bagi masyarakat Pangkal Niur tanah/lahan/ adalah kebebasan. Artinya, ketika masyarakat masih memiliki tanah maka mereka masih merdeka, masih memiliki harapan untuk menjalankan kehidupan sebagai petani. Semua itu membentuk habitus sosial yang menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungannya. Dalam konteks modern, tradisi ini adalah bentuk keberlanjutan yang lahir dari pengalaman, bukan sekadar teori pembangunan.

Menanam harapan di tengah perubahan
Namun, menjaga tradisi di tengah perubahan zaman tentu bukan perkara mudah. Ekspansi perkebunan sawit, penyempitan lahan, serta perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan berume. Sementara itu, perhatian pemerintah terhadap pertanian ladang sering kali minim, karena paradigma kebijakan masih berfokus pada pertanian sawah. Akibatnya, masyarakat Pangkal Niur seolah berjalan sendiri, mempertahankan sistem pangan mereka tanpa dukungan struktural yang memadai.

‎Padahal, dalam konteks krisis pangan global dan perubahan iklim yang makin tidak menentu, berume justru menyimpan potensi besar. Sistem pertanian ladang ini terbukti lebih adaptif terhadap iklim tropis, tidak bergantung pada irigasi buatan, dan memanfaatkan pengetahuan ekologis lokal. Ketika sawah-sawah gagal panen akibat kekeringan, ladang-ladang berume masih mampu menghasilkan padi yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Di sinilah letak kebijaksanaan yang kerap diabaikan oleh kebijakan modern: kearifan lokal sering kali menawarkan solusi berkelanjutan yang lahir dari keseimbangan antara manusia dan alamnya.

‎Masyarakat Pangkal Niur sadar bahwa mempertahankan tradisi bukan berarti menolak kemajuan. Mereka hanya tidak ingin masa depan pertanian mereka sepenuhnya ditentukan oleh mesin, pupuk kimia, atau bibit rekayasa yang belum tentu cocok dengan kontur tanah dan tradisi masyarakat. Bagi mereka, menanam padi adalah menanam harapan-harapan agar anak cucu masih bisa menghirup udara bersih, menyentuh tanah yang hidup, dan memakan beras dari hasil tangan sendiri. Itulah sebabnya mereka menolak tawaran perusahaan untuk membeli lahan mereka kemudian mengubahnya menjadi kebun sawit, meski secara ekonomi tampak lebih menguntungkan.

‎Jika pemerintah daerah mau melihat lebih jauh, berume sesungguhnya bukan simbol keterbelakangan, tetapi penjaga diversifikasi pangan dan identitas budaya. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, tradisi ini dapat menjadi pelengkap, bukan pesaing, bagi sistem pertanian modern. Kolaborasi yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat adat bisa melahirkan model pertanian hibrida: menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi teknologi sederhana, tanpa menghilangkan ruh budaya yang sudah lama hidup.

Menanam ke Depan
Menanam ke depan berarti membuat lubang dengan galah mengarah ke depan serta memasukan beberapa benih padi dalam lubang dengan cara jalan jongkok ke arah depan. Justru dari menanam ke depan inilah yang membuat pertanian padi ladang di Bangka Belitung menjadi unik berbeda dengan di Pulau Jawa yang menanam dengan cara mundur ke belakang, juga sekaligus menjaga tradisi sejak zaman nenek moyang. Tradisi berume menunjukkan bahwa masa depan terutama pangan tidak hanya dibangun dari beton, data, dan mesin, tetapi juga dari kebijaksanaan yang hidup dalam masyarakat. Mungkin skala produksinya kecil, tetapi nilai yang ditanam jauh lebih besar: kemandirian, solidaritas, dan keharmonisan dengan alam.

‎Dalam dunia yang semakin terjebak pada logika efisiensi dan laba, masyarakat Pangkal Niur mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bukan berarti menyingkirkan tradisi, melainkan menumbuhkan masa depan di atas nilai-nilai yang telah teruji oleh waktu. Maka, ketika mereka menanam padi di ladang kering, sejatinya mereka sedang menanam masa depan yang lebih hijau, lebih manusiawi, dan lebih bermakna. Tradisi seperti berume bukanlah langkah ke belakang ia adalah cara lain untuk melangkah ke depan, dengan pijakan yang lebih arif.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi