Rimbun Hutan, Deras Sungai, dan Gurat Sejarah: Mengetuk Pintu Kearifan Kuk Meurah Kundo

Katacyber.com: Wahab atau akrab disapa Kuk Meurah Kundo. (GM)

Katacyber.com | Meulaboh, Kamis 23 Juli 2026 – Hamparan rimbun hutan Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, menyimpan sejuta cerita, sejarah dan kehidupan. Di pelosok  Desa tersebut tersirat cerita menarik dari seorang kakek paruh baya bernama Wahab. Pria berusia 93 tahun ini lebih akrab disapa oleh masyarakat setempat dengan nama takzim “Kuk Meurah Kundo”. Sehari-hari, ia menjalani kehidupan bersahaja sebagai petani yang menggantungkan hidup dari tanah leluhur. Dengan langkah yang masih menyiratkan sisa-sisa kekuatan masa muda, Kuk Meurah Kundo rutin membelah kesunyian hutan untuk merawat kebun cabai, memanen tebu, serta membabat semak belukar demi menjaga produktivitas lahan pertaniannya.

Kehidupan di pedalaman Sikundo bukanlah perkara mudah bagi seorang lansia seangkatannya. Untuk terhubung dengan dunia luar atau sekadar bersilaturahmi dengan kerabat di Dusun Durian, Kuk Meurah Kundo harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan tali darurat. Jembatan gantung yang ekstrem ini hanya terbuat dari jalinan kabel listrik bekas dan tali baja seadanya, membentang di atas sungai yang arusnya bisa berubah ganas kapan saja. Namun, bagi sang kakek, rintangan geografis tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritme hidup yang ia jalani selama puluhan tahun.

Baca juga:  https://katacyber.com/warga-sikundo-bertaruh-nyawa-seberangi-jembatan-kabel-pascabencana-demi-sekolah-dan-tani/

Di balik kesederhanaan pakaian dan gubuknya, tersimpan sebuah misteri besar yang menyelimuti figur legendaris ini, yaitu tentang usia aslinya. Berdasarkan data administratif pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kuk Meurah Kundo tercatat lahir pada 6 Januari 1933. Kendati demikian, beliau beserta seluruh anggota keluarganya memiliki keyakinan kuat bahwa usia biologis sang kakek jauh lebih tua daripada angka yang tertera di dokumen negara. Narasi sejarah lisan dan ingatan kolektif keluarga menjadi bukti kuat bahwa garis waktu kehidupannya telah melampaui catatan formal birokrasi.

Salah satu fragmen ingatan yang paling mengakar dalam benak Kuk Meurah Kundo adalah masa pendudukan Jepang di tanah Rencong. Sambil menerawang masa lalu, ia mengisahkan momen dramatis saat sekelompok pejuang kemerdekaan Aceh mendatanginya untuk ikut serta mengangkat senjata mengusir tentara Jepang. Sayangnya, ajakan heroik itu terpaksa ia tolak secara halus. “Saat itu saya masih terlalu mudah dan seiring berjalannya waktu juga baru saja menyelesaikan kewajiban yaitu khitan dan baru menginjak usia sekitar 10 atau 15 tahun,” kenang Kuk Meurah Kundo.

Kisah penolakan masa kecil ini menjadi bukti autentik bahwa ia telah menyaksikan langsung riak-riak perang pasca-kolonial di usia yang sangat belia. Selain dikenal sebagai petani tangguh dan saksi hidup sejarah, Kuk Meurah Kundo memegang peran spiritual yang sangat dihormati di kampungnya. Ia kerap didatangi warga setempat untuk dimintai doa kesembuhan melalui tradisi pengobatan alternatif khas Aceh yang disebut “meurajah”. Di tengah keterbatasan akses fisik dan infrastruktur menuju fasilitas kesehatan modern, kehadiran sosok sesepuh seperti Kuk Meurah Kundo menjadi oase penyejuk sekaligus pilar tradisi yang menjaga warisan spiritualitas Islam purba tetap hidup di pedalaman.

Saat berbincang mengenai masa depan, gurat wajah Kuk Meurah Kundo berubah menjadi sangat serius, terutama ketika menitipkan pesan kepada generasi muda Aceh Barat, khususnya generasi muda Gampong Sikundo. Ia mengingatkan bahwa tanah yang mereka pijak hari ini ditebus dengan tetesan darah dan air mata. Gampong Sikundo memegang tempat keramat dalam lembaran sejarah perjuangan, salah satunya menjadi benteng pertahanan terakhir sekaligus tempat persembunyian pahlawan nasional, Cut Nyak Dhien, saat bergerilya melawan agresi militer Belanda. Jejak keberadaan sang srikandi bahkan masih terawat dalam bentuk pohon durian peninggalannya yang kini tumbuh subur di gampong tersebut.

Menutup kisah singkatnya, Kuk Meurah Kundo menyelipkan petuah mendalam agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah gempuran zaman modern. Beliau menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik, merawat kebudayaan asli Aceh, serta yang paling utama adalah memperkokoh pondasi keimanan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Bagi Kuk Meurah Kundo, melestarikan Gampong Sikundo bukan sekadar menjaga sejengkal tanah dari erosi, melainkan merawat martabat, sejarah besar, dan benteng spiritualitas yang akan diwariskan kepada anak cucu di masa depan. (GM)

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi